News  

Prosesi Bedah Bumi untuk PB XIII Dimulai, 30 Lebih Abdi Dalem Siap Tandu Peti Naiki Ratusan Tangga

Ilustrasi Makam Imogiri | Bedah bumi dan doa pembuka dilaksanakan di Imogiri untuk menyambut kedatangan PB XIII. (Bernasnews)

bernasnews — Prosesi pemakaman Sri Susuhunan Pakubuwono (PB) XIII mulai berlangsung di kompleks Makam Raja-Raja Imogiri, Kabupaten Bantul, pada Senin, 3 November 2025 siang.

Suasana khidmat terlihat sejak awal prosesi, ketika para abdi dalem Kasunanan Surakarta melakukan ritual bedah bumi atau penggalian liang lahat sebagai persiapan penempatan jenazah.

Tradisi ini menjadi tahapan awal sebelum jenazah raja Surakarta tersebut disemayamkan di kedaton pemakaman keluarga raja. Seluruh rangkaian upacara dijalankan sesuai tata cara adat kerajaan Mataram yang diwariskan turun-temurun.

30 Lebih Abdi Dalem Siap Naiki Ratusan Tangga

Bupati Pajimatan Makam Raja-Raja Imogiri Khusus Surakarta, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Joyo Adilogo, menyampaikan bahwa proses pemakaman akan melibatkan lebih dari 30 abdi dalem untuk menandu peti PB XIII menuju puncak area makam. Jalan menuju kedaton tersebut harus dilalui dengan menaiki ratusan anak tangga yang curam.

“Lebih mungkin dari 30 orang, karena tangganya banyak dan tinggi. Tapi mereka sudah terbiasa. Semua dilakukan dengan hormat dan penuh tanggung jawab,” ujar KPH Joyo Adilogo seperti diberitakan kabarjawa.com.

Tandu peti di Imogiri menjadi simbol pengabdian dari abdi dalem kepada raja. Setiap langkah dianggap sebagai wujud penghormatan terakhir sebelum jenazah disemayamkan.

Area Makam Dibatasi

Makam Raja-Raja Imogiri tetap terbuka untuk masyarakat, tetapi area khusus pemakaman PB XIII belum dapat diakses publik selama prosesi berlangsung. Pengunjung hanya diperkenankan berada di pelataran bawah hingga area Masjid Sultan Agung.

“Boleh datang, tapi hanya sampai tangga dan masjid Sultan Agung. Area makam PB XIII belum bisa dimasuki sampai prosesi selesai. Mungkin baru dibuka lagi setelah Rabu, itu pun menunggu keputusan lebih lanjut,” jelas KPH Joyo Adilogo.

Untuk masyarakat umum yang ingin ikut menyalatkan, tidak ada ketentuan pakaian adat. “Tidak ada pakaian adat khusus. Masyarakat cukup berpakaian rapi dan sopan sebagai bentuk penghormatan,” katanya.

Prosesi Dimulai dengan Sesaji dan Doa

Bedah bumi diawali dengan uborampe berisi sesaji seperti bunga, pisang sanggan, dan perlengkapan adat lainnya. Uborampe dibawa ke kedaton, lokasi keluarga raja dimakamkan.

Beberapa abdi dalem kemudian memasuki ruang kedaton, tempat PB X, PB XI, dan PB XII disemayamkan. PB XIII akan dimakamkan di sisi barat, berada tepat di samping ayahandanya, PB XII.

Saat seluruh perlengkapan tiba, pintu makam ditutup dan prosesi doa dipanjatkan. Penggalian liang lahat dilakukan setelahnya oleh para abdi dalem Keraton Surakarta.

Abdi Dalem Kanjengan Bupati Juru Kunci Surakarta, Suradal, menyebut ukuran liang lahat disesuaikan dengan peti.

“Kami menyesuaikan ukuran liang lahat dengan peti. Semua dilakukan sesuai tata cara adat yang diwariskan turun-temurun,” ujarnya. Kedalamannya sekitar dua meter, dengan lebar satu meter dan panjang dua meter.

Persiapan di Imogiri dan Surakarta Berjalan Bersamaan

Penyiapan makam berlangsung bersamaan dengan persiapan adat di Keraton Surakarta. Menurut KPH Joyo Adilogo, makam hanya menangani penggalian dan pembersihan area.

“Dari pihak Imogiri, kita hanya menyiapkan bedah bumi dan membersihkan area makam. Persiapan lain seperti upacara adat dilakukan di Keraton,” tuturnya.

Keranda dan tandu telah disiapkan di kompleks Masjid Sultan Agung, titik awal perjalanan peti jenazah menuju kedaton ketika tiba pada Rabu. 5 November 2025 besok.

Serah terima resmi juga dijadwalkan di sana sebelum prosesi tandu dilanjutkan ke puncak makam. (Eln)