News  

Kelapa Kopyor Semuten Dlingo Jadi Komoditas Unggulan, Ekonomi Desa Berkembang Pesat

Ilustrasi | Kelompok Taruna Tani Rukun Lestari mengembangkan produk olahan kelapa kopyor dari hasil budidaya lokal. (Freeik)

bernasnews — Di kawasan perbukitan Dlingo yang berhawa sejuk, warga Kalurahan Semuten, Jatimulyo, Bantul berhasil mengubah potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi baru.

Melalui kerja sama antara pemerintah desa dan kelompok tani, kelapa kopyor kini menjadi komoditas unggulan yang tidak hanya bernilai jual tinggi, tetapi juga membuka peluang edukasi dan pemberdayaan masyarakat.

Awal dari Kebiasaan Warga dan Penemuan Tak Terduga

Perjalanan ini bermula dari kebiasaan warga menanam kelapa di pekarangan rumah. Di antara deretan pohon itu, salah satu milik Mbah Paijo menghasilkan buah yang berbeda.

Daging buahnya lembut dan mudah terlepas dari tempurung. Setelah diamati, ternyata itu adalah kelapa kopyor, jenis kelapa langka yang terbentuk secara alami melalui mutasi genetik.

Mengetahui keistimewaan tersebut, Kelompok Taruna Tani Rukun Lestari melihat peluang besar untuk dikembangkan.

Bersama pemerintah Kalurahan Semuten, mereka sepakat menjadikan kelapa kopyor sebagai basis ekonomi desa. Dari sinilah muncul gagasan membangun Kampung Kopyor sebagai sentra budidaya dan edukasi.

Dukungan Pemerintah dan Langkah Nyata Pembibitan

Diberitakan kabarjawa.com, Lurah Semuten, Mukidi, mendukung penuh gagasan warganya. Pada tahun anggaran 2023–2024, pemerintah kalurahan mengalokasikan Rp42 juta dari APBKal untuk program pembibitan kelapa varietas lokal.

Hasilnya, sekitar 2.000 bibit kelapa disebarkan kepada warga untuk ditanam di lahan masing-masing.

“Karena itu kami sediakan lahan 3–4 hektare dari tanah kas desa untuk mereka kelola dan menanam kelapa kopyor,” ujar Mukidi.

Program ini menjadi langkah awal pembentukan Kampung Kopyor, dengan harapan kelapa kopyor bisa menjadi ikon baru sektor pertanian di Dlingo.

Inovasi Kultur Embrio: Meningkatkan Kualitas dan Kepastian

Ketua Kelompok Taruna Tani Rukun Lestari, Iwan Hariyanto, melihat perlunya inovasi untuk menjaga kualitas bibit.

Ia menggandeng Laboratorium Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Unit Bogor untuk melakukan pembibitan menggunakan teknik kultur embrio.

Dari proses ini, dihasilkan sekitar 700 bibit kelapa kopyor murni dengan tingkat keberhasilan 100 persen. Meskipun membutuhkan waktu panjang hingga 14 bulan untuk siap tanam, hasilnya menjanjikan stabilitas produksi di masa depan.

Demplot Kampung Kopyor: Dari Lahan Uji Coba ke Sentra Edukasi

Sembilan bulan lalu, hasil pembibitan tersebut ditanam di lahan seluas empat hektare milik desa. Di demplot itu kini tumbuh berbagai varietas seperti Kopyor hasil kultur embrio, Wulung Ijo, Genjah Entok, dan Pandan Wangi.

“Kelapa tidak mengenal musim, sehingga bisa memberikan penghasilan rutin bagi petani. Ini yang membuat kami fokus pada kopyor,” jelas Iwan.

Lahan demplot itu kini menjadi tempat belajar dan berbagi pengalaman. Setiap akhir pekan, area tersebut ramai dikunjungi oleh akademisi, kelompok wanita tani, hingga pelajar dari luar daerah yang ingin melihat langsung praktik pertanian berbasis inovasi.

Rencana Pengembangan: Pertanian Terpadu dan Wisata Edukasi

Melihat antusiasme pengunjung, Iwan dan kelompoknya berencana memperluas konsep Kampung Kopyor menjadi kawasan pertanian terpadu.

“Ke depan di sini akan ada perikanan, peternakan, dan akses jalan yang lebih baik. Kami ingin menjadikannya sentra pembelajaran dan wisata edukasi,” ujarnya.

Untuk efisiensi lahan, kelompok tani juga menerapkan sistem tumpangsari dengan menanam sayuran di sela-sela kelapa. Hasil panen dijual untuk tambahan pendapatan sekaligus mendukung biaya operasional demplot. Perawatannya pun sederhana, cukup penyiraman rutin dan pemupukan setiap enam bulan.

Produk Olahan dan Pemasaran

Keberhasilan budidaya kelapa kopyor di Semuten membuka jalan bagi munculnya berbagai produk olahan. Kelompok Taruna Tani kini memproduksi kelapa kopyor frozen, minuman kaleng, dan kelapa segar siap konsumsi.

Produk frozen mereka telah dipasarkan ke sejumlah rumah makan di Bantul hingga ke Bandung, sementara produk kaleng masih menunggu izin edar BPOM.

Selain itu, kelompok ini juga memasarkan produknya di lokasi wisata seperti HeHa Sky View, Hutan Pinus Becici, dan Rest Area Wonosari.

Selain produk konsumsi, mereka menjual bibit kopyor hasil kultur embrio seharga Rp1,2 juta per bibit dengan garansi mutu. Bibit konvensional dijual Rp185 ribu dan varietas Pandan Wangi dengan potensi kopyor 25 persen seharga Rp200 ribu.

Harapan untuk Pengembangan Desa

Lurah Semuten, Mukidi, menyampaikan rasa syukur atas hasil yang sudah terlihat dalam waktu singkat.

“Alhamdulillah, belum genap satu tahun, tapi sudah tampak hasilnya. Insya Allah, tahun ke depan pengembangannya akan terus berlanjut,” tuturnya.

Ia berharap Semuten dapat menjadi contoh bagi kalurahan lain di Bantul untuk berani berinovasi dalam mengelola potensi lokal.

Kini, Kalurahan Semuten dikenal bukan hanya sebagai desa di lereng Dlingo, tetapi juga sebagai pelopor ekonomi berbasis kemandirian. Melalui kelapa kopyor, masyarakat membuktikan bahwa kolaborasi, inovasi, dan kesabaran mampu menumbuhkan peluang baru di tengah desa. (Eln)