bernasnews – Suasana Pantai Labuhan, Glagah, Temon, pada Minggu, 30 November 2025 pagi sempat menarik perhatian warga setelah bangkai seekor penyu lekang (Lepidochelys olivacea) ditemukan terdampar dalam kondisi mati di sisi timur pantai.
Penyu lekang merupakan satwa laut yang dilindungi, sehingga temuan ini segera mendapat respons dari petugas.
Penemuan terjadi sekitar pukul 09.38 WIB ketika seorang pemancing melihat tubuh penyu terbawa ombak dan tergeletak di bibir pantai. Temuan itu langsung dilaporkan kepada petugas yang berjaga di pos terdekat.
“Benar ada penemuan penyu lekang yang mati. Pertama kali ditemukan pemancing yang kemudian segera melapor pada anggota kami yang berjaga,” kata Aris Widiatmoko, Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa (SRI) Wilayah V.
Pemeriksaan Fisik oleh SRI Wilayah V
Setelah menerima laporan, petugas SRI Wilayah V segera menuju lokasi untuk melakukan identifikasi awal, pengukuran fisik, serta pemeriksaan kondisi bangkai penyu. Pemeriksaan dilakukan mengikuti prosedur penanganan satwa dilindungi.
Penyu tersebut diketahui berjenis kelamin jantan dengan berat sekitar 25 kilogram. Pengukuran menunjukkan panjang total mencapai 100 sentimeter, panjang tempurung 66 sentimeter, dan lebar 62 sentimeter.
Ukuran tersebut mengindikasikan bahwa penyu berada pada fase dewasa. Aris menjelaskan bahwa penyu diduga telah mati di laut sebelum akhirnya terbawa arus hingga terdampar di pantai.
“Penyu ini kami duga kuat telah mati di laut. Tubuhnya terlihat membengkak, kulit cangkang mulai mengelupas, tetapi tubuh masih utuh dan tidak ada tanda luka terbuka atau mutilasi,” ujarnya.
Bangkai Segera Dikubur untuk Menjaga Kebersihan Pantai
Setelah pemeriksaan dan pendokumentasian selesai, petugas memutuskan untuk mengubur bangkai penyu tersebut di area pantai. Langkah ini dilakukan untuk mencegah timbulnya bau tidak sedap dan menjaga kebersihan kawasan wisata.
“Setelah kami ukur dan periksa, bangkai penyu langsung kami kubur di area pantai untuk mencegah timbulnya bau tidak sedap dan menjaga kebersihan lingkungan pantai,” tutur Aris Widiatmoko.











