bernasnews– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca ekstrem akan melanda wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Rabu, 5 November 2025.
Gelombang laut tinggi beserta hujan lebat dan tiupan angin kencang diperkirakan mengguncang sejumlah wilayah pesisir dan dataran tinggi di Bumi Mataram. BMKG meminta warga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Prakiraan cuaca Stasiun Meteorologi Yogyakarta International Airport (STAMET YIA) pada Rabu (5/11) pukul 06.00 WIB, BMKG memaparkan kondisi cuaca DIY selama 24 jam ke depan.
Pada pagi hari, hujan ringan berpotensi mengguyur kawasan selatan Gunungkidul. Intensitas hujan akan meningkat pada siang hingga sore hari.
Wilayah Sleman bagian utara dan Kulon Progo bagian utara menjadi titik rawan utama. Daerah ini berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat yang bisa beserta kilat, petir, dan angin kencang.
Wilayah Sleman bagian selatan, Kota Yogyakarta, dan Kulon Progo bagian tengah juga berpotensi hujan ringan hingga sedang. Memasuki malam hari, hujan ringan kemungkinan masih terjadi di Bantul bagian selatan dan Gunungkidul bagian selatan. Lalu, ini akan berlanjut hingga dini hari di kawasan Kulon Progo selatan.
Suhu udara berkisar antara 21 hingga 31 derajat Celsius, dengan kelembapan udara mencapai 75 hingga 98 persen. Lalu, arah angin bertiup dari selatan menuju barat laut dengan kecepatan antara 5 hingga 25 kilometer per jam.
BMKG juga memperingatkan bahaya gelombang tinggi di perairan selatan Yogyakarta. Tinggi gelombang laut akan mencapai 2,5 hingga 4 meter, masuk kategori tinggi. Kondisi ini sangat berisiko bagi nelayan tradisional maupun kapal berukuran kecil yang biasa beroperasi di perairan selatan.
“Warga yang beraktivitas di sekitar pantai agar menghindari kegiatan di area bibir pantai dan menunda pelayaran sementara waktu. Gelombang tinggi berpotensi terjadi sepanjang hari ini,” demikian imbauan resmi BMKG STAMET YIA.
BMKG menegaskan bahwa kondisi atmosfer saat ini menunjukkan tanda-tanda peningkatan aktivitas awan konvektif akibat pengaruh angin baratan yang membawa massa udara lembab dari Samudra Hindia menuju Pulau Jawa bagian selatan.
Prakirawan BMKG mengingatkan, hujan deras yang berlangsung lama berpotensi menimbulkan banjir lokal, genangan air, dan tanah longsor, terutama di daerah dengan kontur tanah curam atau dekat aliran sungai.***












