News  

Ribuan Siswa RA Bantul Bersalawat di Trirenggo, Sambut Hari Santri dengan Meriah

Ribuan siswa RA Bantul bersalawat bersama di Lapangan Trirenggo menjelang peringatan Hari Santri 2025. (Dok Pemkab Bantul)

bernasnews — Suara salawat menggema dari Lapangan Trirenggo pada Selasa pagi, 21 Oktober 2025. Ribuan anak dari Raudhatul Athfal (RA) se-Kabupaten Bantul bersatu dalam lantunan pujian kepada Nabi Muhammad SAW.

Kegiatan bertajuk Gebyar Salawat ini menjadi bagian dari perayaan menjelang Hari Santri Nasional yang jatuh setiap 22 Oktober.

Sekitar 3.500 siswa dari 47 lembaga RA di seluruh Bantul tampak antusias mengikuti acara tersebut. Mereka hadir dengan pakaian muslim seragam, bernyanyi, dan bersalawat dalam suasana penuh keceriaan.

Bagi para guru dan orang tua, kegiatan ini menjadi momen yang mengharukan sekaligus membanggakan karena anak-anak bisa belajar mencintai Rasulullah SAW dengan cara yang menyenangkan.

Ajang Menanamkan Cinta Rasulullah Sejak Dini

Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Dikmad) Kementerian Agama Kabupaten Bantul, Ahmad Musyadad, menjelaskan bahwa Gebyar Salawat bukan sekadar acara seremonial tahunan.

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan wadah untuk mengasah bakat anak-anak di bidang seni Islami sekaligus mempererat kebersamaan antara guru, siswa, dan orang tua.

“Kegiatan ini kami rancang agar anak-anak tidak hanya mengenal Nabi lewat buku, tapi juga melalui ekspresi seni dan kebersamaan. Mereka belajar mencintai Rasulullah SAW dengan cara yang menggembirakan,” ujar Musyadad seperti diberitakan tugujogja.id.

Ia menambahkan, pendidikan karakter melalui nilai-nilai Islam sangat penting ditanamkan sejak dini.

Dalam dunia yang semakin kompleks, anak-anak perlu diperkenalkan pada ajaran kasih sayang, ketulusan, dan ketaatan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Melalui salawat bersama, nilai-nilai tersebut dapat tumbuh secara alami di hati mereka.

Apresiasi dari Kemenag dan Pemerintah Daerah

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul, Muntholib, memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Gebyar Salawat.

Menurutnya, acara ini tidak hanya menghadirkan keceriaan, tetapi juga menjadi sarana efektif membentuk karakter generasi Islam yang berakhlak mulia.

“Melalui Gebyar Salawat ini, kami ingin membangkitkan semangat anak-anak agar menjadi generasi yang saleh dan salihah. Semoga mereka tumbuh menjadi anak yang meneladani akhlak Rasulullah SAW,” ungkap Muntholib.

Ia menilai bahwa kegiatan ini sekaligus menjadi momentum untuk mempererat hubungan antar lembaga pendidikan Islam di Bantul.

Menurutnya, kebersamaan yang terjalin di antara guru, siswa, dan masyarakat merupakan fondasi penting dalam membangun generasi bangsa yang kuat, beriman, dan berakhlak baik.

Kebanggaan Bunda PAUD Bantul

Kegembiraan juga dirasakan oleh Bunda PAUD Kabupaten Bantul, Emi Masruroh Halim, yang hadir di tengah acara. Ia mengaku terharu melihat ribuan anak kecil melantunkan salawat dengan penuh semangat dan ketulusan.

“Saya merasa bahagia melihat anak-anak Bantul berkumpul dan bersalawat bersama. Ini momen yang luar biasa, karena mereka belajar mencintai Nabi Muhammad sejak dini,” tutur Emi.

Ia berharap Gebyar Salawat dapat menjadi tradisi tahunan yang terus dilestarikan. Menurutnya, kegiatan semacam ini membantu menumbuhkan semangat anak-anak untuk menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia.

“Saya juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para guru yang telah mendidik anak-anak dengan penuh kasih sayang. Berkat bimbingan mereka, anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang saleh, sehat, cerdas, dan ceria. Ini investasi besar bagi masa depan bangsa,” tambahnya.

Harmoni Antara Keceriaan dan Spiritualitas

Suasana Lapangan Trirenggo pagi itu mencerminkan harmoni antara keceriaan anak-anak dan kekhidmatan spiritual.

Para guru dengan sabar mendampingi siswa, sementara para orang tua menyaksikan dari kejauhan dengan senyum bangga. Tiap lantunan salawat seolah menjadi doa bersama yang mengalun ke langit, mengajarkan cinta kepada Nabi sejak usia dini.

Bantul hari itu tidak hanya diramaikan oleh tawa anak-anak, tetapi juga oleh semangat keislaman yang menyejukkan.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, Gebyar Salawat hadir sebagai pengingat bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat diajarkan melalui cara-cara yang sederhana, lewat lagu, doa, dan kebersamaan yang tulus.

Ketika ribuan suara kecil berpadu dalam satu irama salawat, gema keimanan seolah memantul di udara.

Semangat itu menjadi simbol bahwa ajaran kasih sayang Rasulullah akan terus hidup di hati generasi muda Bantul, dari lapangan yang penuh tawa hingga masa depan yang mereka bangun. (Eln)