Naskah Khutbah Jumat 5 Desember 2025: Kebaikan di Dunia Bekal di Akhirat

Ilustrasi naskah khutbah gerhana Bulan hari ini. (Pixabay.com)

bernasnews – Menjelang pelaksanaan Salat Jumat, khatib biasanya perlu mempersiapkan naskah yang matang agar pesan yang disampaikan tidak hanya runtut, tetapi juga menggugah dan memberikan nilai ibadah bagi jamaah. Khutbah yang baik bukan sekadar ceramah singkat, tetapi sarana penting dalam menyampaikan nilai-nilai Islam yang relevan dengan kondisi umat.

Pada kesempatan ini disajikan contoh naskah Khutbah Jumat 5 Desember 2025 bertema “Kebaikan di Dunia Bekal di Akhirat”. Tema ini dipilih untuk mengingatkan kembali bahwa setiap perbuatan baik, sekecil apa pun, dapat menjadi tabungan amal ketika kita kembali kepada Allah SWT.

Naskah ini bisa dijadikan referensi khatib, disampaikan apa adanya, atau dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat setempat.

Inspirasi Naskah Khutbah Jumat 5 Desember 2025

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman dan kesempatan bagi kita untuk melangkahkan kaki menuju masjid-Nya. Di mimbar ini khatib mengajak jamaah sekalian untuk terus meningkatkan ketakwaan dengan menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Sikap takwa adalah jalan terbaik untuk menjadi hamba Allah yang mulia, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya dalam Surat al-Hujurat ayat 13:

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ
Artinya: Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.

Kebaikan sebagai Rahmat bagi Sesama

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam. Wujud rahmat itu tercermin dari ajaran kasih sayang kepada sesama makhluk, baik manusia, hewan, tumbuhan maupun lingkungan. Salah satu bentuk kasih sayang yang paling mudah dilakukan oleh siapa pun adalah bertutur kata dengan baik.

Ucapan yang penuh kebaikan dapat meninggikan martabat seseorang dan menghadirkan ketentraman baik di mata manusia maupun di sisi Allah SWT. Perintah berbicara baik ini ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 83:

قُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

Artinya: “Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.”

Allah SWT juga menggambarkan bahwa orang-orang beriman yang berbuat kebajikan akan ditempatkan di surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dihiasi gelang emas dan mutiara, serta berpakaian sutera. Mereka adalah orang-orang yang terbimbing untuk berkata baik dan berjalan di jalan yang diridhai. Sebagaimana firman Allah dalam Surat al-Hajj ayat 24:

وَهُدُوا إِلَى الطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ وَهُدُوا إِلَىٰ صِرَاطِ الْحَمِيدِ

Artinya: “Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjukkan (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji.”

Bahkan kepada semua manusia, baik muslim maupun non-muslim, Allah memerintahkan kita untuk memilih kata-kata yang terbaik. Dalam Surat Al-Isra’ ayat 53 Allah berfirman:

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا

Artinya: “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.”

Menjaga Lisan adalah Jalan Selamat

Ayat-ayat tersebut mengingatkan kita untuk mengendalikan lisan. Jika ucapan kita tidak mampu mendatangkan kebaikan, maka diam adalah pilihan yang lebih mulia. Nabi Muhammad SAW memberi pedoman yang sangat jelas tentang hal ini:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya: “Siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengucapkan perkataan yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ucapan kasar, mencaci, merendahkan, atau menyinggung dapat merusak hubungan sosial dan menanamkan rasa benci di hati orang lain. Bahkan banyak bicara yang tidak perlu pun bisa menjadi penyebab tumbuhnya permusuhan. Sebagaimana dikatakan oleh Imam al-Lu’lui dalam syair Adabut Thalab:

وَفِي كَثِيْرِ الْقَوْلِ بَعْضُ الْمَقْتِ

Artinya: “Dalam banyak bicara terdapat sebagian kebencian.”

Imam al-Nawawi pun mengingatkan pentingnya berpikir sebelum berbicara:

يَنْبَغِي لِمَنْ أَرَادَ أَن يَنْطِقَ أَنْ يَتَدَبَّرَ مَا يَقُوْلُ قَبْلَ أَنْ يَنْطِقَ، فَإِنْ ظَهَرَتْ فِيْهِ مَصْلَحَةٌ تَكَلَّمَ، وَإِلَّا أَمْسَكَ

Artinya: “Siapa pun yang hendak berbicara, hendaklah ia mempertimbangkan terlebih dahulu. Jika di dalamnya terdapat manfaat, maka berbicaralah; jika tidak, maka diam lebih baik.”

Kebaikan Sekecil Apa pun Menjadi Penyelamat

Nabi SAW adalah sosok yang sangat menginginkan keselamatan bagi umatnya. Beliau mengajarkan bahwa menghindari api neraka bisa dilakukan dengan kebaikan sekecil apa pun bahkan setengah biji kurma atau melalui perkataan yang baik.

Diriwayatkan dalam hadis sahih Bukhari dan Muslim:

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

Artinya: “Jauhilah neraka meskipun dengan (bersedekah) sepotong kurma; dan jika tidak mampu, maka (hindarilah dengan) berkata-kata yang baik.”

Seseorang yang beriman adalah pribadi yang santun dan tidak mudah melukai orang lain melalui lisannya. Nabi SAW bersabda:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ

Artinya: “Orang yang beriman bukanlah orang yang suka mencela dan mengutuk.”

Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang senantiasa menjaga ucapan, memperbaiki akhlak, dan menjadikan kebaikan sebagai bekal kehidupan akhirat.

Mengapa Khatib Perlu Menyiapkan Naskah Khutbah?

Banyak khatib berpengalaman yang tetap menulis atau membawa naskah khutbah. Berikut beberapa alasannya:

1. Agar pesan tersampaikan secara runtut dan tidak melenceng

Khutbah adalah ibadah yang memiliki struktur jelas. Tanpa naskah, isi khutbah bisa melebar atau kehilangan inti pesan.

2. Membantu menjaga ketepatan dalil

Ayat Al-Qur’an, hadis, atau pendapat ulama harus disampaikan dengan benar. Naskah menghindarkan kesalahan baca atau tafsir.

3. Memastikan materi relevan dengan kondisi jamaah

Dengan menulis, khatib dapat menyesuaikan tema dengan isu sosial, moral, dan keagamaan yang sedang berkembang di masyarakat.

4. Memudahkan penyampaian tema yang mendalam

Beberapa tema membutuhkan penjelasan panjang, runtut, dan ilmiah. Naskah membuat semuanya lebih terstruktur.

5. Mengurangi kemungkinan lupa

Rasa grogi atau tegang bisa membuat khatib lupa urutan materi. Naskah menjadi panduan yang sangat membantu.

6. Bentuk tanggung jawab ilmiah

Khutbah adalah pesan agama yang harus dapat dipertanggungjawabkan. Menulis naskah memastikan bahwa khatib menyampaikan hal-hal yang benar dan valid. (anp) 

***