bernasnews – Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi cuaca ekstrem yang mulai muncul saat peralihan musim kemarau ke musim hujan.
Langkah ini dilakukan dengan menambah tujuh unit alat peringatan dini banjir atau Early Warning System (EWS) dan mengoptimalkan 169 Kampung Tangguh Bencana (KTB) yang tersebar di berbagai wilayah.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta, Nur Hidayat, menyebut tanda-tanda musim hujan ekstrem sudah terlihat sejak Agustus.
Menurutnya, intensitas hujan mulai meningkat dan menimbulkan sejumlah dampak seperti rumah roboh, pohon tumbang, serta genangan air di beberapa titik.
“BMKG sudah mengingatkan sejak awal. Pada September, Oktober, dan November ini kita harus waspada karena potensi hujan sedang hingga lebat disertai angin kencang bisa saja muncul sewaktu-waktu,” ujar Nur Hidayat dikutip dari tugujogja.id.
Tambah 7 Unit EWS di Tiga Sungai Besar
Saat ini, BPBD mencatat terdapat 26 unit EWS yang terpasang di tiga sungai utama, yaitu Sungai Code, Winongo, dan Gajahwong. Penambahan tujuh unit otomatis tahun ini diharapkan memperkuat sistem peringatan dini, yang sebelumnya hanya mengandalkan 17 unit manual.
“Sempat ada EWS rusak di Keparakan, tetapi sudah kita perbaiki. Pada Oktober nanti, kita juga akan melakukan simulasi penggunaan EWS untuk memantau ketinggian air sungai,” kata Nur Hidayat.
Selain memanfaatkan teknologi, Pemkot Yogyakarta juga membangun ketahanan berbasis komunitas melalui 169 Kampung Tangguh Bencana (KTB).
Setiap kampung telah dibekali pelatihan mitigasi, keterampilan tanggap darurat, serta simulasi jalur evakuasi. Peralatan sensor, perlengkapan evakuasi, hingga sarana pendukung turut diperiksa secara berkala agar siap digunakan saat darurat.
“Kampung tangguh adalah kunci. Pertahanan awal ada pada warga. Kalau rumah kelihatan mau robo, segera perbaiki. Kalau pohon miring, segera tebang. Kalau ada kerusakan atau bahaya, segera lapor. Respon cepat akan menyelamatkan kita,” tegasnya.
Sinergi Lintas Dinas Hadapi Hidrometeorologi
Upaya penguatan kesiapsiagaan tidak hanya dilakukan BPBD. Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPKP) memperbaiki drainase, talud, serta membersihkan saluran air di titik rawan longsor.
Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) memangkas pohon besar di jalur protokol untuk mengurangi risiko tumbang saat angin kencang.
“Kalau semua bergerak bersama, risiko bisa ditekan. Yang penting kita tidak lengah,” imbuh Nur Hidayat.
Pemetaan Wilayah Rawan Bencana
BPBD Kota Yogyakarta juga telah memetakan daerah rawan bencana. Sungai Code mengancam kawasan Gondokusuman, Jetis, dan Gedongtengen, sedangkan Sungai Winongo berpotensi membanjiri Tegalrejo, Ngampilan, dan Mantrijeron. Sungai Gajahwong membahayakan Umbulharjo dan Kotagede.
Selain itu, tebing di Kotagede, Umbulharjo, dan Kraton rawan longsor. Jalur protokol seperti Jalan Kusumanegara, Jalan Wahid Hasyim, dan Jalan Kyai Mojo berisiko tertimpa pohon tumbang. Ada pula 14 kelurahan padat penduduk yang rawan tergenang saat hujan deras.
Surat Edaran Peringatan Dini
Kepala Bidang Pencegahan Kesiapsiagaan dan Data Informasi Komunikasi Kebencanaan BPBD Kota Yogyakarta, Iswari Mahendrarko, menyampaikan bahwa pihaknya telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 100.3.4.4/1155 tentang Kesiapsiagaan Menghadapi Potensi Cuaca Ekstrem.
Edaran tersebut ditujukan kepada seluruh masyarakat, termasuk pengelola KTB, untuk meningkatkan kewaspadaan selama periode transisi musim September–Oktober 2025.
“Surat edaran ini menjadi panduan sekaligus alarm bagi seluruh warga Kota Yogya agar tidak menyepelekan cuaca ekstrem,” kata Iswari.
Ia menambahkan, penambahan unit EWS, penguatan kampung tangguh, hingga sinergi lintas dinas menunjukkan keseriusan Pemkot Yogyakarta menghadapi potensi bencana.
Menurutnya, setiap detik peringatan dini bisa menyelamatkan nyawa, dan kesiapan warga menjadi benteng terakhir.
“Kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem bukan hanya tugas pemerintah, melainkan juga tanggung jawab bersama. Dengan sinergi, kewaspadaan, dan tindakan cepat, Yogyakarta membuktikan diri siap menghadapi musim hujan penuh risiko di tahun ini,” tuturnya. (Eln)












