bernasnews – Kegiatan Pramuka yang biasanya penuh tawa dan keceriaan berubah menjadi duka mendalam di Padukuhan Kamal, Kalurahan Wunung, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul.
Galang Saputra Gibran, siswa kelas 2 SD berusia 8 tahun, ditemukan meninggal dunia di dasar Sungai Kamal setelah mengikuti kegiatan observasi alam bersama teman-temannya.
Peristiwa ini terjadi pada Rabu, 15 Oktober 2025, dan meninggalkan duka mendalam bagi keluarga serta warga sekitar.
Menurut keterangan pihak kepolisian, korban dinyatakan tewas akibat tenggelam disertai benturan keras di bagian kepala.
Laporan Awal: Malam Penuh Kepanikan
Sekitar pukul 20.15 WIB, petugas piket menerima laporan dari warga yang menyebut ada anak tenggelam di Sungai Kamal. Dalam laporan tersebut disebutkan korban telah ditemukan dalam kondisi tak bernyawa dan dibawa ke rumah sakit.
“Petugas segera meluncur ke rumah sakit untuk memastikan kabar tersebut. Dan langsung mengecek ke RSUD, dan benar, korban sudah meninggal dunia,” ujar Kapolsek Wonosari, Kompol Edi Purnomo dikutip dari kabarjawa.com.
Setelah memastikan kondisi korban, tim kepolisian langsung menuju lokasi kejadian untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengumpulkan keterangan dari berbagai saksi.
Kronologi Kegiatan Pramuka
Kegiatan Pramuka di SD Kamal dimulai sekitar pukul 13.00 WIB dengan melibatkan sekitar 80 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6. Dua pembina, Sugiyono dan Heri Setiyawan, mendampingi para siswa menuju Sungai Kamal sejauh 2,5 kilometer untuk melakukan observasi alam.
Setibanya di lokasi sekitar pukul 14.15 WIB, siswa diarahkan untuk mengamati hewan dan tumbuhan di sekitar sungai. Sebagian siswa terlihat bermain di tepi sungai, bahkan ada yang masuk ke air dangkal untuk melihat kepiting dan biota kecil lainnya.
Sekitar pukul 15.00 WIB kegiatan berakhir. Para pembina mengarahkan siswa untuk kembali ke sekolah. Sebagian dijemput orang tua di jalan, dan rombongan tiba di sekolah sekitar pukul 16.00 WIB.
Tanda-Tanda Awal: Tas dan Sepatu yang Tertinggal
Setelah semua siswa tiba di sekolah, pembina Heri Setiyawan menyadari ada satu tas dan sepasang sepatu yang tertinggal. Barang itu diketahui milik Galang.
“Awalnya kami pikir Galang sudah dijemput orang tuanya di jalan,” ungkap Kompol Edi menirukan keterangan saksi.
Barang tersebut kemudian diantar ke rumah korban oleh temannya, Hanan. Namun, hingga petang tiba, Galang tak kunjung pulang. Ibunya, Dewi Cahyowati, panik dan mulai mencari ke sekolah, rumah teman, hingga ke lokasi kegiatan. Semua usaha berakhir tanpa hasil.
Pencarian oleh Warga dan Penemuan Jasad
Menjelang pukul 19.00 WIB, warga setempat memutuskan untuk melakukan pencarian di sepanjang aliran Sungai Kamal. Beberapa saksi mengaku sempat melihat korban masih berada di sekitar sungai setelah kegiatan selesai.
Salah satu warga, Sarjiyo, kemudian memutuskan menyelam di bagian sungai yang lebih dalam, sekitar dua meter. Tak lama berselang, ia menemukan tubuh Galang di dasar sungai.
“Kondisinya sudah kaku,” ujar Kompol Edi.
Tubuh korban segera dievakuasi oleh warga lain bernama Yudi, lalu dibawa ke RSUD Wonosari. Namun, tim medis memastikan Galang sudah meninggal lebih dari dua jam sebelum ditemukan.
Hasil Pemeriksaan Medis dan Olah TKP
Dokter jaga RSUD Wonosari, dr. Hisyam Ilham, melakukan pemeriksaan pada tubuh korban dan menemukan tanda-tanda tenggelam seperti kulit pucat, lebam mayat, serta darah yang keluar dari telinga kiri akibat benturan di bagian belakang kepala.
“Tidak ada tanda kekerasan atau penganiayaan. Korban meninggal karena tenggelam dan benturan,” kata Kompol Edi mengutip hasil pemeriksaan dokter.
Dari hasil olah TKP, diketahui sungai memiliki kedalaman sekitar dua meter di bagian tengah. Meski air terlihat tenang, lokasi tersebut berada di area berbatu dan cukup jauh dari permukiman warga — kondisi yang rawan bagi anak-anak tanpa pengawasan ketat.
Pembina Tidak Sadar Korban Tertinggal
Kedua pembina mengaku tidak mengetahui bahwa korban masih berada di sungai. Mereka hanya melihat siswa bermain di bagian yang dangkal dan memastikan semua telah kembali sebelum meninggalkan lokasi.
Namun karena sebagian anak dijemput orang tua di perjalanan, pengawasan menjadi tidak merata.
Kronologi Singkat Tragedi Sungai Kamal:
- 13.00 WIB — Kegiatan Pramuka dimulai di SD Kamal.
- 14.15 WIB — Siswa tiba di Sungai Kamal untuk observasi.
- 15.00 WIB — Kegiatan selesai dan rombongan pulang.
- 16.00 WIB — Barang milik korban tertinggal di sekolah.
- 19.00 WIB — Warga mulai melakukan pencarian.
- 20.15 WIB — Polisi menerima laporan penemuan korban.
- 20.30 WIB — Korban dipastikan meninggal dunia.
Refleksi dan Peringatan
Kematian Galang menjadi peringatan penting bagi sekolah dan pihak terkait tentang pentingnya keselamatan dalam kegiatan luar ruangan. Kegiatan Pramuka yang seharusnya membentuk karakter dan kemandirian justru berujung duka karena kelengahan.
Kini, Sungai Kamal menyimpan kisah kelam yang tak akan dilupakan warga Wunung. Polisi mengimbau agar setiap kegiatan luar sekolah yang melibatkan anak-anak dilakukan dengan pengawasan ketat dan mitigasi risiko yang matang. (Eln)












