Ide Naskah Khutbah Jumat 31 Oktober 2025: Menjadi Pribadi Istiqamah

Ilustrasi naskah khutbah Jumat 27 Februari 2026. (Pixabay.com)

bernasnews – Berikut contoh naskah khutbah Jumat 31 Oktober 2025 yang bisa menjadi inspirasi khatib. Khutbah yang berisi pesan-pesan positif.

Pada kesempatan ini mengusung tema “Menjadi Pribadi Istiqamah”. Berikut ini naskah khutbah pertama dan kedua yang bisa digunakan hari ini.

Khutbah Pertama

اَلْـحَمْـدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ.

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Dialah yang telah memberi petunjuk kepada kita dengan kalimat kebenaran dan keistiqamahan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat, serta seluruh umat yang mengikuti beliau dengan penuh keikhlasan hingga akhir zaman.

أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

Amma ba’du,

Wahai kaum Muslimin yang dirahmati Allah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa. Jangan sampai kita meninggal dunia kecuali dalam keadaan beriman dan berserah diri sepenuhnya kepada-Nya.

Makna Istiqamah dalam Kehidupan Sehari-hari

Jamaah Jumat yang mulia,
Dalam kehidupan beragama, istiqamah atau konsistensi dalam beribadah memiliki peran yang sangat penting. Istiqamah bukan hanya sekadar melakukan ibadah, tetapi melaksanakannya dengan kesungguhan, berkelanjutan, dan penuh keikhlasan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Fussilat ayat 30:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata, ‘Janganlah kamu takut dan bersedih hati, dan bergembiralah dengan surga yang dijanjikan kepadamu.’”

Ayat ini menegaskan bahwa istiqamah adalah tanda keimanan sejati. Bagi mereka yang senantiasa teguh di jalan Allah, tidak mudah tergoda oleh kesenangan dunia, dan tetap istiqamah dalam ketaatan, Allah menjanjikan kebahagiaan yang abadi.

Istiqamah Membuka Pintu Rezeki

Dalam Surat Al-Jin ayat 16, Allah menegaskan kembali:

وَّاَنْ لَّوِ اسْتَقَامُوْا عَلَى الطَّرِيْقَةِ لَاَسْقَيْنٰهُمْ مَّاۤءً غَدَقًا

Artinya: “Seandainya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan kepada mereka air yang banyak (rezeki yang melimpah).”

Ayat ini memberi pesan bahwa istiqamah bukan hanya mendatangkan ketenangan batin, tetapi juga keberkahan rezeki. Allah menjamin kecukupan bagi hamba-hamba yang setia pada jalan kebenaran.

Amalan Kecil tapi Berkelanjutan Lebih Dicintai Allah

Jamaah Jumat yang dimuliakan,
Kita sering kali semangat beribadah saat menghadapi masalah, namun setelah keadaan membaik, semangat itu memudar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Artinya: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit.”

Hadis ini menegaskan bahwa yang terpenting bukan banyaknya ibadah dalam satu waktu, tetapi keberlanjutan dan keikhlasan dalam melaksanakannya. Amalan kecil namun rutin lebih bernilai di sisi Allah dibandingkan amalan besar yang hanya dilakukan sesekali.

Kunci Ketenangan: Ikhlas dan Tidak Berharap Imbalan

Sahabat Rasulullah dan para ulama sufi mengajarkan bahwa istiqamah tidak akan tumbuh tanpa keikhlasan. Keikhlasan berarti melakukan ibadah bukan karena berharap imbalan, tetapi karena cinta dan kebutuhan untuk dekat kepada Allah.

Jika seseorang shalat hanya karena ingin masuk surga, maka ibadahnya masih bergantung pada keinginan duniawi. Namun jika ia shalat karena merasa itu kebutuhan jiwanya, di situlah nilai istiqamah sejati tumbuh.

Begitu pula dalam doa dan tobat. Orang yang istiqamah lebih menikmati proses berdoa daripada sekadar terkabulnya doa. Ia lebih fokus pada kedekatan dengan Allah ketimbang hasil duniawi yang diharapkan.

Istiqamah Adalah Karunia Agung

Para ulama mengatakan, “Al-Istiqamatu khairun min alfi karamah,” yang berarti “Istiqamah lebih baik daripada seribu karamah (kemuliaan).”

Mengapa demikian? Karena kemuliaan sejati bukanlah kemampuan luar biasa, tetapi keteguhan hati dalam beribadah kapan pun dan di mana pun.

Oleh karena itu, marilah kita jadikan istiqamah sebagai bagian dari karakter kita. Baik dalam ibadah seperti shalat, puasa, dan sedekah, maupun dalam muamalah seperti bekerja jujur, berkata benar, dan menepati janji. Semua bentuk ibadah akan bernilai tinggi jika dilakukan dengan konsistensi dan ketulusan.

Doa Agar Diberi Istiqamah

Menutup khutbah pertama ini, mari kita panjatkan doa sebagaimana yang pernah diajarkan Imam al-Hasan al-Bashri:

اَللّٰهُمَّ أَنْتَ رَبُّنَا فَارْزُقْنَا الْاِسْتِقَامَةَ

Artinya: “Ya Allah, Engkau adalah Tuhan kami, maka anugerahkanlah kepada kami istiqamah di jalan-Mu.”

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْـحَمْـدُ لِلّٰهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ابْنِ عَبْدِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

Amma ba’du,

Wahai hamba-hamba Allah, marilah kita terus menjaga takwa dan memperbanyak amal kebaikan. Ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan berbuat kebajikan.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka marilah kita bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan penuh kecintaan dan keikhlasan.

Doa Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْوَبَاءَ وَالْمِحَنَ وَسُوءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيسِيَا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ شَرٍّ وَمَكْرُوهٍ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Naskah khutbah Jumat, 31 Oktober 2025 ditulis oleh Ustadz H. Muhammad Faizin di laman resmi Universitas Islam Makassar.

***