bernasnews – Kalau ada pasangan suami isteri (pasutri) yang berbahagia pada hari Senin 8 Desember 2025 (salah satunya) adalah Petrus Suleman (76) dan Theresia Saminem (70). Umat Paroki Gereja Santo Yakobus Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta ini memperingati lima puluh tahun atau “seket taon” perkawinan.
Momentum istimewa itu dirayakan dalam “Misa Syukur 50 Th Ulang Tahun Perkawinan” di Gereja Santo Yakobus, Jalan Mgr. Sugiyo Pranoto No 1 Bantul, Senin (8/12) pukul 18.00 WIB. Misa Konselebrasi dipimpin oleh Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC. dan salah satu pastornya adalah putera sulung pasutri itu yakni Romo Paulus Sunu Sukmono Wasi.
Keistimewaan lain dari momentum peringatan “seket taon” perkawinan mereka adalah bertepatan dengan peringatan Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda. Ini sebuah perayaan yang menegaskan bahwa Maria sejak dia dikandung telah dilindungi dari segala noda dosa asal. Hal ini berkat jasa-jasa Puteranya yakni Yesus Kristus Sang Penebus.
“Ya kami bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas anugerah kasih yang luar biasa ini. Selain itu, kami juga berterima kasih atas dukungan dan kebersamaan anak-anak dan keluarga serta para pihak,” kata Petrus Suleman kepada bernasnews di kediamannya Magersari, Pringgading RT 6 Guwosari, Pajangan, Bantul, Senin (8/12).
Ketika bernasnews berkunjung ke kediamannya yang asri dan penuh tetumbuhan, terlihat ada beberapa anggota keluarga sedang berbincang-bincang penuh keakraban. Romo Sunu sudah datang terlebih dulu dari Bandung ke Yogyakarta dan memimpin Misa Kudus di Gereja Bantul, Minggu pukul 08.00 WIB.
Menurut bapak dari empat anak putera puteri dan tujuh orang cucu ini, keberadaan dia beserta keluarga sampai detik ini tidak luput dari dukungan dan peran serta Tuhan. Memang perjalanan kehidupan mereka tidak lepas dari peran serta dan dukungan Tuhan. Melalui doa-doa, ibadat dan misa ekaristi yang rutin dilaksanakan, mereka selalu berserah diri dan percaya kepada Tuhan. Selain itu, tetap melaksanakan dinamika kehidupan sehari-hari dengan penuh semangat.
Menurut Petrus dan Theresia, makna perkawinan dan keluarga bagi mereka adalah karunia Tuhan yang tidak ternilai dan harus dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab. Mereka menyatakan berterima kasih dapat hidup sederhana namun tetap merasakan kebahagiaan.
“Pasangan suami isteri itu harus selalu menyayangi, saling mendukung, saling ngemong. Senantiasa pinaringan sehat, kuat, semangat dan sabar. Selain itu, pasutri harus saling memberikan perhatian kepada pasangan, kasih sayang dan tanggungjawab. Kalau bicara ke keluarga juga dilembutkan,” kata Theresia Saminem seraya tersenyum.
PNS DAN ABDI DALEM KRATON
Petrus Suleman yang juga aktif di Paguyuban Adiyuswa Manungal di tiga lingkungan (Yohanes Rasul, Barnabas dan Helena) ini memulai kariernya sebagai pegawai negeri sipil (PNS) Golongan IIB di Dinas Peternakan Pemerintah Kota Yogyakarta tahun 2005 dan 32 tahun kemudian dia pensiun.
Selain itu, sejak tahun 1968 dia juga tercatat sebagai abdi dalem di Kraton Yogakarta yang mengurusi sesaji di kraton dan menyusun anggarannya. Dia memulai pangkat Jajar dan akhirnya memperoleh angerah nama Kangjeng Mas Tumenggung dengan nama baru KMT Hamong Semito Sulaiman.
“Selain mempersiapkan saji-sajian setiap hari di Kraton, bagian kami juga mengurusi acara Tingalan Tahun Usia Sultan, Tingalan Tahun Jumenengan, dan labuhan ke Lawu, Merapi, Parangkrusumo, Dlepuh,” kata dia.
Bagaimana awal mula Petrus dan Theresia bertemu dan kemudian menjalin hubungan lebih akrab? Ternyata mereka adalah teman kerja di sebuah toko fotokopi di Ngasem Yogyakarta.. Petrus yang lahir di Yogyakarta tanggal 29 Agustus 1949 dan Theresia yang lahir di Gampingan, Jogja tanggal 3 Februari 1955 memulai perjumpaan tahun 1970-an.
Selain bekerja di toko, Petrus juga berkarya di Bagian Umum Pemerintah Kota Yogyakarta sebagai tenaga honorer. Kemudian pada tahun 1974 dia diangkat sebagai PNS dan dua tahun kemudian dipindah ke Dinas Peternakan Pemerintah Kota Yogyakarta. (mar)












