bernasnews – Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Sekretaris Daerah Bagian Perekonomian dan Kerja Sama menggelar acara Urun Rembug ke-8 Kota Kreatif Yogyakarta dengan Ngopi Bareng Pak Wali, Kopdar 100 Pegiat Ekonomi Kreatif Kota Yogyakarta, yang berlangsung di Hotel Harper Malioboro, Yogyakarta, Kamis (20/11/2025).
Acara dihadiri oleh Wali Kota Yogyakarta, perwakilan akademisi, pelaku bisnis kreatif dari berbagai sub sektor, beberapa komunitas, dan OPD terkait dilingkungan kota Yogyakarta.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan Surat Keputusan Walikota, nomor 446 tahun 2025, tentang Pembentukan Komite Ekonomi Kreatif Kota Yogyakarta tahun 2025 – 2930. Dengan Ketua terpilih M. Arif Budiman, S.Sn.
Dalam sambutannya Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo mengemukakan, bahwa Forum Rembug ini memiliki tujuan besar, yaitu mempertemukan seluruh elemen ekosistem kreatif agar memiliki arah pembangunan yang sama untuk tahun 2025 – 2030.
“Dalam Forum ini kita menghimpun gagasan, aspirasi dan kritik kontruktif sebagai bekal memperkuat ekositem kreatif Yogyakarta,” tegasnya.
Menurut Hasto, ada target penting yang ingin dicapai bersama yaitu menguatkan komitmen pembentukan Komite Ekonomi Krestif Kota Yogyakarta, di bawah Sekretariat Daerah sebagai lembaga resmi yang memantau, mengukur dan memberi masukan kebijakan.
“Juga untuk membangun model kolaborasi yang inklusif antara pelaku kreatif dan pemerintah, terus mengantar lahirnya Komite Ekraf Reka Yogyakarta sebagai wadah resmi talenta kreatif kota,” ungkap Hasto.
Wali Kota Yogyakarta juga ingin melakukan kick – off rencana program kerja REKA Yogyakarta secara terbuka dan akuntabel, serta memperkenalkan inisiatif penting berupa website Creative Yogyakarta sebagai etalase resmi data dan potensi Ekraf Yogyakarta.
“Semua agenda tersebut hanya dapat terwujud melalui trust, transparansi, dan komunikasi yang jujur serta kontruktif. Karena itulah acara ” Ngopi Bareng Pak Wali” Ini dirancang sebagai ruang dialog dua arah, bukan formalitas, bukan seremoni tetapi pertemuan kesetaraan antara para kreator, penggerak komunitas, pelaku industri dan pemerintah,” papar Hasto.
Pihaknya juga percaya bahwa masa depan Yogyakarta sebagai kota kreatif tidak ditentukan oleh kebijakan semata, melainkan oleh kemampuan kita untuk tetap terbuka, saling mendukung, dan kolaborasi.
“Semoga Forum ini menjadi momentum penyatuan visi dan komitmen sehingga iklim kreatif Yogyakarta semakin kuat dan mampu memberikan dampak ekonomi serta sosial yang signifikan bagi masyarakat,” pungkas Hasto.
Sementara itu, Ketua Komite Ekonomi Kreatif M. Arif Budiman menyampaikan, bahwa masa depan ekonomi kreatif dengan peta jalannya berupa positioning kota (City of Festival) dan pemasaran (city branding Yogyakarta).
Selain itu, Arif telah membuat roadmap pengembangan Kota Yogyakarta sebagai kota kreatif dari tahun 2021 sampai tahun 2030, dengan program jangka pendeknya dari tahun 2021 – 2022, jangka menengah tahun 2022 – 2025, dan jangka panjang tahun 2021 – 2030.
Menurutnya, dengan sistem birokrasi yang penuh keterbasan saat ini, serta komitmen pemimpin tertinggi sangat penting dan tidak bisa diwakilkan agar terjadi akselerasi, kolaborasi yang kongkrit antar semua sektor dan menggerakkan seluruh elemen masyarakat.
“Untuk bersama – sama memperjuangkan terwujudnya ekosistem ekraf ini mencapai tujuan yang disepakati bersama. Konkrit dimulai dari para pemimpin,” kata Arif Budiman.
Dalam acara Forum Urun Rembug ini juga ada masukan dan usulan dari beberapa yang hadir. Dari akademisi menyampaikan dampak positif dari festival bagi masyarakat. Sedangkan dari pebisnis menyampaikan bahwa ekraf bisa menaikan PAD (Pendapatan Asli Daerah), adapun dari komunitas membutuhkan ruang yang lebih luas untuk berkreasi. (nun)












