bernasnews – Sekretaris Jendral (Sekjen) Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, membuka acara Konferda dan Konfercab se – Daerah Istimewa Yogyakarta bertempat di Sleman City Hall pada Sabtu (6/12/2025).
Pelaksanakan Konferda dan Konfercab se – DIY dan juga dilaksanakan serentak di Garasi Bayu Jakarta. Konferda dan Konfercab ini berlangsung di tengah bencana nasional, yang di picu oleh persoalan – persoalan ekologis.
‘Karena hal tersebut Ibu Megawati Soekarnoputri menitipkan pesan tentang pentingnya politik lingkungan, terutama melalui Gerakan Merawat Pertiwi agar seluruh kader menjadi pelopor dalam mewayu hayuning bawono – menjaga harmono dan keselamatan bumi,” tutur Hasto.
” Konferda dan Konfercab ini menjadi momentum bagi partai untuk melakukan evaluasi menyeluruh, konsolidasi organisasi, serta merumuskan sikap politik dan program – program partai, termasuk memetakan pandangan PDI Perjuangan mengenai masa depan Jogja, Indonesia, dan percepatan terwujudnya masyarakat adil dan makmur,” Tambahya.
Sekjen juga mengatakan pada Konferda dan Konfercab ini, juga akan di bentuk susunan personalia kepengurusan yang diharapkan menjadi representasi partai dengan memperhatikan aspek – aspek demografis yang penting bagi konsolidasi kader di tingkat akar rumput. Karena kegiatan ini berlangsung di Yogyakarta – Kota budaya yang memiliki signifikansi historis dan ideologis bagi Indonesia, kami juga menjadikannya momentum untuk melakukan kontemplasi.
“Kami mengingatkan seluruh kader agar menempatkan rakyat sebagai sumber inspirasi perjuangan partai, nilai moral perjuangan Bung Karno dan Ibu Megawati tetap relevan sebagaimana contoh kemenangan Soran Mamdani di New York yang menunjukkan bahwa kekuatan ide, imajinasi, dan dukungan akar rumput dapat menandingi kekuatan modal dan elit politik. Itulah garis perjuangan PDI Perjuangan, berani menyuarakan kebenaran,” tambahnya.
Ia juga menuturkan terkait Yogyakarta sebagai Kota budaya, kami juga mengingatkan kembali bahwa ketika Indonesia baru merdeka dan menghadapi ancaman stabilitas, Ibu Kota Republik Indonesia pindah ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946 hingga 31 Desember 1949. Karena itu, Ibu Megawati menawarkan beasiswa S2 dan S3 bagi mereka yang meneliti proses konsolidasi negara yang berlansung di Yogyakarta pada masa kritis tersebut, bagaimana Indonesia mampu bertahan menghadapi berbagai tekanan dari peristiwa 10 November 1945 hingga Serangan Umum 1 Maret, sampai akhirnya memperoleh kedaulatan penuh.
Kajian akademis tentang periode penting dan perlu di petkuat agar semangat ” Jas Merah Jangan Sekali – kali Meninggalkan Sejarah ” benar – benar hidup dalam kerja – kerja politik kita.
Hasto menambahkan, terkait peneguhan sikap politik, nilai mewayu hayuning bawono tidak hanya menjadi pedoman filosofis tetapi juga di terjemahakan dalam kebijakan teknokratik dan kultur organisasi.
Seperti hal nya Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo menegaskan komitmen untuk merawat sungai, menjaga lingkungan, dan memperbanyak ruang hijau Kota. Dalam rangka HUT Partai, kami akan menggerakkan kader untuk membersihkan Sungai Code Winongo, dan Gajah Wong, karena sungai adalah jalur peradaban yang harus kita jaga. Bencana hari ini, membuktikan bahwa kita telah mengabaikan tugas merawat bumi dan merawat Pertiwi,” tutup Hato.
Sementara itu, Ketua DPD PDI Perjuangan DIY, Nuryadi, mengatakan kegiatan ini menjadi bukti solidaritas seluruh elemen partai ini sekaligus memastikan mesin organisasi kita bergerak serentak dari akar rumput hingga tingkat DPD.
Ia menyebut, dalam Konferensi Daerah (Konferda) dan Konfrensi Cabang, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan DIY, memilih tema ” Berderap Dalam Satu Rampah Barisan “. Tema ini bukan hanya sebuah slogan, melainkan sebuah penegaskan filosofi bahwa perjuangan politik kita harus didasari prinsip kebenaran, integritas, dan kepercayaan kepada rakyat.
Bergerak dalam satu barisan menjadi penekanan bagi kita semua, bahwa kita senantiasa dalam satu barisan dengan niat yang sama untuk memajukan rakyat dan kebesaran PDI Perjuangan.
Nuryadi, menambahkan kami memohon kepada Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, bisa memberikan arahan politik pada kami. Bahwa di akhir masa jabatan kami tentunya akan membuat catatan sendiri, karena bagaimanapun kami diberikan waktu lima tahun lebih ini kami belum bisa apa – apa, kami belum bisa berbuat seperti kehendaknya DPP. Kami siap untuk di evaluasi, bahkan kami siap untuk dengan tugas – tugas kepemimpinan yang baru untuk ke depannya,” ungkap Nuryadi. (Nun)











