bernasnews – Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun masa depan pendidikan yang berkeadilan sosial di Indonesia.
Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan pesan visionernya tentang pentingnya sinergi antara pembangunan sosial dan sistem transportasi yang inklusif dalam acara Penandatanganan Kesepakatan Bersama antara Kementerian Sosial RI dan Kementerian Perhubungan RI tentang Sinergitas Tugas dan Fungsi di Bidang Sosial dan Transportasi serta Penyerahan Simbolis 28 Bus Sekolah untuk Sekolah Rakyat.
Acara tersebut berlangsung di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Yogyakarta pada Kamis, 6 November 2025 pagi.
“Keberhasilan bangsa hari ini tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling kuat, melainkan oleh siapa yang paling mampu berkolaborasi,” ujar Sultan.
Transportasi Inklusif Dorong Anak Bertahan di Sekolah
Dengan mengutip hasil penelitian Kementerian Sosial RI, Sri Sultan menjelaskan bahwa transportasi inklusif mampu meningkatkan peluang anak bertahan di sekolah hingga 30 persen lebih tinggi.
Menurutnya, angka tersebut bukan sekadar statistik, tetapi bukti bahwa akses transportasi yang adil membuka jalan menuju masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak Indonesia.
“Transportasi bukan hanya soal jalan dan kendaraan, tetapi tentang membuka masa depan, membangun keadilan sosial, dan menciptakan generasi yang berdaya,” tegas Sri Sultan.
Ia menyebut penyerahan bus sekolah bagi Sekolah Rakyat sebagai simbol perubahan dalam paradigma pembangunan nasional, dari kebijakan berbasis program (program-based policy) menuju kebijakan yang berpusat pada manusia (human-centered policy).
“Kita tidak lagi hanya bicara tentang mengirim anak ke sekolah, tetapi tentang membangun jembatan sosial agar setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, bermimpi, dan tumbuh. Inilah wajah baru birokrasi modern, birokrasi yang tangkas, kolaboratif, dan berorientasi hasil. Bukan sekadar pelaksana kebijakan, tetapi pencipta nilai sosial,” terang Sultan.
Kolaborasi dan Kepemimpinan Lintas Sektor
Dalam pandangan Sri Sultan, pembangunan sosial tidak dapat berjalan tanpa sistem transportasi yang adil dan merata. Ia mengingatkan bahwa mobilitas tanpa empati hanya akan melahirkan kesenjangan baru.
“Kolaborasi sosial dan transportasi adalah fondasi bagi pembangunan yang lebih manusiawi,” tandasnya.
Sri Sultan juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Sosial dan Kementerian Perhubungan atas langkah konkret mereka dalam membangun sistem transportasi yang berkeadilan sosial.
“Atas nama Pemda DIY, saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada kedua kementerian atas dedikasi dan sinerginya. Yogyakarta selalu terbuka menjadi laboratorium kolaborasi, tempat di mana kebijakan diuji oleh realitas, dan inovasi lahir dari empati,” ujarnya.
Sri Sultan menilai bahwa penandatanganan kesepakatan tersebut merupakan tonggak baru dalam mewujudkan kepemimpinan kolaboratif antar-sektor pemerintahan.
“Kerja lintas sektor, seperti yang kita saksikan hari ini, adalah bentuk baru dari kepemimpinan kolaboratif. Pemerintah harus hadir dengan pendekatan holistik — menghubungkan akses sosial, mobilitas, dan masa depan pendidikan anak bangsa,” tegasnya.
Bus Sekolah sebagai Jembatan Masa Depan
Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan bahwa kerja sama tersebut bukan sekadar penandatanganan dokumen administratif. Ia menyebut sinergi dua kementerian ini sebagai langkah menghadirkan transportasi berkeadilan sosial yang menyentuh kehidupan masyarakat.
“Bus sekolah ini bukan sekadar kendaraan, tetapi jembatan menuju masa depan anak-anak bangsa — dari rumah sederhana menuju gerbang ilmu pengetahuan, dari keterbatasan menuju kesempatan,” kata Gus Ipul.
Ia menambahkan bahwa sinergi lintas kementerian adalah jawaban atas tantangan bangsa dalam memastikan setiap program pembangunan berjalan ke satu arah: membebaskan masyarakat dari kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan, dan memperkuat kemandirian sosial.
Di sisi lain, Menteri Perhubungan RI Dudy Purwagandhi menegaskan komitmen pemerintah untuk memperluas jangkauan program transportasi inklusif.
Pada tahun anggaran 2025, Kementerian Perhubungan akan menyerahkan 25 unit bus sekolah untuk mendukung Sekolah Rakyat di berbagai daerah, dua di antaranya untuk Kabupaten Sleman dan Bantul.
“Yogyakarta sebagai kota pelajar adalah simbol bagaimana akses transportasi yang memadai dapat mendukung pemerataan kesempatan belajar bagi generasi penerus bangsa. Kami berharap layanan angkutan sekolah dapat berjalan merata, berkeadilan, dan optimal di seluruh wilayah,” kata dia.
Sri Sultan menegaskan pentingnya kolaborasi sosial dan transportasi inklusif dalam meningkatkan angka anak bertahan di sekolah hingga 30 persen. Penyerahan 28 bus sekolah dinilai sebagai langkah konkret menuju kebijakan berkeadilan sosial. (Eln)












