bernasnew – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terus memperkuat komitmennya dalam menjaga kesehatan generasi penerus.
Selasa, 11 November 2025,Pemkab Gunungkidul resmi meluncurkan Program Imunisasi Heksavalen, vaksin kombinasi enam antigen yang dirancang melindungi bayi dari berbagai penyakit sekaligus.
Kegiatan pencanangan berlangsung di Rest Area JJLS Girisubo dan diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul.
Program ini mengacu pada Keputusan Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Nomor HK.02.02/3647/2025 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Program Imunisasi Diphteria, Pertussis, Tetanus, Hepatitis B, Haemophilus Influenzae Type B, dan Inactivated Poliomyelitis (IPV).
Enam Perlindungan dalam Satu Suntikan
Dalam paparannya, Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, menjelaskan bahwa vaksin Heksavalen merupakan terobosan penting di dunia kesehatan anak.
Vaksin ini menggabungkan enam antigen dalam satu suntikan, mencakup perlindungan terhadap difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, Haemophilus Influenzae tipe B, dan polio.
“Vaksin kombinasi ini kami hadirkan untuk menyederhanakan jadwal imunisasi dan mengurangi jumlah suntikan. Dengan begitu, pelayanan imunisasi menjadi lebih efisien, ramah anak, dan mudah diterima masyarakat,” ujar Ismono.
Ia menambahkan, program ini juga menjadi upaya serius untuk menutup kesenjangan cakupan vaksin IPV yang belum merata di beberapa wilayah.
Pemerintah menargetkan cakupan imunisasi dasar lengkap minimal 95 persen pada tahun 2029.
“Capaian itu hanya bisa diraih bila seluruh lapisan masyarakat ikut mendukung dan berpartisipasi aktif dalam program imunisasi nasional,” imbuhnya.
Program Nasional Dimulai dari 9 Provinsi
Pemerintah pusat menetapkan vaksin Heksavalen mulai diterapkan pada tahun 2025 di sembilan provinsi, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, serta enam provinsi di Papua.
Program ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam mewujudkan Indonesia bebas penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi.
Data UNICEF–Nielsen 2023 menunjukkan bahwa sekitar 38 persen penolakan imunisasi disebabkan kekhawatiran orang tua terhadap penyuntikan ganda.
Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat sejumlah kendala, mulai dari keterbatasan akses layanan kesehatan, minimnya informasi, hingga faktor biaya dan waktu.
Kehadiran vaksin Heksavalen diyakini dapat menjadi solusi konkret terhadap hambatan tersebut sehingga dapat menurunkan risiko penyakit pada anak.
Pemkab Gunungkidul Tegaskan Komitmen untuk Anak Sehat
Dalam sambutan yang disampaikan oleh Asisten Sekretaris Daerah Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Dewi Irawati, mewakili Bupati Gunungkidul, pemerintah daerah menegaskan komitmennya untuk memastikan seluruh anak di Gunungkidul memperoleh imunisasi lengkap sesuai jadwal.
“Imunisasi adalah intervensi kesehatan paling efektif dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian anak. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul akan memperkuat sistem logistik vaksin, meningkatkan edukasi publik, serta memperluas kolaborasi lintas sektor agar program ini berjalan optimal,” tegas Dewi.
Ia mengimbau orang tua tidak mudah terpengaruh informasi keliru yang beredar di media sosial dan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika ragu.
“Jangan biarkan hoaks merampas hak anak untuk sehat. Jika ragu, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan di puskesmas atau posyandu. Masa depan Gunungkidul ada di tangan anak-anak kita,” ujarnya.
Peluncuran vaksin Heksavalen disebut sebagai langkah nyata Pemkab Gunungkidul dalam membangun masa depan yang lebih kuat.
Pemerintah menargetkan peningkatan partisipasi masyarakat dalam imunisasi sebagai pondasi menciptakan generasi sehat, cerdas, dan tangguh.
Dengan program ini, Gunungkidul menegaskan diri bukan hanya sebagai pelaksana kebijakan nasional, tetapi juga sebagai pelopor dalam memperjuangkan hak kesehatan anak di daerah.











