bernasnews – Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta menyampaikan pernyataan sikap terkait gelombang demonstrasi yang terjadi di berbagai daerah dan menimbulkan korban jiwa. Pihak kampus menilai eskalasi bisa semakin meningkat apabila akar persoalan tidak segera ditangani oleh para pengambil kebijakan.
Dalam pernyataannya, UWM mengingatkan agar para demonstran menjaga aksi tetap damai dan tidak terjebak dalam tindakan anarkis. “Para demonstran untuk tidak melakukan berbagai kerusakan dalam melakukan aksinya, dan mewaspadai jangan sampai aksi-aksi mulia dan tulus yang dilakukan untuk kepentingan bangsa ini, disusupi oleh pihak-pihak yang menyebabkan demonstrasi diwarnai tindakan anarkis,” tegas Rektor UWM Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec..
Pihak kampus juga menekankan pentingnya aparat kepolisian bersikap profesional dalam menghadapi massa. “Para polisi dan petugas keamanan lainnya yang sering dihadapkan langsung dengan demonstran agar tidak bersikap represif dan mengedepankan kekerasan terhadap para pendemo. Sangat tidak bijaksana kalau mereka diperlakukan sebagai musuh sehingga muncul tindak kekerasan dan kesewenangan yang telah menimbulkan korban jiwa,” kata Edy.
UWM menyoroti tragedi tewasnya pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, serta dugaan korban jiwa lain di Yogyakarta dan Makassar. “Menyesalkan tindakan Brimob yang akibat kearoganan dan ketidakhati-hatiannya yang tidak sesuai dengan rasa kemanusiaan dan hukum, telah menewaskan seorang warga yang sedang mencari nafkah keluarga, almarhum Affan Kurniawan,” Edy UWM. Untuk itu, mereka mendesak adanya pengusutan tuntas tanpa intervensi korps atau kelompok.
Selain itu, Edy juga mengkritisi lemahnya sikap pemerintah dalam merespons persoalan mendasar yang memicu gelombang unjuk rasa. “Menyesalkan sikap Pemerintah yang tidak tegas, tidak menyeluruh, dan tidak mengoreksi dari hulu atau sumber kebijakan-kebijakan ataupun keputusan yang menjadi penyebab terjadinya aksi demo belakangan ini,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut juga menyinggung kebijakan kontroversial pemerintah seperti program Makan Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, dan Koperasi Merah Putih yang dinilai perlu dikaji ulang. Di sisi lain, UWM mendorong efisiensi anggaran negara, termasuk meninjau ulang tingginya tunjangan pejabat hingga perampingan kelembagaan pemerintah.
UWM bahkan meminta Presiden untuk lebih mandiri dalam mengelola kabinet. “Presiden harus menunjukkan kemandiriannya sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, sehingga bisa membuat kebijakan dan mengelola personal Kabinet tanpa terikat kontrak balas budi,” kata dia.
Mereka juga menyoroti perlunya reformasi institusi kepolisian, terutama pasca tragedi Affan Kurniawan. “Kasus meninggalnya Affan Kurniawan misalnya, seharusnya bukan disikapi hanya dengan sekedar ucapan dukacita, santunan, dan janji-janji namun perbaikan institusi kepolisian secara keseluruhan yang sudah menjadi obyek kritik masyarakat sejak lama,” tegas Edy.
Menutup pernyataan, UWM mengimbau seluruh elemen masyarakat tetap menjaga ketertiban dalam menyampaikan aspirasi. “Kepada para Mahasiswa, Pelajar, Lembaga Swadaya Masyarakat, berbagai Organisasi dan elemen masyarakat yang terlibat dalam aksi-aksi menyampaikan aspirasinya, diharapkan selalu menjaga ketertiban, ketentraman masyarakat, santun, dan tidak melakukan tindakan penjarahan, perusakan fasilitas publik, aset pribadi lainnya, ataupun anarkis.”
“Demikian pernyataan sikap kami, semoga dapat menjadi perhatian para Pengambil Kebijakan. Mudah-mudahan ke depan Indonesia tetap aman, damai, bersatu, dan adil,” pungkas Edy.












