News  

Dwi Hartono Bimbel Apa? Heboh Salah Satu Aktor Intelektual Pembunuhan Kacab Bank BUMN

Dwi Hartono Bimbel Apa?/Youtube/Klan Hartono

bernasnews – Kasus penculikan dan pembunuhan Kepala Cabang Pembantu bank BUMN di Jakarta, Mohamad Ilham Pradipta, tak hanya mengejutkan karena kejahatannya yang brutal. 

Publik juga terkejut saat mengetahui bahwa salah satu aktor intelektual dalam kasus ini adalah seorang pengusaha bimbingan belajar (bimbel) online yang cukup dikenal: Dwi Hartono.

Pertanyaannya, bimbel apa yang dijalankan Dwi Hartono, dan bagaimana sosok yang bergerak di bidang pendidikan bisa terseret kasus kriminal sekejam ini?

Bimbel Online Milik Dwi Hartono

Dwi Hartono dikenal sebagai pendiri sebuah bimbel online yang fokus pada layanan pendidikan jarak jauh. Melalui platform ini, ia menyediakan materi belajar, sesi motivasi, hingga program pengembangan diri. 

Di media sosial, ia juga aktif membagikan tips sukses, semangat belajar, dan motivasi karier.

Tak hanya itu, Dwi memposisikan bimbelnya sebagai bagian dari tren pendidikan digital yang kian populer, terutama setelah pandemi. 

Ia kerap menampilkan citra sebagai pengusaha muda sukses dengan berbagai lini usaha lain, mulai dari properti hingga skin care.

Namun, citra positif itu seketika runtuh ketika polisi menyebut dirinya sebagai salah satu otak penculikan dan pembunuhan.

Dari Motivator ke Tersangka

Selama ini, Dwi Hartono kerap tampil sebagai motivator. Ia membangun persona publik yang seolah menginspirasi generasi muda untuk meraih kesuksesan. 

Followers media sosialnya mencapai puluhan ribu, menandakan ada banyak orang yang menaruh perhatian pada sosoknya.

Ironisnya, justru orang yang selama ini berbicara soal masa depan cerah dan pentingnya pendidikan, kini duduk di kursi tersangka dengan tuduhan sebagai aktor intelektual penculikan.

Polisi menegaskan, peran Dwi tidak sekadar ikut-ikutan. Ia diduga merancang skenario penculikan, memberi arahan kepada pelaku lapangan, hingga menyediakan dana awal untuk operasi kriminal tersebut.

Meski nama bimbelnya belum disebut secara resmi dalam keterangan polisi, publik sudah terlanjur mengaitkan brand pendidikan online yang ia kelola dengan kasus kriminal ini. 

Situasi ini menimbulkan efek domino: citra bimbel online di mata masyarakat bisa saja ikut tercoreng.

Padahal, industri bimbel digital sendiri sedang tumbuh pesat. Banyak pelajar terbantu dengan layanan belajar daring yang lebih fleksibel dan terjangkau. 

Lebih lanjut, kasus Dwi Hartono seolah menjadi noda di tengah perkembangan positif sektor pendidikan nonformal ini.

Kasus Dwi Hartono memperlihatkan dua wajah yang bertolak belakang. Di satu sisi, ia tampil sebagai pengusaha bimbel dan motivator yang membangun semangat belajar anak muda. 

Di sisi lain, ia justru disebut sebagai otak kriminal dalam kasus penculikan yang menewaskan seorang kepala cabang bank.

Kontras inilah yang membuat publik sulit percaya. Seorang figur pendidikan justru terjerat kasus yang sama sekali bertentangan dengan nilai-nilai yang ia suarakan.***