bernasnews.com – Semangat pelestarian batik di Yogyakarta menemukan wujud baru lewat gagasan Jonni Afrizon, Kepala Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB) Yogyakarta.
Ia menjadi sosok di balik lahirnya Batik City Run 2025, sebuah ajang lari yang menggabungkan olahraga, budaya, dan pariwisata untuk memperkuat posisi Jogja sebagai Kota Batik Dunia.
Dalam perbincangan bersama Kabar Jawa di Kantor BBSPJIKB Yogyakarta, Jonni menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar lomba lari, melainkan bentuk kampanye kreatif untuk mengenalkan kembali batik kepada masyarakat luas.
“Kami ingin menghadirkan cara baru untuk mencintai batik, tidak hanya lewat kain atau pameran, tetapi lewat kegiatan yang menyatukan semangat kebersamaan dan kebugaran,” ujarnya.
Menyatukan Budaya dan Sportivitas
Batik City Run 2025 akan digelar bertepatan dengan perayaan Hari Batik Nasional dan menargetkan 1.000 peserta dari berbagai lapisan masyarakat.
Jonni menyebut acara ini sebagai momentum penting untuk meneguhkan kembali kebanggaan masyarakat terhadap batik sekaligus memperkuat citra Yogyakarta sebagai pusat warisan budaya dunia.
“Batik City Run bukan sekadar event olahraga. Ini simbol bagaimana batik bisa hidup di ruang-ruang modern dan menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat sekarang,” jelasnya.
Peserta nantinya akan mengenakan atribut bernuansa batik selama berlari menyusuri jalur khas kota Yogyakarta.
Rute tersebut juga akan menampilkan area-area bersejarah dan sentra batik lokal sebagai bentuk apresiasi terhadap para perajin yang menjadi penopang industri batik di Indonesia.
Dari BBSPJIKB untuk Masyarakat
Sebagai lembaga yang selama ini menjadi garda depan dalam menjaga mutu dan pengembangan produk kerajinan serta batik, BBSPJIKB melalui Jonni berupaya membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan masyarakat.
ingin agar masyarakat tidak hanya mengenal batik sebagai produk budaya, tetapi juga memahami nilai-nilai yang menyertainya: kerja keras, ketelitian, dan keindahan dalam kesederhanaan.
“Banyak yang belum tahu bahwa BBSPJIKB bukan hanya soal pengujian dan sertifikasi. Kami juga memiliki peran dalam edukasi publik agar batik terus berkembang dan diminati lintas generasi,” tutur Jonni.
Gerakan Lari untuk Warisan Budaya
Selain kompetisi lari, Batik City Run 2025 juga akan menghadirkan pertunjukan musik, pameran batik kontemporer, hingga bazar produk lokal yang menggambarkan kekayaan budaya Yogyakarta.
Semua elemen ini dirancang untuk menciptakan pengalaman yang bukan hanya menyehatkan, tetapi juga menghidupkan rasa cinta terhadap batik di tengah masyarakat.
Jonni berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda tahunan yang melibatkan lebih banyak pihak di masa mendatang.
“Kami ingin menciptakan gerakan berkelanjutan. Karena kalau cinta batik hanya berhenti di hari peringatan, itu artinya kita belum sungguh-sungguh menjaga warisan ini,” katanya.
Jonni Afrizon dan Langkah untuk Masa Depan Batik
Bagi Jonni Afrizon, Batik City Run 2025 bukan sekadar acara olahraga atau perayaan budaya—melainkan simbol gerak maju pelestarian batik di era modern.
Dengan menggabungkan nilai-nilai tradisi dan sportivitas, ia ingin menunjukkan bahwa batik bisa hidup di setiap langkah masyarakat yang mencintai Indonesia.
“Jogja adalah Kota Batik Dunia, dan tugas kita adalah memastikan predikat itu tetap bersinar. Melalui Batik City Run, saya ingin mengajak semua orang berlari bersama, membawa batik menuju masa depan yang lebih hidup dan bermakna,” pungkas Jonni Afrizon.











