bernasnews — Guna mewujudkan pendidikan kejuruan yang berwawasan global namun tetap berakar pada nilai budaya lokal dilakukan oleh tim mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui riset berjudul “Harmonisasi Falsafah Hamemayu Hayuning Bawana dan Environmental Social Governance untuk Transformasi SMK menuju School 5.0.”
Riset ini menjadi salah satu program PKM-RSH (Program Kreativitas Mahasiswa – Riset Sosial Humaniora) yang didanai oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi tahun 2025. Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 2 Yogyakarta dan SMK Negeri 3 Yogyakarta, dengan bimbingan dosen dari Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi UNY.
Ketua Tim, Syifa Aida Khoirunnisa, mengemukakan, bahwa penelitian ini berangkat dari keprihatinan terhadap rendahnya pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap nilai-nilai kearifan lokal Jawa. Padahal, falsafah Hamemayu Hayuning Bawana memiliki makna mendalam tentang menjaga keseimbangan dan keindahan dunia—sebuah konsep yang sejalan dengan semangat Environmental Social Governance (ESG).
“SMK di era Society 5.0 harus mampu memadukan kemajuan teknologi dengan tanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial. Nilai-nilai budaya lokal dapat menjadi pedoman moral dalam membangun sekolah yang adaptif dan berkelanjutan,” kata Syifa Aida Khoirunnisa, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (9/10/2025).
Melalui pendekatan kualitatif etnografis, tim melakukan wawancara mendalam terhadap kepala sekolah, guru, siswa, serta seorang budayawan Jawa. Selain itu, dilakukan observasi dan dokumentasi untuk menelusuri penerapan nilai-nilai Hamemayu Hayuning Bawana dan prinsip ESG di lingkungan sekolah.
“Kedua SMK yang menjadi lokasi riset dipilih karena telah berstatus Sekolah Adiwiyata dan memiliki orientasi pada pendidikan berbasis budaya serta pelestarian lingkungan,” ungkap Syifa.
Hasil pengamatan awal menunjukkan, bahwa kedua sekolah telah menerapkan berbagai kegiatan yang mendukung prinsip ESG, seperti pengelolaan sampah, konservasi energi, dan kegiatan sosial masyarakat. Namun, nilai-nilai budaya lokal seperti Hamemayu Hayuning Bawana belum sepenuhnya terintegrasi dalam manajemen sekolah maupun dalam kebijakan pembelajaran.
“Kami ingin membangun peta konseptual yang menunjukkan bagaimana nilai-nilai budaya Jawa bisa bersinergi dengan ESG untuk mewujudkan School 5.0 yang berwawasan lingkungan, sosial, dan budaya,” tambah Syifa.
Dalam kajian teoretisnya, penelitian ini menggabungkan teori Antropologi Ekologis dari Julian Steward dan teori Perubahan Organisasi dari John Kotter. Pendekatan ini digunakan untuk menafsirkan hubungan antara budaya, lingkungan, dan tata kelola lembaga pendidikan.
Integrasi teori ini diharapkan dapat membantu sekolah-sekolah kejuruan dalam merancang strategi perubahan menuju lembaga yang berkelanjutan (sustainable institution).

Selanjutnya, Azizah Iswan Ramadhani, anggota tim yang bertugas menyusun instrumen riset, menyampaikan bahwa penelitian ini juga ingin menunjukkan bahwa budaya bukanlah sesuatu yang ketinggalan zaman.
“Nilai-nilai budaya seperti gotong royong, tanggung jawab, dan harmoni justru sangat relevan untuk membentuk karakter siswa di tengah kemajuan teknologi. Budaya adalah fondasi moral dari inovasi,” terang Azizah.
Selain memberikan manfaat teoretis bagi pengembangan ilmu Manajemen Pendidikan dan Budaya Jawa, penelitian ini juga memberikan rekomendasi kebijakan bagi Dinas Pendidikan DIY agar memperkuat integrasi nilai-nilai lokal dalam kebijakan pendidikan kejuruan. Fitriana Luvitasari menambahkan,
“Kami ingin hasil riset ini tidak hanya berhenti di laporan, tetapi benar-benar menjadi model yang bisa diterapkan di sekolah-sekolah lain.” harapnya.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Bahasa Seni dan Budaya UNY Prof. Sri Harti Widyastuti mengatakan bahwa harmonisasi antara falsafah Hamemayu Hayuning Bawana dengan Environmental Social Governance bisa menjadi dasar transformasi SMK menuju School 5.0 dimana falsafah tersebut dapat menjadi landasan nilai kultur untuk tetap melestarikan alam, hubungan dengan sesama dengan memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk melestarikan dan memperkuat nilai-nilai kemanusiaan.
“Falsafah tersebut menjadi dasar penggunaan teknologi secara bijak dan beretika yang juga selaras dengan environmental social governance,” tutur Prof. Sri Harti Widyastuti.
Riset yang dilaksanakan selama empat bulan ini menghasilkan beberapa luaran, di antaranya peta konseptual harmonisasi ESG dan Hamemayu Hayuning Bawana, artikel ilmiah, serta publikasi edukatif di media sosial. Tim juga berencana mengajukan Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) untuk model konseptual yang dikembangkan. (*/ ted)











