News  

Kisah Inspiratif Pasangan di Srandakan Bantul, Nekat Produksi Garam Sendiri di Pantai Tanggul Tirto

Pasangan pengolah garam di Srandakan sedang bekerja di tunnel plastik UV di Pantai Tanggul Tirto. (Ef linangkkung)
Pasangan pengolah garam di Srandakan sedang bekerja di tunnel plastik UV di Pantai Tanggul Tirto. (Ef linangkkung)

bernasnews – Di tengah panas terik pantai selatan, sepasang suami istri dari Kalurahan Poncosari, Kapanewon Srandakan, Bantul, menorehkan kisah luar biasa. Mereka berdua nekat mengolah air laut menjadi garam alami bernilai jual tinggi di lahan Sultan Ground dekat Pantai Tanggul Tirto.

Dengan tekad kuat dan kerja keras tanpa lelah, Purnama (47) yang akrab disapa Capung, bersama istrinya, Rumiyani (47), kini menjadi satu-satunya warga di wilayah itu yang memproduksi garam secara mandiri.

Setiap hari, Capung dan Rumiyani bergelut dengan teriknya sinar matahari dan angin asin pantai. Di atas lahan yang tak seberapa luas, mereka mendirikan beberapa tunnel dari plastik UV. Tunnel tersebut berfungsi menjaga suhu tetap stabil serta melindungi air laut dari debu dan kotoran selama proses pengkristalan garam.

“Prosesnya memang lama, tapi hasilnya alami dan bersih,” ujar Capung, Kamis (13/11/2025).

Ia menjelaskan, seluruh proses pembuatan garam dilakukan tanpa campuran bahan kimia maupun pengawet. Air laut yang mereka ambil ditampung selama sebulan penuh, kemudian dialirkan secara bertahap ke enam tunnel untuk proses penguapan dan pengkristalan.

“Dari tunnel satu ke dua sampai tunnel keenam, masing-masing butuh waktu sekitar dua minggu. Jadi totalnya hampir dua bulan sampai garam benar-benar jadi,” tutur Capung.

Meski membutuhkan waktu panjang, hasilnya tidak mengecewakan. Dalam satu tunnel, Capung mampu menghasilkan sekitar dua kuintal garam krosok alami. Biasanya, proses pengkristalan dilakukan di dua tunnel sekaligus, sehingga sekali panen bisa mencapai empat kuintal.

“Prosesnya bertahap. Setiap tunnel bisa tiga kali pengeringan sebelum diisi ulang untuk produksi baru,” jelasnya.

Garam buatan Capung dikenal sebagai garam krosok—garam kasar alami dengan cita rasa asin kuat dan bebas bahan tambahan. Produk ini banyak diminati pedagang lokal, warung pakan ternak, hingga toko pertanian di sekitar Srandakan.

Dari hasil panen empat kuintal garam, Capung mampu meraup omzet hingga Rp800 ribu setiap dua bulan. Harga jualnya bervariasi tergantung kualitas. Untuk garam krosok terbaik, Capung menjual seharga Rp3.000 per kilogram, sedangkan kualitas menengah dijual Rp2.000–Rp2.500 per kilogram.

“Ada tiga jenis garam. Yang paling bagus itu yang putih kasar. Selain bersih, kadar garamnya juga tinggi,” jelasnya.

Bagi Capung dan Rumiyani, hasil tersebut bukan sekadar angka. Itu adalah buah dari kerja keras, ketekunan, dan doa. “Ya, cukup buat kebutuhan dapur. Yang penting halal dan dari hasil tangan sendiri,” katanya.

Tantangan Alam, Awal Ide, dan Harapan ke Depan

Perjalanan mereka bukan tanpa rintangan. Cuaca ekstrem menjadi musuh utama. Kadang hujan deras mengguyur, kadang udara terlalu lembap sehingga proses pengeringan melambat. Meski demikian, keberadaan tunnel dari plastik UV menjadi solusi efektif.

“Kalau cuaca panas, garam bisa cepat kering. Tapi kalau mendung terus, kami harus sabar,” ujar Capung.

Untuk mendapatkan bahan baku utama, mereka melakukan pengeboran di sekitar Pantai Tanggul Tirto agar air laut bisa dipompa dari lapisan bawah.

“Kalau ambil di permukaan enggak bisa, karena airnya sering tercampur pasir. Jadi kami pakai pompa dari bawah,” tambahnya.

Usaha ini bermula pada tahun 2023. Kala itu, Capung mendapat inspirasi dari ayah temannya yang memiliki usaha garam di luar daerah.

“Teman saya itu punya travel di Jogja, dan bapaknya itu bos garam. Waktu ketemu, dia tanya apakah saya mau bikin garam. Katanya kalau hasilnya banyak, bisa dikirim ke Surabaya,” kenangnya.

Tawaran itu menyalakan semangat baru dalam dirinya. Padahal sebelumnya, Capung hanyalah seorang petani sawah.

“Saya pikir, kenapa tidak dicoba? Akhirnya saya belajar dari nol,” ujarnya.

Ia bahkan sempat dibimbing oleh seorang teknisi asal Kebumen untuk memahami cara membuat kolam garam hingga tahap pengkristalan.

“Semua diajarkan pelan-pelan. Dari cara mengatur kadar air sampai cara membuat tunnel,” tambahnya.

Kini, Capung harus membagi waktu antara mengurus sawah dan produksi garam. Setiap pagi ia turun ke sawah, sementara siang hingga sore ia bekerja di area pengolahan garam. Meski melelahkan, ia tidak mengeluh.

“Capek iya, tapi puas. Saya bisa buktikan kalau orang kecil juga bisa bikin produk sendiri dari alam,” katanya.

Capung berharap suatu saat dapat memperluas usahanya dan mengajak warga sekitar untuk bersama-sama mengembangkan produksi garam lokal.

“Kalau ada bantuan alat atau pelatihan, saya ingin ngajak warga lain. Supaya daerah ini terkenal sebagai penghasil garam alami,” ujarnya.

Dengan tangan yang kasar karena garam dan kulit yang menggelap karena matahari, Capung dan Rumiyani membuktikan bahwa keberanian dan ketekunan mampu mengubah hidup. Dari air laut yang asin, mereka menjemput masa depan yang manis.