News  

44 Madrasah Diniyah di Kota Yogyakarta Eksis di Tengah Keterbatasan: Wali Kota Hasto Tegaskan Komitmen Dukungan

Hari Santri 2025 di Yogya: Prestasi Nasional dan Tantangan Madrasah Diniyah (Ist)

bernasnews – Suasana Masjid Diponegoro hangat pada Jumat, 22 November 2025 pagi ketika ratusan santri Madrasah Diniyah Takmiliyah berkumpul merayakan Hari Santri.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyerahkan penghargaan kepada santri yang mengharumkan nama daerah dalam PORSADIN tingkat nasional 2024.

Wali Kota juga me-launching Profil Madrasah Diniyah. Sebanyak 350 santri dari berbagai madrasah hadir menyaksikan kegiatan tersebut.

Namun di balik wajah-wajah ceria para juara, tersimpan perjalanan panjang perjuangan 44 Madrasah Diniyah di Kota Yogyakarta untuk tetap bertahan di tengah keterbatasan.

Santri Kota Yogya Raih Prestasi Nasional, Pemerintah Beri Apresiasi

Hasto Wardoyo hadir dengan memberikan apresiasi kepada para santri yang meraih prestasi nasional, termasuk juara dua puisi putra dan sprint putri 60 meter. Ia memberi motivasi kepada santri agar berani tampil dan menumbuhkan cita-cita sejak dini.

“Siapa yang bercita-cita menjadi ustaz?” serunya. Puluhan tangan terangkat. Hasto melanjutkan, “Siapa yang sudah mulai belajar jadi ustaz? Berani? Kalau berani, tak suruh menggantikan saya. Mulai saja dari sekarang.”

Ia menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Yogyakarta berkomitmen memperkuat keberadaan madrasah diniyah sebagai fondasi pembentukan karakter generasi muda.

“Alhamdulillah pagi hari ini kita bisa bersama-sama. Atas nama Pemerintah Kota Yogyakarta, saya menyambut baik Hari Santri Nasional 2025 dan menyampaikan apresiasi kepada adik-adik semua,” ucapnya.

Di Balik Prestasi, Madrasah Diniyah Hadapi Keterbatasan

Ketua FKDT Kota Yogyakarta, Hadiyatul Munawaroh, menjelaskan perjalanan panjang perjuangan madrasah diniyah di kota ini. Ia menyampaikan bahwa FKDT menaungi 40 Madrasah Diniyah aktif, sementara empat lainnya meningkat menjadi Wustho.

Meski terus mencetak prestasi, Hadiyatul menegaskan bahwa madrasah diniyah masih menghadapi berbagai keterbatasan, terutama dari sisi minat masyarakat dan dukungan pemerintah.

“Target kami, madrasah diniyah bisa kembali eksis. Sekarang banyak yang berkurang karena sekolah formal lima hari kerja hingga sore. Harapannya orang tua semakin paham bahwa pendidikan agama juga penting,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa madrasah diniyah bukan hanya tempat mengaji, tetapi sekolah agama dengan struktur kurikulum lengkap. Terdapat enam bidang pelajaran wajib: akidah akhlak, fikih ibadah, bahasa Arab, Al-Qur’an, hadis, dan sejarah Islam.

Untuk memastikan kesinambungan pendidikan, FKDT juga terus membina sejumlah madrasah seperti Madrasah Diniyah Margoyoso, Tawakal, Al-Wahid, Baitul Makmur, Baitul Hikmah, hingga Jidan Nurijin.

Dalam kesempatan itu, Hadiyatul menjelaskan bahwa PORSADIN menjadi ajang pembuktian kualitas santri Kota Yogya. Ia menuturkan bahwa kompetisi tingkat kota, provinsi, hingga nasional digelar dua tahun sekali secara berjenjang.

“Kota Yogyakarta pernah menjadi juara umum provinsi tahun 2022, dan tahun 2024 meraih juara umum kedua. Untuk tingkat nasional, kita meraih juara dua puisi putra dan sprint putri 60 meter. Di tingkat provinsi, kita juga dapat juara satu MTQ putri, juara pidato putri, dan lainnya,” jelasnya.

Namun ia mengakui bahwa prestasi tersebut belum diimbangi fasilitas dan dukungan yang memadai, sehingga FKDT berharap perhatian lebih dari pemerintah.

Harapan agar madrasah diniyah tetap hidup juga disampaikan Hadiyatul. Di balik prestasi, ada pengabdian ustaz dan ustazah yang menjaga pendidikan agama tetap berjalan di tengah arus modernitas dan aktivitas sekolah formal yang padat.

Madrasah diniyah, katanya, merupakan sekolah agama pertama sebelum hadirnya pendidikan formal. Karena itu, ia berharap madrasah diniyah tidak hanya dipandang sebagai pelengkap, tetapi pilar penting pendidikan moral.

“Kami berharap, masyarakat semakin sadar dan pemerintah memberi perhatian lebih besar,” tambahnya.