News  

Air Aqua dari Pegunungan atau Sumur Bor? Ini Penjelasan Lengkap dari Semua Pihak

Air Aqua Subang: dari mata air pegunungan atau sumur bor? Ini penjelasan lengkap dari perusahaan, Danone, Dedi Mulyadi, dan warga. (Youtube/KANG DEDI MULYADI CHANNEL)
Air Aqua Subang: dari mata air pegunungan atau sumur bor? Ini penjelasan lengkap dari perusahaan, Danone, Dedi Mulyadi, dan warga. (Youtube/KANG DEDI MULYADI CHANNEL)

bernasnews.com – Isu sumber air Aqua, khususnya pabrik di Subang, Jawa Barat, tengah menjadi perhatian publik setelah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, melakukan inspeksi mendadak ke lokasi pabrik pada 20 Oktober 2025.

Dalam video yang diunggah di kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel, Dedi terlihat terkejut mengetahui bahwa air yang digunakan untuk produksi air mineral Aqua berasal dari sumur bor dalam, bukan langsung dari mata air pegunungan seperti yang selama ini diyakini masyarakat.

Kunjungan ini memunculkan berbagai pertanyaan dari publik terkait aspek lingkungan, regulasi, dan keberlanjutan sumber daya air. Berikut adalah penjelasan lengkap dari berbagai pihak yang terkait.

Kronologi Sidak Dedi Mulyadi

Dalam sidak tersebut, Dedi Mulyadi menanyakan kepada staf perusahaan apakah air yang digunakan berasal dari sungai atau mata air permukaan.

Staf perusahaan menjelaskan bahwa air diambil dari dalam tanah dengan metode pengeboran, tepatnya dari akuifer dengan kedalaman antara 100–130 meter. Dedi menekankan bahwa pemahaman awalnya selama ini mengira air berasal dari permukaan.

Selain menyoroti sumber air, Dedi juga menyinggung potensi dampak penggunaan kendaraan berat perusahaan yang bisa memperpendek usia infrastruktur jalan, serta menekankan pentingnya izin pengambilan air tanah dan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat sekitar.

Klarifikasi Resmi Aqua

Menanggapi isu tersebut, PT Tirta Investama (Aqua) merilis pernyataan resmi melalui laman perusahaan pada 22 Oktober 2025. Aqua menegaskan bahwa air yang digunakan bukan berasal dari sumur bor biasa, melainkan dari akuifer dalam yang merupakan bagian dari sistem hidrogeologi pegunungan.

Aqua menjelaskan bahwa sebagian titik sumber memiliki sifat self-flowing atau mengalir alami, dan pengambilan air dilakukan sesuai izin pemerintah. Proses pengawasan juga dilakukan secara berkala oleh Badan Geologi dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Perusahaan menambahkan bahwa mereka memiliki Ground Water Resources Policy, yang bertujuan menjaga kualitas air, kelestarian sumber daya, serta pelestarian adat dan cagar budaya di sekitar wilayah operasional.

Terkait dampak lingkungan, Aqua menyebut bahwa kajian bersama UGM dan Unpad menunjukkan pengambilan air tidak menyebabkan longsor atau pergeseran tanah. Faktor lingkungan lain seperti deforestasi dan perubahan tata guna lahan dinilai lebih berpengaruh terhadap risiko tersebut.

Penjelasan Danone Indonesia

Sebagai induk perusahaan, Danone Indonesia menekankan bahwa sumber air Aqua berasal dari 19 titik mata air pegunungan yang tersebar di seluruh Indonesia. Setiap titik sumber dipilih melalui proses seleksi ketat yang mencakup 9 kriteria ilmiah, 5 tahapan evaluasi, dan minimal 1 tahun penelitian.

Menurut Danone, air yang digunakan berasal dari akuifer dalam dengan kedalaman 60–140 meter, sehingga berbeda dari air permukaan atau air tanah dangkal. Tim ahli dari berbagai disiplin, seperti geologi, hidrogeologi, geofisika, dan mikrobiologi, memastikan air tetap terlindungi dan kualitasnya terjaga.

Kekhawatiran Publik dan Warga Sekitar

Meskipun perusahaan menegaskan legalitas dan keberlanjutan pengambilan air, sejumlah warga di sekitar pabrik mengaku mengalami kesulitan air bersih saat musim kemarau. Dalam pernyataannya, Dedi Mulyadi juga menyoroti risiko penurunan muka tanah, longsor, dan krisis air akibat pengambilan air tanah secara besar-besaran.

Dedi menekankan pentingnya meninjau ulang izin perusahaan, memastikan pelestarian lingkungan, serta memastikan tanggung jawab sosial terhadap masyarakat terpenuhi. Ia juga menyoroti aspek ekonomi, mengingat air mineral dijual dengan harga komersial sementara bahan bakunya diperoleh secara gratis.

Transparansi dan Keseimbangan Informasi

Kasus ini menyoroti pentingnya transparansi informasi terkait sumber daya alam, terutama air. Di satu sisi, perusahaan menekankan kepatuhan terhadap regulasi, kajian ilmiah, dan konservasi lingkungan. Di sisi lain, pejabat publik dan warga mengedepankan kebutuhan sosial dan keamanan lingkungan.

Dengan memahami berbagai perspektif, publik dapat memperoleh informasi yang seimbang dan faktual mengenai penggunaan sumber air Aqua. Artikel ini menunjukkan bahwa isu air mineral tidak hanya soal produksi, tetapi juga keberlanjutan lingkungan dan tanggung jawab sosial perusahaan.***