bernasnews — Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), meresmikan proyek sumur bor berkapasitas besar di Desa Kelor, Gunungkidul.
Sumur bor tersebut mampu memompa hingga 50 liter air per detik, yang diharapkan dapat mendukung sektor pertanian dan memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah yang kerap mengalami kekeringan.
Dalam acara peresmian, AHY berdiri di tengah masyarakat dan menyaksikan aliran air jernih memancar dari pipa besar.
“Saya tadi melihat sendiri airnya begitu bersih hingga saya bisa melihat bayangan wajah saya di permukaannya,” ujar AHY.
Dari Tanah Gersang Menuju Wilayah Produktif
Gunungkidul selama ini dikenal sebagai wilayah berlahan kapur dengan pasokan air terbatas. Kondisi tersebut membuat petani hanya bisa menanam dua kali dalam setahun.
Melalui proyek sumur bor berkapasitas 50 liter per detik ini, pemerintah berharap produktivitas pertanian dapat meningkat dan lahan menjadi lebih subur.
AHY menjelaskan bahwa pembangunan sumur bor tersebut merupakan bagian dari program pemerataan infrastruktur nasional. Program ini tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga penataan ulang tata ruang wilayah agar selaras dengan kebutuhan saat ini dan masa depan.
“Kita harus menyiapkan tata ruang yang menjawab tantangan zaman. Dari lahan yang clean and clear, pembangunan bisa berjalan terarah dan berdampak nyata bagi masyarakat,” tegas AHY.
Dalam kesempatan tersebut, AHY juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah berkolaborasi.
Ia menyebut peran Sri Sultan Hamengkubuwono X selaku Gubernur DIY, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih, jajaran Forkopimda DIY, serta Kementerian PUPR, BPN, dan BBWS Serayu Opak yang mendukung pelaksanaan proyek.
“Saya tahu proyek seperti ini butuh waktu dan ketelitian luar biasa. Tapi ketika semua pihak bergandengan tangan—dari pemerintah pusat, daerah, hingga masyarakat—hasilnya bisa kita rasakan bersama,” tutur AHY.
Air Menjadi Sumber Kehidupan Masyarakat
Air memiliki peran penting bagi masyarakat Gunungkidul, tidak hanya sebagai kebutuhan dasar, tetapi juga simbol harapan. Karena itu, AHY mengingatkan masyarakat untuk menjaga sumber daya air dan memastikan kualitasnya tetap baik.
Menurut Kementerian PUPR, air dari sumur bor tersebut dapat mengairi ratusan hektare lahan pertanian serta menyediakan air bersih untuk ribuan warga. Sebanyak 40 liter per detik akan dialokasikan untuk irigasi dan 10 liter per detik untuk kebutuhan konsumsi masyarakat.
Dengan tambahan pasokan air ini, produktivitas pertanian diperkirakan meningkat. Petani yang sebelumnya hanya dapat panen dua kali setahun kini berpotensi melakukan panen hingga tiga kali dalam setahun.
Usai memberikan kuliah umum di Universitas Gadjah Mada (UGM), AHY menyempatkan diri hadir di Gunungkidul bersama jajaran Deputi Kemenko Pembangunan, termasuk Najib Faisal dan Rahmat Khairudin. Mereka meninjau lokasi proyek dan berdialog langsung dengan masyarakat.
“Pembangunan harus dirasakan langsung oleh rakyat. Karena itu, saya ingin turun ke lapangan, memastikan setiap proyek benar-benar membawa manfaat. Air yang hari ini kita lihat bukan sekadar air. Ini adalah kehidupan, kemakmuran, dan simbol kemajuan. Mari kita jaga bersama agar Gunungkidul tak lagi dikenal sebagai tanah kering, tapi sebagai tanah yang makmur dan penuh kehidupan,” kata AHY.












