News  

Harga Cabai Melonjak di Gunungkidul Jelang Nataru, Pemda DIY Tegaskan Cuaca dan Hama Jadi Pemicu Utama

Potret pedagang pasar | Harga cabai di Gunungkidul melonjak hingga Rp80.000/kg menjelang Nataru. (Eln)

bernasnews — Harga cabai di Kabupaten Gunungkidul melonjak hingga mencapai Rp80.000 per kilogram, hanya beberapa minggu menjelang libur Natal dan Tahun Baru.

Kenaikan ini memicu kekhawatiran masyarakat karena cabai merupakan komoditas dapur dengan konsumsi harian tinggi. Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan pemantauan langsung untuk memastikan stabilitas harga dan pasokan.

Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY pada Rabu (3/12) melakukan inspeksi harga di Pasar Playen dan Swalayan Pamela 9. Rombongan dipimpin Kepala Biro Perekonomian dan Sumber Daya Alam DIY, Eling Priswanto, yang meninjau kondisi pasokan sekaligus berdialog dengan pedagang.

Ia menegaskan bahwa kenaikan harga cabai tahun ini mengikuti pola tahunan, tetapi lonjakannya lebih tajam akibat gangguan produksi di daerah pemasok.

“Hari ini harga cabai mencapai sekitar Rp80.000. Ini cukup tinggi, tapi secara pola memang hampir setiap tahun seperti itu,” ujar Eling.

Cuaca Ekstrem dan Hama Jadi Pemicu Utama

Dalam pemaparannya, Eling menyampaikan bahwa dua faktor utama menyebabkan kenaikan harga, yakni cuaca ekstrem dan serangan hama.

Ia menjelaskan bahwa tingginya intensitas hujan pada akhir tahun menurunkan produktivitas tanaman. Situasi lembap juga mempercepat perkembangan hama sehingga merusak tanaman.

“Curah hujan dan serangan hama selalu memengaruhi suplai cabai. Karena produksinya turun, otomatis harganya terdorong naik,” tegas Eling.

Selain cabai, sejumlah komoditas lain seperti wortel, tomat, dan sayuran hijau juga mengalami kenaikan harga ringan sebesar Rp3.000–Rp4.000.

Meski demikian, Eling memastikan bahwa situasi harga secara keseluruhan masih terkendali dan tidak menunjukkan gejolak signifikan.

“Ketersediaan barang tetap aman, walaupun permintaan meningkat mendekati akhir tahun,” tuturnya.

Berkaitan dengan potensi lonjakan lebih tinggi menjelang Natal dan Tahun Baru, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif.

Strategi tersebut meliputi penguatan kerja sama antar daerah, pemetaan wilayah surplus dan defisit, serta pengawasan distribusi agar logistik tidak tersendat.

“Pemerintah harus jeli melihat daerah mana yang surplus dan mana yang minus. Dengan begitu, suplai bisa disalurkan dengan cepat dan tepat,” jelas Eling.

Ia juga menambahkan bahwa operasi pasar dan pasar murah siap digelar apabila kenaikan harga melampaui batas wajar.

Berdasarkan pemantauan, jalur distribusi pangan di wilayah Jawa masih aman dan tidak terdampak bencana besar.

Daftar harga komoditas di Gunungkidul pada awal Desember 2025 antara lain: gula pasir Rp17.000/kg, telur Rp30.000/kg, terigu Rp10.000/kg, beras premium Rp73.300/5 kg, minyak goreng Rp17.000/kg, yam Rp37.000/kg, dan cabai Rp80.000/kg.

Pemerintah Bantah Isu Terkait Program MBG

Menanggapi opini yang mengaitkan kenaikan harga dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Eling menegaskan bahwa program tersebut justru berdampak positif bagi petani dan perekonomian lokal.

Ia mengakui bahwa tata kelola perlu diperbaiki agar tidak terjadi persaingan permintaan antar segmen.

“MBG itu program bagus. Hanya pengelolaannya harus lebih presisi supaya tidak ada potensi rebutan komoditas antara pasar umum, rumah tangga, dan kebutuhan untuk program MBG,” terangnya.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Gunungkidul, Dewi Irawati, yang turut mendampingi TPID, menyampaikan bahwa harga telur dan daging berada dalam kondisi stabil. Telur relatif stabil dan jika ada kenaikan pun sangat kecil dan tidak signifikan.

“Harga daging juga sampai hari ini masih stabil,” ujarnya.

Dewi menegaskan bahwa pemerintah daerah terus memantau perkembangan harga jelang Natal. Ia mengimbau masyarakat agar tidak panik dan tidak melakukan penimbunan.

“Pemerintah selalu siap mengantisipasi. Jika diperlukan, intervensi akan dilakukan baik dari sisi ketersediaan stok maupun stabilisasi harga,” tambahnya.

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul memastikan bahwa distribusi pangan berjalan aman dan lancar tanpa gangguan logistik. Koordinasi antara pemerintah kabupaten dan provinsi terus dilakukan untuk mencegah lonjakan harga mendadak.

“Kami pastikan distribusi aman. Tidak ada gangguan logistik di wilayah Gunungkidul,” ujar Dewi. (Eln)