News  

Siaga Cuaca Ekstrem, BPBD Yogyakarta Lakukan Simulasi Sistem Peringatan Dini di Lima Sungai

Simulasi Sistem Peringatan Dini/Foto: BPBD Yogyakarta

bernasnews– Menjelang puncak musim hujan, Pemerintah Kota Yogyakarta terus memperkuat kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi.

Melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Pemkot menggelar simulasi Sistem Peringatan Dini Banjir atau Early Warning System (EWS) di lima lokasi rawan: Sungai Winongo, Sungai Code, Sungai Gajah Wong, Kali Buntung, dan Kali Belik.

Kegiatan ini tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan, melainkan langkah strategis untuk memastikan peralatan peringatan dini berfungsi optimal serta meningkatkan kewaspadaan masyarakat menghadapi ancaman banjir di musim hujan yang akan datang.

Tujuan Simulasi Sistem Peringatan Dini

Kepala Pelaksana BPBD Kota Yogyakarta, Nur Hidayat, menjelaskan bahwa kegiatan simulasi ini merupakan bagian dari upaya mitigasi sebelum intensitas hujan meningkat tajam. Berdasarkan prakiraan BMKG, periode Oktober 2025 hingga Januari 2026 diprediksi akan diwarnai hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi.

“Simulasi ini kami lakukan untuk memastikan seluruh sistem peringatan dini berfungsi optimal. Berdasarkan prakiraan BMKG, sejak Oktober hingga Januari nanti akan terjadi peningkatan curah hujan yang berpotensi menimbulkan bencana,” ujar Nur Hidayat, Selasa (4/11/2025).

Hingga saat ini, BPBD Kota Yogyakarta telah memasang 26 perangkat EWS di sejumlah titik sungai. Seluruh alat telah dicek dan berfungsi baik. Namun, Nur Hidayat menegaskan, kesiapsiagaan tidak bisa bergantung pada perangkat semata.

“Cuaca ekstrem bisa mempengaruhi jaringan listrik dan komunikasi. Karena itu, kami juga menyiapkan sistem cadangan seperti radio HT di setiap wilayah agar komunikasi antarpetugas tetap berjalan bila sistem utama terganggu,” jelasnya, melansir kabarjawa.com.

Selain pengujian sistem, BPBD juga mengoptimalkan peran Kelompok Tangguh Bencana (KTB) di tingkat masyarakat. Anggota KTB bertugas melakukan pemantauan kondisi wilayah dua kali sehari, yakni pukul 09.00 pagi dan 21.00 malam, untuk melaporkan kondisi cuaca dan potensi kenaikan debit air sungai.

Nur Hidayat menuturkan, pihaknya juga telah menyebarkan surat edaran kewaspadaan cuaca ekstrem kepada warga di seluruh wilayah kota.

“Sosialisasi terus kami lakukan agar masyarakat semakin siap dan tanggap terhadap potensi bencana,” ungkapnya.

Ia pun mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap hujan lebat, kilat, angin kencang, serta potensi banjir, tanah longsor, dan puting beliung, khususnya bagi warga yang tinggal di bantaran sungai atau lereng.

Peristiwa cuaca ekstrem pada 21 Oktober 2025 menjadi pelajaran penting bagi Kota Yogyakarta. Saat itu, BPBD mencatat hampir 50 kejadian bencana dalam satu hari, meliputi 22 pohon tumbang, 10 atap rumah roboh, serta sejumlah baliho dan jaringan televisi yang rusak parah.

“Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan adalah kunci. Alam tidak bisa kita kendalikan, tapi kesiapan bisa kita tingkatkan,” tegas Nur Hidayat.

EWS di Kali Belik Terbukti Efektif

Salah satu wilayah yang telah merasakan manfaat nyata dari pemasangan EWS adalah Kali Belik, yang terletak di kawasan padat permukiman. Sistem ini dipasang sejak dua tahun lalu dan terbukti membantu warga mendeteksi peningkatan debit air lebih awal.

Jarwo Kuswanto, anggota KTB Kali Belik, mengaku EWS di wilayahnya berfungsi dengan baik.

“EWS ini sering berbunyi saat air naik. Tapi sejak dua tahun terakhir, banjir besar sudah jarang terjadi,” ujarnya.

Jarwo mengenang masa sebelum adanya pembangunan talud dan embung di sekitar sungai. Hujan deras selama satu jam saja dulu bisa menyebabkan air naik hingga setinggi mata kaki. Kini, debit air rata-rata mencapai 200 meter kubik. Namun, ini masih aman dan tidak meluap ke permukiman.

“Sekarang debit airnya stabil. Kami lebih tenang karena sistemnya bekerja dengan baik,” imbuhnya.

Selain bersyukur atas keberadaan sistem peringatan dini, warga juga berharap pemerintah terus melakukan pembersihan rutin dan perawatan sungai. Menurut Jarwo, salah satu usulan warga adalah pemasangan jaring sampah di beberapa titik. Itu akan mencegah kiriman sampah dari hulu yang bisa menyumbat aliran air.

“Kalau sungainya bersih, aliran air lancar, kami juga tenang. Kami siap bergotong royong menjaga lingkungan kami,” kata Jarwo.

Kegiatan simulasi dan penguatan sistem peringatan dini ini menjadi bagian dari strategi berkelanjutan BPBD Kota Yogyakarta untuk menekan risiko bencana di wilayah perkotaan.

Melalui kolaborasi dengan warga, relawan, dan KTB, pemerintah berharap Yogyakarta bisa menjadi kota tangguh bencana, di mana kesadaran dan kesiapsiagaan menjadi budaya bersama.

“Kami ingin memastikan kesiapan masyarakat menjadi garda terdepan menghadapi ancaman bencana,” tutup Nur Hidayat.***(Eln)