
bernasnews – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Yogyakarta International Airport (STAMET YIA) kembali mengeluarkan peringatan dini untuk masyarakat pesisir selatan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Minggu (12/10/2025), BMKG memprediksi gelombang laut di perairan selatan DIY berpotensi mencapai ketinggian antara 2,5 hingga 4 meter, masuk dalam kategori tinggi.
Sejak pagi, langit Yogyakarta tampak berawan. Namun, di balik ketenangan itu, ancaman cuaca ekstrem mulai mengintai. BMKG mencatat, arah angin dari tenggara hingga selatan dengan kecepatan 10–25 km/jam berpotensi memperkuat gelombang di perairan Samudra Hindia yang berbatasan langsung dengan pesisir DIY.
“Gelombang tinggi ini bisa membahayakan nelayan dan aktivitas wisata bahari. Kami mengimbau semua pihak untuk menunda kegiatan di laut hingga kondisi benar-benar aman,” tegas prakirawan BMKG STAMET YIA, dalam rilis resmi yang diperbarui pukul 06.00 WIB.
Memasuki siang hingga sore hari, BMKG memperkirakan potensi hujan ringan hingga sedang dapat terjadi di seluruh wilayah DIY, mulai dari Kota Yogyakarta, Sleman, Bantul, Kulon Progo, hingga Gunungkidul.
Meski intensitasnya tidak besar, hujan tetap bisa menambah risiko jika berbarengan dengan angin kencang di wilayah pesisir.
Pada malam hari, kondisi diperkirakan berawan, namun menjelang dini hari, hujan ringan kembali berpotensi mengguyur bagian selatan Bantul, Kulon Progo, dan Gunungkidul, wilayah yang berbatasan langsung dengan laut dan sering menjadi titik rawan saat gelombang pasang datang.
BMKG juga mencatat suhu udara berkisar antara 22–33°C dan kelembapan udara mencapai 95% di beberapa titik. Kombinasi suhu panas dan kelembapan tinggi ini menjadi bahan bakar alami bagi pembentukan awan-awan konvektif, yang sering memicu hujan mendadak disertai angin kencang.
Kondisi atmosfer seperti ini, menurut BMKG, juga bisa memperkuat tekanan udara di sekitar laut selatan, yang menyebabkan dorongan angin ke permukaan laut semakin kuat dan akhirnya menimbulkan gelombang tinggi.
BMKG meminta para nelayan di pesisir Bantul, Gunungkidul, dan Kulon Progo untuk tidak memaksakan diri melaut. Gelombang tinggi bukan hanya bisa membalikkan perahu kecil, tapi juga mengancam keselamatan di sekitar muara sungai yang bermuara langsung ke laut.
Selain nelayan, wisatawan yang berkunjung ke pantai-pantai selatan seperti Parangtritis, Depok, Glagah, hingga Pantai Baron juga diminta tidak berenang atau bermain terlalu dekat dengan bibir pantai. Ombak tinggi bisa datang tiba-tiba, bahkan saat cuaca terlihat cerah.
“Gelombang setinggi empat meter bisa menghantam daratan dalam hitungan detik. Jangan tertipu oleh langit cerah atau ombak yang tampak kecil di permukaan,” ujar seorang petugas SAR Pantai Parangtritis, Nugroho.
Menindaklanjuti peringatan BMKG, Pemerintah Kota dan Kabupaten di wilayah pesisir selatan mulai mengaktifkan pos pemantauan cuaca dan keselamatan wisata laut. Petugas gabungan dari BPBD, SAR, dan Dinas Pariwisata berjaga untuk memberikan peringatan langsung kepada pengunjung dan nelayan.
Fenomena gelombang tinggi ini juga menjadi tanda bahwa DIY mulai memasuki masa peralihan musim dari kemarau ke penghujan. Pola angin yang berubah, kelembapan yang meningkat, serta munculnya awan-awan tebal menjadi pertanda bahwa dinamika cuaca di selatan Jawa sedang aktif.
BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap memantau perkembangan cuaca melalui kanal resmi dan tidak mudah percaya pada informasi yang tidak bersumber jelas.
“Kami terus memperbarui data setiap hari. Masyarakat bisa memeriksa langsung di aplikasi Info BMKG atau media sosial resmi kami,” tambah prakirawan.
Meski Yogyakarta dikenal dengan langit birunya yang indah, cuaca ekstrem bisa berubah dalam hitungan jam. BMKG menegaskan, kewaspadaan menjadi kunci keselamatan, terutama bagi mereka yang beraktivitas di sekitar laut dan wilayah terbuka.
“Cuaca hari ini bisa tampak tenang, tapi laut punya kekuatan besar yang tidak bisa diprediksi sepenuhnya,” pungkas prakirawan.











