News  

Penyebab Keracunan di MTsN 4 Wonosari Terungkap, Dapur MBG Langgar Higienitas

Proses penyajian menu MBG di suatu SPPG. (Foto: Istimewa)

bernasnews – Penyebab keracunan yang dialami lima siswa MTsN 4 Wonosari pada awal September 2025 akhirnya terungkap.

Hasil uji laboratorium menunjukkan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disajikan di sekolah tersebut terkontaminasi berbagai jenis bakteri berbahaya akibat proses pengolahan yang tidak higienis dan bahan makanan yang tidak dicuci bersih.

Hasil Uji Laboratorium Ungkap Kontaminasi Bakteri

Diberitakan kabarjawa.com, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul, Ismono, menjelaskan kronologi kasus ini. Menurutnya, insiden bermula pada 3 September 2025, saat lima siswa tiba-tiba mengalami sakit perut, mual, muntah, dan pusing setelah mengonsumsi jatah makanan MBG.

“Para siswa langsung kami bawa ke rumah sakit. Tim kami juga bergerak cepat mengambil sisa makanan dan sampel dari dapur SPPG Siraman untuk diuji di laboratorium,” kata Ismono.

Setelah tiga pekan, hasil pemeriksaan dari Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi (BLKK) Yogyakarta akhirnya keluar.

Hasil tersebut menunjukkan adanya bakteri Klebsiella pneumoniae pada hampir seluruh menu yang dikonsumsi, seperti nasi, telur saus mentega, brokoli, wortel rebus, hingga semangka. Bakteri yang sama juga ditemukan dalam muntahan siswa.

“Bakteri ini bisa masuk lewat bahan makanan yang tidak dicuci bersih atau air yang sudah terkontaminasi,” ungkap Ismono.

Selain itu, sampel muntahan siswa dan semangka yang dikonsumsi juga positif mengandung Staphylococcus aureus, bakteri yang biasanya muncul akibat penanganan makanan yang tidak higienis.

Tim laboratorium bahkan mendeteksi adanya kapang dan khamir, yang berpotensi menyebabkan gejala diare, mual, dan muntah.

Tidak berhenti di situ, sampel dari dapur SPPG Siraman sebagai penyedia MBG juga terindikasi memiliki masalah serius.

Pada nasi dan tempe krispi yang diambil dari dapur, ditemukan bakteri Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli patogenik.

“Bakteri-bakteri tersebut biasanya muncul akibat bahan makanan tidak dicuci dengan baik, penyimpanan yang salah, atau proses pemasakan yang tidak sempurna,” jelas Ismono.

Rekomendasi Dinkes untuk Pencegahan

Dinkes Gunungkidul telah memberikan rekomendasi tegas kepada pihak penyedia MBG agar kasus serupa tidak terulang.

Ismono menekankan bahwa standar higienitas harus diterapkan mulai dari tahap pemilihan bahan baku, pengolahan, penyajian, hingga distribusi makanan.

“Lingkungan dapur harus steril, bahan makanan wajib disimpan di tempat yang layak, petugas harus menggunakan alat pelindung diri, dan pengendalian serangga harus diperketat,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pihak sekolah agar lebih berhati-hati dalam pengawasan. Menu yang akan diberikan kepada siswa harus diperiksa terlebih dahulu agar tidak menimbulkan risiko kesehatan.

Dinkes masih menunggu hasil uji laboratorium tambahan dari dapur SPPG di Kapanewon Semin. Hasil tersebut akan menjadi bahan evaluasi untuk memastikan keamanan seluruh rantai distribusi program MBG.

“Kami terus melakukan pemantauan agar kasus serupa tidak terulang lagi. Anak-anak harus mendapatkan makanan sehat, bukan penyakit,” pungkas Ismono. (Eln)