bernasnews– Deru mesin motor bergema di halaman kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul, Selasa (16/9/2025). Satu per satu kendaraan roda dua antre menjalani uji petik emisi, bertepatan dengan peringatan Hari Ozon Sedunia.
Hasilnya cukup mengejutkan. Dari 150 motor yang menjadi sampel, 22 kendaraan atau sekitar 15 persen gagal memenuhi baku mutu emisi gas buang.
Kegiatan ini bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk nyata perlawanan terhadap polusi udara yang semakin mengkhawatirkan. Mesin yang tidak terawat, meski hanya dari satu motor, bisa menjadi sumber ancaman senyap bagi kesehatan masyarakat.
Aturan dan Mekanisme Uji Emisi Motor di Gunungkidul
Kepala DLH Gunungkidul, Hari Sukmono, menjelaskan bahwa uji emisi ini berlandaskan Permen LH Nomor 8 Tahun 2023. Pemeriksaan dilakukan pada lima parameter, di antaranya karbon monoksida (CO) dan hidrokarbon (HC).
“Kalau hasilnya di bawah ambang batas, kendaraan dianggap lulus dan ditempeli stiker hijau. Tapi kalau melewati ambang batas, kendaraan dinyatakan tidak lulus dan pemiliknya akan mendapat edukasi untuk melakukan servis,” terang Hari, mengutip dari kabarjawa.com.
Ia menegaskan, kendaraan yang gagal uji tidak langsung mendapat sanksi tilang atau tipiring. Kegiatan ini murni edukasi. DLH ingin menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa merawat mesin motor juga berarti menjaga kualitas udara.
Dari catatan DLH, sebagian besar kendaraan yang gagal uji emisi adalah motor berusia lebih dari 10 tahun. Komponen mesin yang aus, karburator yang tidak lagi presisi, hingga knalpot bocor menjadi penyebab utama tingginya kadar polutan.
“Asap pekat yang keluar saat diuji menunjukkan bahwa ada pekerjaan rumah besar: bagaimana pemilik merawat motor agar tetap sehat dan ramah lingkungan,” kata Hari.
Ia mendorong pemilik kendaraan segera melakukan servis di bengkel resmi. Dengan perawatan berkala, emisi bisa ditekan sehingga mesin tetap efisien sekaligus ramah lingkungan.
“Ini bukan semata soal mesin, tapi juga soal masa depan udara yang kita hirup bersama,” tambahnya.
Stiker Hijau jadi Simbol Kepedulian
Motor yang lulus uji langsung mendapat stiker hijau. Bagi pemilik, stiker ini menjadi tanda kebanggaan tersendiri. Mereka ikut serta dalam menjaga udara bersih di Gunungkidul.
DLH menegaskan, kegiatan uji emisi pada Hari Ozon Sedunia ini adalah panggung edukasi publik. Masyarakat diingatkan bahwa polusi tidak hanya datang dari pabrik atau cerobong industri besar, melainkan juga dari mesin motor yang sehari-hari dipakai.
“Kendaraan bukan sekadar alat transportasi, tapi juga cermin kepedulian kita terhadap lingkungan. Rawatlah mesin, bukan hanya untuk kelancaran berkendara, tetapi juga demi udara bersih bagi anak cucu kita,” pungkas Hari.***(Eln)












