bernasnews.com – Peningkatan aktivitas Gunung Semeru pada Rabu (19/11) menimbulkan kekhawatiran publik, terutama mengenai potensi sebaran abu vulkanik. Meski demikian, pemantauan intensif memastikan bahwa Bandara Adisutjipto di Sleman, Yogyakarta, tetap aman dan operasional penerbangan berjalan seperti biasa.
General Manager Bandara Adisutjipto, Wibowo Cahyono Soekadi, menegaskan bahwa situasi bandara tidak terdampak abu vulkanik.
“Dari hasil pemantauan yang dilaksanakan mulai dari tadi malam sampai dengan hari ini (Kamis, 20/11) tidak ditemukan adanya abu vulkanik di Bandara Adisutjipto, sehingga untuk operasional penerbangan berjalan normal dan seperti biasa,” ujarnya dalam pernyataan tertulis.
Peningkatan Aktivitas Semeru dan Penetapan Status Awas
Gunung Semeru mengalami lonjakan aktivitas yang signifikan sejak Rabu sore sekitar pukul 17.00 WIB. Menyikapi kondisi tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meningkatkan status gunung tertinggi di Jawa Timur itu ke Level IV atau Awas.
Kenaikan status ini menandakan potensi bahaya yang lebih tinggi, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan aliran lahar, guguran lava, dan awan panas.
Imbauan Keselamatan dari PVMBG
PVMBG mengeluarkan beberapa imbauan penting sebagai langkah mitigasi. Warga diminta tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 20 kilometer dari puncak.
Selain itu, masyarakat harus menjaga jarak minimal 500 meter dari tepi sungai di wilayah tersebut karena berpotensi terdampak aliran lahar dan awan panas.
Aktivitas dalam radius 8 kilometer dari kawah juga dilarang. Masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi awan panas, guguran lava, dan aliran lahar terutama di sungai-sungai berhulu Semeru seperti Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
Data Kegempaan: Puluhan Letusan dalam Enam Jam Pemantauan
Dalam pengamatan enam jam terakhir, tepatnya mulai pukul 00.00 hingga 06.00 WIB pada Kamis (20/11), tercatat 32 kali gempa guguran dan 25 kali gempa letusan.
Durasi dan kekuatannya bervariasi, menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik Semeru masih berada pada fase intens.
Evakuasi Warga dan Penanganan Darurat
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama unsur pemerintah lainnya bergerak cepat mengevakuasi warga dari wilayah terdampak. Hingga malam hari, lebih dari 300 warga telah dipindahkan ke lokasi aman.
Para pengungsi kini tersebar di beberapa titik, antara lain sekitar 200 jiwa di Balai Desa Oro-Oro Ombo, 100 jiwa di SD 2 Supiturang, serta sebagian lainnya di Balai Desa Penanggal.
Pemerintah Kabupaten Lumajang juga menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari, mulai 19 hingga 26 November 2025, guna mempercepat proses penanganan bencana.
Pemantauan Terus Berlanjut
Meskipun aktivitas vulkanik Semeru masih tinggi, kegiatan transportasi udara di Bandara Adisutjipto tetap tidak terganggu. Pemantauan kondisi atmosfer, terutama potensi sebaran abu, akan terus dilakukan untuk menjaga keselamatan penerbangan.***












