News  

Rincian 7 Tuntutan Utama Demo 28 Agustus 2025 hingga Memanas?

Rincian 7 Tuntutan utama demo hingga memanas di berbagai daerah? (Pixabay.com)

bernasnews – Gelombang demonstrasi besar kembali mengguncang Indonesia pada akhir Agustus 2025. Aksi yang awalnya berlangsung sebagai penyampaian aspirasi rakyat di depan Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, justru berakhir dengan ketegangan, bentrokan, hingga jatuhnya korban jiwa.

Demonstrasi yang dimulai sejak Senin, 25 Agustus 2025, berlanjut hingga Kamis, 28 Agustus 2025. Dari hari ke hari, jumlah massa semakin membesar, terdiri dari aktivis, pelajar, pedagang, pengemudi ojek online, hingga serikat buruh.

Situasi yang awalnya damai berubah menjadi ricuh ketika aparat keamanan dan massa mulai saling bentrok.

Lalu, apa sebenarnya yang dituntut dalam rangkaian aksi besar ini hingga menarik perhatian publik luas dan menyebar ke berbagai wilayah Indonesia?

Awal Aksi: Dari Tuntutan Politik hingga Ricuh

Sejak pagi, ribuan orang berdatangan ke sekitar Gedung DPR/MPR RI. Akses menuju Jalan Gatot Subroto ditutup total dengan barikade beton dan kawat berduri. Para demonstran menyuarakan berbagai tuntutan, salah satunya menyoroti kenaikan tunjangan anggota DPR yang dianggap tidak masuk akal.

Melalui akun Instagram @gejayamemanggil, Aliansi Rakyat Bergerak menamai aksi tersebut dengan tajuk “Indonesia Gelap, Revolusi Dimulai”. Dari sana, sembilan poin tuntutan rakyat dirilis, yang isinya antara lain:

  1. Menurunkan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
  2. Membubarkan Kabinet Merah Putih.
  3. Membubarkan DPR RI.
  4. Menghentikan proyek penulisan ulang sejarah Indonesia.
  5. Menangkap dan mengadili Fadli Zon atas penyangkalan tragedi pemerkosaan massal 1998.
  6. Menolak Rancangan Kitab Hukum Undang-Undang Anti-Pemerasan (RKHUAP).
  7. Membuka transparansi gaji anggota DPR.
  8. Membatalkan kebijakan tunjangan rumah DPR.
  9. Menggagalkan rencana kenaikan gaji anggota DPR.

Namun, ketegangan mulai meningkat ketika massa mencoba menembus pagar DPR. Polisi menahan sekelompok orang di bawah flyover Gerbang Pemuda, dekat Gelora Bung Karno. Insiden itu memicu kemarahan demonstran lain hingga bentrokan tak terelakkan.

Situasi Memanas di Jakarta

Kerusuhan pecah di sekitar Kementerian Kehutanan hingga kawasan Slipi. Aparat menembakkan gas air mata dan mengerahkan water cannon, sementara massa membalas dengan lemparan batu, kayu, dan botol.

Aksi meluas ke Pejompongan, TVRI, hingga rel kereta Stasiun Palmerah. Akibatnya, jalan tol Letjen S. Parman ditutup sementara dan layanan KRL Tanah Abang-Rangkasbitung terganggu. Stasiun Palmerah dan Tanah Abang pun sempat ditutup oleh KAI Commuter.

Menjelang malam, kerusuhan makin parah. Pos polisi di Petamburan dibakar, dan bentrokan bergeser ke KS Tubun serta Palmerah Utara.

Gelombang Baru: Aksi Buruh 28 Agustus 2025

Puncak demonstrasi terjadi pada Kamis, 28 Agustus 2025, ketika ribuan buruh dari berbagai serikat pekerja turun ke jalan. Dipimpin Ketua Umum Partai Buruh, Said Iqbal, aksi ini menyoroti kebijakan ketenagakerjaan, mulai dari outsourcing, upah minimum, hingga perlindungan pekerja.

Sebanyak 4.531 personel gabungan TNI, Polri, Brimob, dan Satpol PP diturunkan untuk mengamankan jalannya aksi.

Tujuh tuntutan utama yang dibawa buruh pada 28 Agustus 2025 meliputi:

  1. Hapus outsourcing dan tolak upah murah.
  2. Naikkan upah minimum tahun 2026 sebesar 10,5 persen.
  3. Naikkan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) hingga Rp7,5 juta per bulan.
  4. Hapus pajak atas pesangon, Tunjangan Hari Raya, dan Jaminan Hari Tua.
  5. Batasi kontrak kerja jangka pendek yang merugikan pekerja.
  6. Hentikan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal dan bentuk Satgas PHK.
  7. Batasi tenaga kerja asing serta sahkan Rancangan Undang-Undang Ketenagakerjaan baru tanpa Omnibus Law.

Selain itu, buruh juga mendesak pengesahan RUU Perampasan Aset sebagai langkah pemberantasan korupsi, serta revisi menyeluruh terhadap RUU Pemilu demi sistem politik yang lebih adil pada 2029.

Setelah buruh mulai membubarkan diri, giliran ratusan mahasiswa dari berbagai kampus mendatangi Gedung DPR RI. Mereka menolak kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan masyarakat luas.

Awalnya situasi terkendali, tetapi kembali memanas ketika mahasiswa memanjat pagar DPR dan merusak fasilitas. Lemparan batu dan botol diarahkan ke aparat, yang segera membalas dengan gas air mata dan water cannon.

Bentrok berlanjut hingga malam hari, bahkan menjalar ke tol dalam kota dan rel KRL di sekitar Stasiun Palmerah. Ratusan penumpang kereta tertahan akibat perjalanan yang lumpuh total.

Insiden Tragis di Pejompongan

Kericuhan mencapai puncaknya ketika sebuah kendaraan taktis Brimob menabrak pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan (20) di kawasan Pejompongan. Rekaman video memperlihatkan kendaraan tersebut melaju kencang, menabrak korban, berhenti sesaat, lalu melindas kembali sebelum meninggalkan lokasi.

Affan sempat dibawa ke RSCM, tetapi nyawanya tidak tertolong. Tragedi ini menyulut amarah massa, yang kemudian menyerang markas Komando Brimob di Kwitang, Jakarta Pusat. Beberapa kendaraan yang terparkir di lokasi pun dibakar.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo segera menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dan menemui keluarga korban di RSCM. Ia berjanji pihak yang bertanggung jawab akan diproses secara hukum.

Gelombang demonstrasi belum berhenti. Mahasiswa Universitas Indonesia menyerukan aksi lanjutan pada Jumat, 29 Agustus 2025, dengan titik kumpul di Polda Metro Jaya.

Rangkaian aksi sejak 25 hingga 28 Agustus 2025 ini memperlihatkan betapa kompleksnya situasi politik dan sosial Indonesia. Dari isu politik, kesejahteraan buruh, hingga insiden tragis di jalanan, semua mengerucut pada satu hal: keresahan rakyat terhadap kebijakan negara.

Dengan melihat daftar tuntutan yang dibawa rakyat dan buruh, jelas bahwa demonstrasi 28 Agustus 2025 bukan sekadar unjuk rasa biasa, melainkan refleksi dari ketidakpuasan mendalam masyarakat terhadap arah kebijakan pemerintah.

***