bernasnews – Ratusan langkah kaki para pemuda Gunungkidul bergema di tanah leluhur, Selasa. 9 September 2025. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menggelar Pengembaraan Kebangsaan 2025, sebuah agenda monumental yang bertujuan menyalakan kembali api nasionalisme di dada generasi muda.
Kegiatan ini berlangsung di tiga titik bersejarah, mulai dari Bangsal Suaka Praja, Monumen Jenderal Sudirman Bejiharjo, hingga finis di Balai Kalurahan Bejiharjo, Karangmojo.
Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Gunungkidul, Johan Eko Sudarto, menegaskan bahwa pengembaraan ini tidak sekadar agenda seremonial.
Ia menyebut kegiatan tersebut memiliki landasan hukum kuat, yakni Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 38 Tahun 2011 tentang pedoman peningkatan kesadaran bela negara di daerah, serta Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Yogyakarta.
“Tujuan kegiatan ini sangat jelas. Pertama, kami ingin menumbuhkan kembali spirit milenial kejuangan para pahlawan. Kedua, kami menanamkan nilai nasionalisme, semangat juang, dan cinta tanah air di kalangan organisasi masyarakat. Ketiga, kami membangkitkan rasa optimisme masyarakat agar rela berkorban dan terus berkarya demi kejayaan Gunungkidul dan Indonesia,” tegas Johan.
Meski semula direncanakan diikuti satu kompi atau sekitar 100 peserta, efisiensi membuat jumlah peserta menyusut menjadi sekitar 50 orang. Mereka berasal dari berbagai organisasi kemasyarakatan yang berkomitmen menjaga keutuhan NKRI.
Johan menambahkan, kegiatan ini terselenggara berkat dukungan dana keistimewaan Yogyakarta 2025, serta sinergi Bappeda, Satpol PP, dan berbagai pihak yang berperan di balik layar.
Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto, menyebut bahwa hari itu bukanlah hari biasa, melainkan hari lahirnya kembali semangat kebangsaan para pemuda Gunungkidul.
Saat ini, tidak hanya berjalan di atas tanah leluhur, tetapi mengembara dalam jiwa, menapaki jejak para pahlawan yang berteriak lantang: Merdeka atau Mati! Bung Karno pernah berkata, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.
“Hari ini, kalianlah pemuda itu. Bukan karena jumlah, melainkan karena semangat dan cinta tanah air yang menyala di dada kalian,” seru Joko.
Joko menegaskan, pengembaraan kebangsaan bukan sekadar petualangan fisik, melainkan perjalanan spiritual untuk menyadarkan generasi muda bahwa mereka adalah bagian dari sejarah bangsa.
Ia mengingatkan tantangan zaman, teknologi, globalisasi, narkoba, hingga budaya instan, yang bisa menggerus jati diri bangsa.
“Pemuda Gunungkidul harus teguh. Katakan tidak pada degradasi moral, dan katakan iya pada kerja keras, kejujuran, dan cinta tanah air. Bela negara bukan hanya di medan perang, tetapi juga ketika kalian belajar tekun, menjaga lingkungan, menolak narkoba, menghormati orang tua, menciptakan usaha produktif, dan menjadi agen perubahan,” tegasnya.











