bernasnews – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daerah Istimewa Yogyakarta mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan melanda wilayah DIY pada Senin, 13 Oktober 2025.
Berdasarkan prakiraan cuaca harian berlaku 24 jam mulai pukul 07.00 WIB, terdapat potensi hujan lebat disertai kilat dan angin kencang di sejumlah wilayah, terutama Sleman, Kota Yogyakarta, dan Kulon Progo.
Kondisi Cuaca dan Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah
BMKG memperkirakan langit Yogyakarta yang cerah di pagi hari akan berubah menjadi berawan menjelang siang, kemudian mendung pekat pada siang hingga sore hari. Di beberapa titik, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi.
Wilayah Gunungkidul dan Bantul diperkirakan mengalami hujan ringan hingga sedang, terutama di bagian selatan.
Menjelang malam, kondisi cuaca kembali berawan, sementara dini hari berpotensi turun hujan ringan di Kulon Progo bagian selatan, Bantul bagian selatan, dan Gunungkidul bagian selatan.
Meski hujan diperkirakan terjadi di banyak titik, suhu udara Yogyakarta masih tergolong hangat. BMKG mencatat rentang suhu berkisar 22–33 derajat Celsius dengan kelembapan udara 65–95 persen. Arah angin bertiup dari tenggara hingga selatan dengan kecepatan 10–25 kilometer per jam.
BMKG mengingatkan masyarakat agar mewaspadai kemungkinan terjadinya angin kencang yang bisa menyebabkan pohon tumbang, baliho roboh, atau atap rumah ringan terangkat.
Fenomena angin kencang umumnya muncul menjelang hujan deras, terutama pada sore hari ketika suhu udara menurun cepat akibat perubahan tekanan.
Dampak di Wilayah Laut dan Imbauan BMKG
Selain di daratan, BMKG juga mencatat peningkatan kecepatan angin di wilayah laut selatan Yogyakarta. Ketinggian gelombang laut diperkirakan mencapai 1,5 hingga 2,5 meter, tergolong dalam kategori sedang. Kondisi tersebut menandakan adanya risiko bagi aktivitas pelayaran dan wisata pantai.
BMKG mengimbau nelayan tradisional agar menunda keberangkatan menggunakan perahu kecil, khususnya pada siang hingga sore hari ketika angin laut cenderung meningkat.
Sementara bagi wisatawan, petugas meminta agar tidak berenang terlalu jauh dari bibir pantai karena arus bawah permukaan laut bisa cukup kuat dan berbahaya.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG DIY menyampaikan pentingnya meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat disertai kilat atau petir serta angin kencang.
Fenomena ini kerap muncul secara tiba-tiba dengan ciri mendung pekat dan udara yang terasa lebih panas dari biasanya beberapa jam sebelum hujan turun.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak berteduh di bawah pohon atau papan reklame saat hujan lebat dan petir. Matikan alat elektronik yang tidak diperlukan, serta pastikan saluran air di sekitar rumah tetap lancar,” ujar pejabat BMKG DIY dalam keterangannya, Minggu, 12 Oktober 2025 malam .
Peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan, menurut BMKG, kerap memunculkan cuaca ekstrem yang tidak menentu.
Kondisi ini sering menyebabkan perubahan suhu yang kontras antara siang dan sore hari. Situasi tersebut dapat berdampak pada aktivitas masyarakat di luar ruangan, termasuk sektor pertanian, transportasi, dan pariwisata.
BMKG menegaskan bahwa informasi prakiraan cuaca akan terus diperbarui setiap hari, dan masyarakat dapat memantau perkembangan terbaru melalui situs resmi atau kanal media sosial BMKG DIY.
Dengan mengikuti informasi terkini, warga diharapkan dapat menyesuaikan aktivitas harian agar tetap aman dan efisien.
Fenomena cuaca ekstrem bukan hal baru di Yogyakarta, namun setiap peringatan dini perlu disikapi dengan tenang dan waspada. Langit cerah pada pagi hari dapat berubah cepat menjadi mendung dan disertai hujan deras.
BMKG mengajak masyarakat untuk menjaga lingkungan sekitar, mengamankan barang-barang berisiko, dan tetap memperhatikan informasi resmi terkait kondisi cuaca.












