bernasnews – Candi Ibu Maria Bunda Penuh Kasih yang telah diberkati dan diresmikan oleh Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko pada tanggal 9 Oktober 2023 terletak di dusun Salam Kenalan, Bangunjiwo, Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Lokasinya tepatnya berada di kompleks pemakaman Sukma Sinukarta, yang juga dilengkapi dengan Columbarium. Columbarium adalah sejenis laci kecil, yang diperuntukkan untuk menyimpan abu dan tulang belulang jazad yang sudah dimakamkan minimal delapan tahun.
Pembangunan kompleks pemakaman Sukma Sinukarta diprakarsai oleh Paguyuban Sukma Sinukarta Jogjakarta (PSSJ). Tanah yang pada awalnya seluas 8.307 meter persegi, sekarang sudah berkembang menjadi hampir 9.000 meter persegi, dibeli oleh paguyuban Sukma Sinukarto Jogjakarta dan disertifikasi atas nama PGPM Gereja Pugeran Yogyakarta.
Dr. F.A. Joko Siswanto selaku pengelola Kompleks Pemakaman dan Columbarium Sukma Sinukarta mengemukakan, makam Sinukarto lahir dari keprihatinan adanya satu umat Katolik yang dimakamkan pukul 16.00 WIB di suatu pemakaman umum harus dipindah malam itu juga. Selain itu banyak umat Katolik yang tinggal di kota dan perumahan mengalami kesulitan untuk mendapatkan tempat pemakaman yang layak, baik karena mahalnya biaya pemakaman atau karena lahan pemakaman yang terbatas.
Visi dari Yayasan Sukma Sinukarto adalah membantu mereka yang mengalami kesulitan tersebut dan tidak berorientasi pada bisnis, dengan motto “Mikul Duwur Mendem Jero” atau “Mengharumkan, meluhurkan dan memuliakan para jiwa saudara-saudara yang telah dipanggil Tuhan”
ADANYA CANDI MARIA
Ide pembangunan Candi Ibu Maria Bunda Penuh Kasih yang berada satu kompleks dengan area pemakaman berawal dari keinginan pengurus untuk menghadirkan suasana makam yang bersih, indah dan memberikan kenyamanan bagi para peziarah atau ahli waris yang akan berdoa untuk keluarga yang dimakamkan di sana.
Arsitektur dari Candi Ibu Maria Bunda Penuh Kasih merupakan inkulturasi dari budaya setempat, mengikuti pendahulunya, yakni Candi Hati Kudus Tuhan Yesus di Ganjuran, Bantul yang merupakan pelopor tempat ziarah yang memadukan kearifan lokal.
Bahan utama yang digunakan untuk pembangunan candi berasal dari bata merah, dan bukan batu andesit. Tinggi candi sekitar 9 meter, fasat bangunan terdiri dari tiga bangunan utama, yakni kaki, badan dan kepala. Hal ini melambangkan Tri Tunggal Mahakudus, bermakna Allah yang mewujud dalam tiga pribadi yaitu Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus.
Ruangan utama dalam candi mempunyai luas sekitar 16 meter dan berlantai kayu parqet, dan di sinilah Patung Ibu Maria Bunda Penuh Kasih ditahtakan. Patung Ibu Maria yang dalam kondisi mengandung tanpa noda, memberi pengingat kepada umat akan ketaatan, kepercayaan Bunda Maria, keimanan yang dalam akan kuasa Roh Kudus.
Dr. FA. Joko Siswanto mengemukakan, Makam Sukma Sinukarta, Columbarium, dan juga Candi Ibu Maria Bunda Penuh Kasih dapat terwujud karena adanya kuasa Roh Kudus, melalui tangan tangan para donatur. Pada awal masa pendiriannya, Paguyuban Sukma Sinukarto tidak mempunyai modal sama sekali, atau sangat minim.
Namun percaya akan belas kasih Allah dan kuasa Roh kudus, pengurus terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan diperkuat dengan Doa Novena sejak 17 Agustus 2004, dan terwujudlah apa yang menjadi harapan. Doa Novena masih dijalankan. sampai sekarang setiap bulan ada misa pada minggu pertama pukul 10.00 -11.30 WIB di Columbarium.
Di depan area halaman candi, terdapat beberapa bangku panjang, dimana umat dapat berdoa dengan nyaman, ditemani hembusan angin sepoi dan suara kicau burung yang terbang di antara pepohonan. Pada bagian belakang Candi Ibu Maria Bunda Penuh Kasih terdapat ruang doa yang bernama Panti Semedi, dengan patung Santo Yusuf dan kanak kanak Tuhan Yesus dalam gendongannya.
Ruangan berlantai kayu parqet ini sangat sejuk dan hening, membawa ketenangan bagi siapapun yang berdoa di ruangan tersebut. Hal ini sangat cocok dengan nama yang diberikan, yaitu Panti Semedi, tempat di mana orang dapat berdoa dengan khusyuk, mengarah dan berserah kepada Sang Pemilik Hidup, Tuhan Yang Maha Pemurah dan Pengasih.
Di sisi belakang candi juga terdapat beberapa kran air, dimana umat dapat mengambil air suci. Air ini berasal dari sumber mata air, berupa sumur tua yang ada di sekitar candi, dan dapat dikonsumsi secara langsung, karena sudah melalui proses filterisasi.
Lokasi ini terbuka 24 jam untuk para peziarah, tersedia juga area parkir yang cukup luas. Namun bagi peziarah yang hendak berkunjung secara berombongan atau menggunakan bus besar, ada baiknya menghubungi pengelola, agar dapat diarahkan untuk lokasi parkir kendaraannya.
Toilet bersih juga tersedia bagi pengunjung, bahkan saat ini sedang dibangun juga toilet yang baru untuk para lansia (difable). Pada bulan November 2025 mulai dibangun juga fasilitas berupa pemandian Santa Ana dan Santo. Yoakim, mengadopsi pemandian serupa yang ada di Lourdes, yang penggunaannya disesuaikan dengan kebiasaan masyarakat Indonesia.
Dr. FA. Joko Siswanto menambahkan, ke depannya akan dibangun beberapa fasilitas tambahan di lingkungan tempat ziarah ini, termasuk salah satunya adalah Rumah Duka. (mar/Bernadekta Kushayati Mawartiningtyas, Umat Paroki Gereja Santa Maria Assumpta Gamping, Sleman, DIY)












