bernasnews – Isu mengenai Arcteryx Indonesia belakangan ini mencuri perhatian publik. Bukan karena peluncuran koleksi terbaru, melainkan karena munculnya outlet yang menjual produk dengan label Arc’teryx di Bali dan Jakarta.
Masalahnya, Amer Sports Canada Inc., pemilik resmi merek Arc’teryx, menegaskan bahwa gerai tersebut bukan bagian dari jaringan resmi mereka.
Produk yang dipasarkan pun dinyatakan tidak bergaransi resmi serta tidak sesuai standar kualitas global.
Klarifikasi ini memicu kehebohan, terutama di kalangan pecinta aktivitas outdoor yang selama ini menaruh kepercayaan besar pada brand asal Kanada tersebut.
Sidang Gugatan Terbuka di Jakarta
Kisruh Arcteryx Indonesia berakar dari pendaftaran merek oleh sebuah perusahaan asal Tiongkok di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).
Pendaftaran inilah yang dipakai sebagai dasar hukum untuk membuka gerai. Amer Sports kemudian menggugat ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, dengan sidang perdana digelar pada 12 Agustus 2025 lalu.
Hadir langsung dalam sidang, Cameron Clark, Head of Legal Arc’teryx Equipment, menegaskan bahwa langkah hukum ini bertujuan membatalkan pendaftaran yang dianggap tidak sah.
Menurutnya, hanya dengan cara itu Arc’teryx bisa menghadirkan produk resmi di pasar Indonesia tanpa menimbulkan kebingungan bagi konsumen.
Outlet Bali dan Jakarta Jadi Sorotan Publik
Sejak kasus ini mencuat, outlet Arc’teryx di Bali dan Jakarta langsung jadi pusat perhatian. Banyak pembeli mengira toko berlabel internasional pasti resmi, padahal Amer Sports memastikan sebaliknya.
Kondisi ini membuat banyak orang mulai ragu dengan produk yang sudah dibeli. Ada yang khawatir soal kualitas, ada pula yang mempertanyakan keselamatan penggunaan perlengkapan outdoor yang ternyata bukan standar resmi Arc’teryx.
Bagi produk teknis seperti jaket tahan badai atau tas ekspedisi, kualitas tentu bukan sekadar soal gaya, melainkan soal keamanan di lapangan.
Imbauan bagi Konsumen Indonesia
Amer Sports menekankan bahwa hingga kini tidak ada toko resmi Arcteryx Indonesia. Informasi mengenai gerai resmi hanya tersedia di situs global mereka, dan Indonesia tidak tercantum dalam daftar tersebut.
Mereka mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati sebelum membeli. Produk yang tidak resmi tidak hanya berisiko menurunkan performa, tetapi juga tidak memiliki garansi purna jual. Dengan kata lain, bila terjadi kerusakan atau masalah, konsumen akan menanggung risiko sendiri.
Belajar dari Kasus Arcteryx Indonesia
Kasus ini seharusnya jadi pengingat penting bagi konsumen. Membeli produk premium bukan hanya soal harga dan gengsi, melainkan juga memastikan keaslian dan perlindungan garansi.
Konsumen perlu membiasakan diri untuk memverifikasi keaslian produk melalui situs resmi, menanyakan garansi, hingga memastikan distributor memiliki izin langsung dari pemilik merek.
Dengan begitu, masyarakat tidak mudah terjebak membeli produk berlabel internasional yang ternyata tidak diakui pemilik sahnya.
Hingga pertengahan September 2025, kasus Arcteryx Indonesia masih bergulir di pengadilan dan belum ada putusan final. Sementara itu, Amer Sports menegaskan sekali lagi: gerai di Bali dan Jakarta bukan bagian dari jaringan resmi mereka.
Bagi konsumen, langkah paling bijak saat ini adalah waspada dan tidak tergesa-gesa membeli produk yang mengklaim sebagai Arc’teryx di Indonesia. Hanya dengan menjadi pembeli cerdas, publik bisa terhindar dari kerugian, sekaligus mendukung perlindungan merek yang sehat di tanah air.***











