News  

Warungboto Jadi RTH Produktif, Pemkot Yogyakarta Bangun Rumah Maggot dan Pengolahan Sampah Organik

bernasnews — Pemerintah Kota Yogyakarta tengah merehabilitasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) publik di kawasan Warungboto dengan menambah fasilitas pengelolaan sampah organik.

Program ini menjadi bagian dari gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas JOS) yang menekankan kolaborasi antara pemerintah dan warga dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Kepala Bidang Ruang Terbuka Hijau Publik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, Rina Aryati Nugraha, menjelaskan bahwa rehabilitasi ini bertujuan untuk mengoptimalkan potensi RTH Warungboto yang sejak awal telah aktif dalam kegiatan pengolahan sampah berbasis masyarakat.

“Selama ini warga sudah punya sistem mandiri untuk mengolah sampah organik jadi kompos dan memanfaatkannya untuk menanam lidah buaya di area RTH. Kami ingin menambah fasilitas rumah maggot untuk memperkuat sistem tersebut,” ujar Rina seperti diberitakan tugujogja.id.

Langkah ini menunjukkan komitmen Pemkot Yogyakarta dalam mewujudkan kota hijau berkelanjutan, di mana setiap ruang terbuka bukan sekadar taman, tetapi juga wadah tumbuhnya kesadaran ekologis.

RTH Warungboto Disiapkan Jadi Kawasan Percontohan RTH Produktif

Menurut Rina, RTH Warungboto memiliki luas sekitar 1.000 meter persegi, sehingga sangat potensial dikembangkan sebagai kawasan percontohan RTH produktif dan edukatif.

Saat ini, di area tersebut sudah ada fasilitas pengomposan sederhana yang dikelola bersama oleh kelompok warga, petani lokal, dan komunitas lingkungan.

“Masyarakat Warungboto sudah berjalan mandiri. Antusiasmenya tinggi, jadi kami hanya perlu memperkuat dukungan lewat program rehabilitasi ini,” tambahnya.

DLH Kota Yogyakarta kini tengah menyiapkan proses rehabilitasi melalui sistem Unit Layanan Pengadaan (ULP) elektronik.

Proyek ini dibiayai dari APBD Perubahan 2025, dengan pembangunan rumah maggot dijadwalkan mulai November dan rampung pada Desember 2025.

“RTH publik dengan tambahan pengelolaan sampah organik di Warungboto akan kami jadikan proyek percontohan optimalisasi RTH publik di Yogyakarta,” ujar Rina.

RTH Wirogunan Direhabilitasi, Fokus pada Pembangunan Pendopo

Selain Warungboto, DLH juga merehabilitasi RTH publik di Wirogunan. Bedanya, proyek ini berfokus pada pembangunan pendopo dengan pagu anggaran sekitar Rp200 juta yang bersumber dari APBD Perubahan 2025.

Meski begitu, Rina menjelaskan bahwa RTH Wirogunan belum memungkinkan untuk ditambah fasilitas pengelolaan sampah organik.

“Kalau luas lahannya cukup, tentu kami bisa tambahkan fasilitas pengolahan sampah. Tapi kalau di bawah 200 meter persegi, sangat terbatas,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa kondisi lahan sempit di wilayah perkotaan menuntut inovasi dalam tata kelola lingkungan.

Konsep RTH partisipatif menjadi solusi efektif agar masyarakat bisa ikut mengelola sampah organik tanpa menimbulkan bau atau gangguan bagi lingkungan sekitar.

Gajah Wong Edupark Jadi Bukti Keberhasilan Program DLH

Sebelumnya, Pemkot Yogyakarta juga sukses menerapkan program serupa di Gajah Wong Edupark. Kawasan ini dikenal sebagai contoh nyata sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga menjadi kompos untuk penghijauan dan edukasi lingkungan.

“Program Warungboto ini akan mengikuti jejak Gajah Wong Edupark,” ungkap Rina.

Ia berharap langkah ini memperkuat citra Yogyakarta sebagai kota pelopor pengelolaan sampah berbasis komunitas, sekaligus memperluas jaringan RTH produktif yang memiliki fungsi ganda, ruang hijau dan ruang edukatif.

“Kami ingin setiap RTH publik di Yogyakarta bukan hanya tempat rekreasi, tapi juga tempat belajar, tempat warga berdaya, dan tempat bumi kembali bernapas,” ujarnya. (Eln)