bernasnews – Pemerintah Kota Yogyakarta menghadapi tantangan besar dengan tingginya proporsi penduduk lanjut usia yang mencapai 16 persen, angka tertinggi di Indonesia.
Situasi ini memaksa seluruh elemen pemerintahan untuk bekerja lebih keras, khususnya aparatur sipil negara (ASN) yang dituntut tampil sebagai motor penggerak perubahan di tengah masyarakat.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa ASN harus benar-benar hadir sebagai agen perubahan yang membawa dampak nyata.
Ia mengingatkan bahwa kualitas ASN tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teoritis, tetapi juga oleh bukti nyata dalam memberi solusi di lapangan.
“Sejak dulu saya selalu berpegang pada konsep bahwa ASN kompeten adalah inti. Mereka dipercaya negara untuk hadir di tengah masyarakat sebagai agen perubahan,” tegas Hasto.
Hasto menuturkan pengalamannya saat memimpin Kabupaten Kulon Progo. Kala itu, jumlah ASN hanya sekitar 1,9 persen dari total penduduk.
Meski kecil, mereka terbukti mampu menggerakkan roda pemerintahan dan pembangunan.
“Kalau di Yogyakarta ini, proporsinya lebih baik. ASN bisa menjadi agent of change, apalagi kalau didukung oleh pelaku usaha dan masyarakat yang produktif,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa kompetensi ASN menjadi penentu arah pembangunan kota.
Di tengah jumlah penduduk lansia yang tinggi, kelompok masyarakat produktif yang hanya sekitar 20 persen harus diimbangi oleh ASN berkualitas tinggi.
“Kalau yang produktif hanya sekitar 20 persen, maka kualitas ASN dan kelompok masyarakat yang berdaya benar-benar menentukan arah perubahan kota ini,” jelas Hasto.
Dengan jumlah penduduk lansia yang terus meningkat, Kota Yogyakarta ditantang untuk tidak hanya menjaga produktivitas masyarakat, tetapi juga menciptakan lingkungan yang ramah bagi warga lanjut usia.
Di sinilah peran ASN semakin vital. Mereka harus bergerak cepat, mengintegrasikan program, dan memastikan setiap kebijakan benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.
Kota Yogyakarta kini berada di persimpangan penting. Apakah kota ini akan terjebak dalam beban demografi, atau justru mampu menjadikan tantangan ini sebagai peluang emas menuju kota yang lebih inklusif?
Jawabannya terletak pada komitmen ASN dan masyarakat untuk bergerak bersama dalam satu visi perubahan.
Fenomena tingginya proporsi lansia di Kota Yogyakarta tidak bisa dipandang sebelah mata.
Kondisi ini mencerminkan keberhasilan pembangunan kesehatan, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan serius dalam sektor produktivitas.
Dengan beban demografi tersebut, ASN dituntut lebih dari sekadar birokrat.
Mereka harus menjadi katalisator yang mampu menjembatani kebutuhan masyarakat usia lanjut dengan kebijakan publik yang solutif, cepat, dan berdaya guna.
Hasto, yang juga berprofesi sebagai dokter, memberi perbandingan menarik.
Menurutnya, kompetensi sejati tidak cukup hanya menguasai teori. Kompetensi harus dibuktikan melalui kemampuan menangani masalah nyata.
“ASN tidak cukup hanya tahu, tapi juga harus mampu melakukan dan memberi solusi. Itulah yang membedakan kompeten dengan sekadar tahu,” tandasnya.
Dengan nada serius, ia menambahkan bahwa ekspektasinya terhadap ASN bukan sekadar menghadirkan inovasi, melainkan melakukan reformasi bahkan revolusi dalam cara kerja pemerintahan.
Hasto mengajak seluruh ASN dan masyarakat untuk berkomitmen membangun ekosistem pembelajaran yang kondusif serta mengembangkan manajemen pengetahuan di lingkungan birokrasi.
Upaya ini diyakini akan melahirkan pelayanan publik yang lebih efektif dan efisien.
“Ekspektasi saya bukan sekadar inovasi, tapi reformasi bahkan revolusi. Mari bersama membangun Kota Yogyakarta yang semakin maju dengan ASN sebagai pelopor perubahan,” pungkasnya.












