bernasnews – Festival Budaya Lereng Merapi menghadirkan suasana meriah di Kalurahan Hargobinangun, Kabupaten Sleman, Sabtu (22/11/2025). Perayaan budaya tahun ini bertepatan dengan Hari Jadi Kalurahan Hargobinangun ke-79, dengan mengusung tema “1.000 Pesona Lereng Merapi”.
Acara dibuka dengan kirab budaya yang membawa Bregodo Keprajuritan dari tiga penjuru wilayah, lengkap dengan songsong agung dan pusaka yang menjadi simbol sejarah kalurahan. Tak hanya itu, gunungan dan seribu tumpeng yang dibawa oleh warga turut menjadi bagian sakral dari prosesi pembukaan festival.
Lurah Hargobinangun, Amin Sarjito, menjelaskan bahwa penyelenggaraan festival ini sekaligus menjadi pengingat sejarah panjang wilayah tersebut. Ia memaparkan bahwa Kalurahan Hargobinangun dulunya merupakan gabungan tiga wilayah lama, yaitu Kaliurang, Pandanpuro dan Purworejo.
“Sejarah Kalurahan Hargobinangun ini digambarkan dengan tiga pingsungsung. Sejarahnya adalah Kalurahan Hargobinangun dulu terdiri dari tiga kalurahan yaitu Kaliurang, Pandanpuro dan yang ketiga Purworejo. Sejak tahun 1909 dijadikan satu menjadi satu yaitu Kalurahan Hargobinangun,” ujarnya.

Menurutnya, tiga pingsungsung ini menjadi simbol persatuan masyarakat yang saat ini terus dijaga.
Amin menambahkan bahwa usia 79 tahun kalurahan ini menjadi momentum untuk memperkuat rasa kebersamaan tanpa memandang perbedaan latar belakang.
“Harapannya dari 79 tahun Kalurahan Hargobinangun sebagai bentuk kita mempersatukan warga masyarakat, apapun itu profesinya, apapun itu agamanya, apapun itu latar belakangnya,” katanya.
Ia menegaskan bahwa nilai gotong royong menjadi pondasi penting penyelenggaraan festival ini. Selain sebagai ruang pelestarian budaya, kegiatan ini juga diharapkan membantu meningkatkan kunjungan wisatawan mengingat kawasan Kaliurang merupakan salah satu destinasi wisata populer di Sleman.
“Dengan acara ini juga ikut mendongkrak kunjungan wisatawan yang ada di wilayah Kaliurang dan Kalurahan Hargobinangun,” tambahnya.
Menariknya, seluruh rangkaian Festival Budaya Lereng Merapi digelar secara swadaya oleh masyarakat tanpa pendanaan dari pemerintah provinsi maupun pemerintah daerah. Amin mengungkapkan tingginya antusiasme warga yang secara sukarela menyediakan seribu tumpeng, penjor, hingga seribu penari dalam festival ini. Ia menegaskan bahwa seluruh elemen tersebut murni berasal dari kontribusi masyarakat sebagai bentuk cinta terhadap budaya dan daerah mereka sendiri.
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, turut hadir dan memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan festival tersebut. Ia menilai kekompakan masyarakat menjadi kunci keberhasilan acara yang berlangsung meriah dan tertata dengan baik.
“Saya yakin acara ini kalau tidak ada kerjasama dan koordinasi yang baik, komunikasi yang baik antara kalurahan dan warganya, tentu tidak bisa terlaksana dengan bagus dengan meriah seperti ini,” ujarnya.
Danang menekankan pentingnya pelestarian budaya sebagai bagian dari identitas Lereng Merapi dan ungkapan syukur kepada Tuhan atas karunia alam yang melimpah. Ia juga berharap festival ini dapat membawa dampak ekonomi bagi warga sekitar, khususnya bagi pelaku wisata, kuliner, dan usaha kecil. Menurutnya, jika pariwisata berkembang, maka kesejahteraan warga di sekitar Lereng Merapi juga akan meningkat.
1.000 Pesona dari Lereng Merapi
Festival semakin meriah dengan suguhan 1000 tumpeng, 1000 jadah tempe, 1000 kopi lereng Merapi, 1000 susu sapi, hingga 1000 nasi kucing yang dibagikan secara gratis kepada warga dan pengunjung. Puncak acara ditandai dengan pelepasan seribu burung endemik Merapi sebagai simbol harapan akan kelestarian alam serta keselamatan masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana.
Hiburan rakyat semakin meramaikan suasana dengan penampilan Saleho Karya Budaya dan Abah Lala sebagai bintang utama panggung. Sementara itu, pelaku wisata dan UMKM di sekitar Hargobinangun turut memberikan promo diskon sebesar 7,9 persen selama acara berlangsung sebagai bentuk dukungan terhadap festival.











