bernasnews – Upaya penanggulangan tuberculosis (TB) di Daerah Istimewa Yogyakarta memasuki tahap penting melalui pelaksanaan Active Case Finding (ACF) TB berbasis laboratorium yang menyasar ribuan pelaku wisata di kawasan Malioboro dan Keraton.
Pemerintah Daerah DIY menilai langkah ini sebagai gerakan kolaboratif yang menyentuh ruang aktivitas sosial dan budaya Yogyakarta.
Ribuan Pelaku Wisata Ikut Skrining, Pemerintah Sampaikan Apresiasi
Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, yang membacakan sambutan Gubernur DIY, menyampaikan apresiasi terhadap seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan skrining.
Ia menyebut kegiatan yang menjangkau sekitar 2.000 pelaku wisata tersebut menjadi komitmen bersama menjaga kesehatan masyarakat.
“Atas nama Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, saya menyampaikan apresiasi yang tulus atas terlaksananya rangkaian skrining TBC aktif berbasis laboratorium. Kegiatan yang menjangkau sekitar 2.000 pelaku wisata ini bukan hanya program kesehatan, tetapi bentuk nyata dalam merawat Yogyakarta sebagai kawasan budaya, wisata, dan ekonomi yang sehat serta berkeadaban,” ujar Ni Made dalam penutupan kegiatan di Gedhong Pracimasana, Kompleks Kepatihan, Sabtu (29/11).
Cakupan Terapi Pencegahan TB Baru 42,2%: DIY Diminta Bergerak Lebih Cepat
Ni Made menyampaikan bahwa capaian penanggulangan TB di DIY perlu percepatan. Penemuan kasus mencapai 63%, masih di bawah target nasional 90%. Angka keberhasilan pengobatan berada pada 83,4%, sementara cakupan Terapi Pencegahan TB (TPT) baru 42,2%.
Ia menekankan pentingnya peningkatan intervensi, terutama pada sektor-sektor strategis dengan intensitas interaksi masyarakat yang tinggi.
Pelaksanaan ACF TB berbasis laboratorium di kawasan Malioboro dan Keraton dinilai sebagai langkah inovatif. Petugas menghadirkan deteksi dini, pemeriksaan laboratorium Open PCR, serta investigasi kontak langsung di ruang publik yang menjadi pusat interaksi wisatawan.
Upaya ini memastikan penanggulangan TB dilakukan tidak hanya melalui fasilitas kesehatan, tetapi hadir langsung di area aktivitas masyarakat.
Ni Made menekankan bahwa keberhasilan kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Balai Besar Labkesmas, Dinas Kesehatan, Keraton Yogyakarta, puskesmas, rumah sakit, komunitas, serta asosiasi pelaku wisata.
Ia menyebut penanganan TB tidak semata urusan medis, melainkan gerakan sosial yang melibatkan berbagai pihak.
Wamenkes Puji DIY sebagai Model Nasional Penanggulangan TB
Wakil Menteri Kesehatan RI, Benjamin Paulus Octavianus, menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan ACF TB di DIY. Ia menyebut DIY berhasil membangun kekuatan kolaborasi lintas sektor yang dapat menjadi percontohan nasional.
“Kami melihat apa yang bisa dibuat oleh Jogja. Ternyata Jogja punya kelebihan: kolaborasi lintas sektor. Ada dari dinas kesehatan, dinas pariwisata, TNI, dan berbagai elemen masyarakat,” ujar Benjamin.
Ia juga menyoroti kontribusi Keraton Yogyakarta yang membuka akses skrining bagi lebih dari 500 abdi dalem.
“Ini yang ingin kita contoh. Apa yang baik di Jogja bisa kita implementasikan di wilayah lain di Indonesia,” katanya.
Pemerintah Pusat Siapkan Regulasi Baru Percepatan Eliminasi TB
Benjamin menyampaikan bahwa percepatan penanggulangan TB kini menjadi prioritas nasional.
Pemerintah sedang menyiapkan revisi Keputusan Presiden tentang pembentukan gugus tugas penanggulangan TB. Keterlibatan kementerian akan diperluas dari 15 menjadi 31 kementerian dan lembaga.
“Pemberantasan TB bukan hanya kerjaan dokter. Lingkungan harus sehat: sanitasi harus baik, ventilasi rumah memadai, lantai layak, ada air bersih, dan jamban yang baik,” tegasnya.











