News  

Keracunan Massal di Semin, Dinas Kesehatan Temukan Bakteri Berbahaya di Makanan Siswa

Hasil Uji Lab Dugaan Keracunan di Semin/Foto: Freepik

 

bernasnews– Kasus dugaan keracunan pangan yang menimpa sejumlah siswa di Semin beberapa waktu lalu akhirnya menemukan titik terang.

Melansir dari kabarjawa.com, hasil uji Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi (BLKK) Yogyakarta mengungkap fakta mengejutkan.

Dinas Kesehatan Gunungkidul melalui Kepala Dinas Ismono membeberkan hasil resmi tersebut dan menyampaikan langkah pencegahan agar kasus serupa tidak terulang.

Hasil Pemeriksaan Sampel

Ismono menegaskan bahwa pihaknya langsung mengirimkan sampel makanan dan air bersih dari Sekolah Penggerak di Semin ke BLKK Yogyakarta setelah kasus mencuat. Pihaknya menerima laporan adanya gejala keracunan massal.

“Tim segera mengambil sampel sisa makanan dan air, kemudian mengirimkannya ke laboratorium untuk diteliti,” ujar Ismono.

Uji laboratorium membuktikan adanya kontaminasi bakteri berbahaya di sejumlah makanan yang dikonsumsi siswa. Klebsiella pneumoniae terdeteksi pada oseng buncis wortel, semur tahu, dan irisan buah melon.

Bakteri ini bisa menimbulkan demam, pusing, hingga mual. Kontaminasi dipicu oleh konsumsi bahan pangan yang tidak dicuci bersih atau air minum yang tercemar.

Selain itu, sampel ayam goreng tepung dan irisan buah melon mengandung kapang atau khamir. Mikroorganisme ini tumbuh akibat proses penyimpanan yang tidak tepat. Gejala yang muncul antara lain mual, muntah, dan diare.

Hasil pemeriksaan juga menemukan Bacillus cereus pada oseng buncis wortel dan semur tahu. Bakteri ini sering menyerang bahan pangan seperti nasi, daging, susu, keju, dan sayuran.

Jika penyimpanan atau pengolahan makanan tidak benar, bakteri ini menimbulkan gejala mual, muntah, hingga diare.

Lebih parah lagi, sampel air bersih di lokasi sekolah juga mengandung E. coli patogen. Bakteri ini bisa menimbulkan diare, demam, mual, hingga kram perut.

Dugaan kontaminasi air terjadi karena proses mencuci bahan makanan yang tidak bersih atau proses memasak dengan tingkat kematangan yang tidak sempurna.

Respons atas Keracunan Massal di Semin

Ismono menyatakan bahwa hasil ini menjadi alarm penting bagi seluruh pihak, terutama pengelola dapur sekolah.

“Kejadian di Semin harus menjadi pelajaran berharga. Proses pengolahan makanan harus benar-benar sesuai standar, mulai dari pemilihan bahan, penyimpanan, hingga penyajian,” tegasnya.

Dinas Kesehatan Gunungkidul juga memberikan rekomendasi. Pihak sekolah perlu segera memproses sertifikat syarat laik higiene sanitasi (SLHS) sesuai Surat Edaran Kementerian Kesehatan.

Proses pemilihan bahan makanan, pemasakan, penyajian, dan distribusi harus mematuhi SOP. Lingkungan dapur sekolah juga wajib menjaga kebersihan dengan pengendalian vektor seperti lalat dan serangga.

Ismono menambahkan pentingnya penggunaan alat pelindung diri (APD) oleh petugas dapur. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir juga menjadi kewajiban utama.

“Semua alat dan bahan makanan harus ditempatkan di rak atau palet agar tidak bersentuhan langsung dengan lantai,” ucapnya.

Pemkab Gunungkidul melalui Dinas Kesehatan berkomitmen memperketat pengawasan keamanan pangan di sekolah. Program edukasi tentang higienitas dan keamanan makanan akan digencarkan. Pihaknya akan mendampingi sekolah agar menerapkan SOP dengan disiplin.

“Anak-anak harus mendapat jaminan makanan yang sehat dan aman,” kata Ismono.

Kasus dugaan keracunan massal di Semin menjadi peringatan keras bahwa aspek keamanan pangan tidak remeh. Hasil uji laboratorium ini membuka fakta bahwa makanan dan air yang terlihat bersih sekalipun bisa menjadi sumber bahaya jika tidak tepat pengolahannya.***(Eln)