bernasnews – Danantara Indonesia secara terbuka mengakui masih adanya praktik mismanagement di sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Hal ini diungkapkan oleh Managing Director Human Capital Danantara Indonesia, Agus Dwi Handaya, dalam paparan bertema Transformational Leadership Learning from Danantara Vision. Ia menegaskan bahwa restrukturisasi dan transformasi menyeluruh menjadi kunci untuk memperbaiki pengelolaan BUMN dan menciptakan efisiensi operasional.
BUMN Memegang Peran Vital, Namun Belum Efisien
Dalam pemaparannya, Agus menjelaskan bahwa BUMN memiliki posisi strategis dalam ekonomi nasional, dengan total aset mencapai Rp10.000 triliun, pendapatan sebesar Rp3.000 triliun, dan laba mencapai Rp300 triliun pada 2024. Kontribusi pajak BUMN bahkan mencapai sekitar 20 persen penerimaan pajak nasional, serta menyerap lebih dari 1,5 juta tenaga kerja.
Meski demikian, kompleksitas struktur yang mencapai lebih dari seribu entitas, dengan tujuh lapisan kepemilikan, menjadi penyebab utama ketidakefisienan dan tumpang tindih dalam operasional.
“Dengan layer yang begitu banyak, terjadi tumpang tindih dan kompetisi sesama BUMN, bahkan dalam satu induk. Ini mengakibatkan operasional tidak efisien dan tidak kompetitif,” ujar Agus dalam event Leadership Day 2025 yang digelar di GIK, UGM, Selasa (11/11/2025).
Danantara Akui Terjadi Mismanagement
Agus tidak menutup mata terhadap persoalan pengelolaan di tubuh BUMN. Ia mengungkapkan adanya investasi publik bernilai triliunan rupiah yang tidak dilakukan dengan cermat, menyebabkan pemborosan dan penundaan proyek. Selain itu, portofolio bisnis yang keluar dari core competency, serta struktur harga subsidi yang tidak efisien, turut memperburuk kinerja sejumlah entitas.
“Kami juga menyadari selama ini masih banyak terjadi mismanagement,” ungkapnya.
“Contohnya investasi public dengan nilai puluhan atau triliunan tidak dilakukan dengan hati-hati dan cermat. Project management yang lemah mengakibatkan cost over run atau project yang delay. Portofolio bisnis yang beragam di luar dari corenya sehingga tidak mampu bersaing secara kompetitif. Pricing subsidi yang structurenya membuat insentif untuk terjadinya efisiensi. Mismatch financing banyak sekali project investasi jangka panjang tapi pembiayaan berasal dari jangka pendek. Proses restrukturisasi dilakukan secara parsial. Ini adalah PR kami bersama yang memang harus diselesaikan,” imbuhnya.
Restrukturisasi dan Transformasi Jadi Solusi
Sebagai langkah konkret, Danantara mendorong restrukturisasi besar-besaran. Melalui Danantara Asset Management (DAM) dan Danantara Investment Management (DIM), entitas ini menjalankan peran sebagai pemegang saham aktif dan pengelola investasi strategis. Tujuannya adalah menyederhanakan struktur BUMN dari lebih dari 1.000 entitas menjadi sekitar 200 perusahaan, sekaligus memperkuat efisiensi dan akuntabilitas.
“Restrukturisasi bukan hanya soal penyederhanaan, tetapi juga memperbaiki tata kelola, transparansi, dan integritas di seluruh lapisan,” jelas Agus.
Ia menambahkan, pilar transformasi BUMN mencakup lima aspek, business transformation, governance transformation, service transformation, leadership transformation, dan long-term value creation.
Dalam pilar governance transformation, Danantara menekankan pentingnya integritas dan transparansi dalam tata kelola. Agus mengungkapkan bahwa pihaknya telah memanggil 17 kantor akuntan terbesar di Indonesia untuk berkomitmen menjaga integritas audit laporan keuangan BUMN.
“Apabila ditemukan rekayasa laporan keuangan, kami akan blacklist dan mereka tidak akan lagi menjadi auditor BUMN,” tegasnya.
Lebih jauh, Agus menjelaskan bahwa inti perubahan di BUMN tidak hanya pada sistem, melainkan juga pada kualitas kepemimpinan. Ia memperkenalkan konsep Transformational Leadership atau TS Leader yang memiliki dua DNA utama: profesionalisme dan nasionalisme.
Menurutnya, pemimpin BUMN harus memiliki standar kerja tinggi, etika kuat, dan orientasi pada kualitas terbaik, sembari menanamkan nilai nasionalisme sebagai wujud pengabdian kepada bangsa.
“Menjadi pemimpin bukan tentang jabatan, tetapi tentang amanah untuk mengabdi bagi Indonesia. Kami ingin semua pemimpin BUMN menjadi reinkarnasi para pejuang bangsa,” ujarnya.
Menuju BUMN yang Efisien dan Berdaya Saing
Dengan visi menjadi supreme wealth fund terbaik di dunia, Danantara berkomitmen mendorong BUMN agar dikelola secara korporatif, efisien, dan berkelanjutan. Melalui pendekatan restrukturisasi dan kepemimpinan transformatif, Danantara berharap seluruh BUMN dapat berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional.
“Transformasi ini bukan mimpi instan, tetapi proses jangka panjang untuk menciptakan BUMN yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat dan negara,” tutup Agus.












