bernasnews — Raut wajah bahagia dan haru terpancar dari wajah Dalijo (53 tahun), warga Tegal Tamanan, Banguntapan Bantul saat menerima kunci Rumah Layak Huni gratis yang dibangun warga Thoriqoh Shiddiqiyyah Bantul, Kamis (21/8/2025).
“Sungguh saya jiwa raga saya merasa trenyuh, bahagia yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata menerima rumah syukur dua lantai yang sangat bagus ini,” kata Dalijo yang sehari hari bekerja sebagai buruh tukang las.
“Alhamdulillah, kini saya kini punya rumah bagus yang dibangun oleh warga Shiddiqiyyah Bantul. Terima kasih Bapak Kiai Muchtarullah Almujtaba Mu’thi. Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah dan warga Shiddiqiyyah Bantul,” ujarnya dengan suara bergetar.
Dalijo hanyalah satu dari 140 penerima rumah layak huni yang dibangun warga Shiddiqiyyah di berbagai daerah. Program ini dijalankan oleh Dhillal Berkat Rohmat Alloh (DHIBRA) Shiddiqiyyah, yang sejak 24 tahun terakhir rutin membangun rumah bagi kaum dhuafa melalui program Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah (RSKILHS).
RSKILHS yang rata- rata berukuran tipe 36 dibangun dalam rangka mensyukuri nikmat Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan berdirinya NKRI ke 80 tahun.
Tahun ini tersebar di 19 Provinsi 111 Kota/kabupaten. Anggaran kegiatan pembangunan dari murni bersumber dari semangat kepedulian dan kerjasama (yadulloh alal jamaah) dari murid Shiddiqiyyah dan simpatisan.
Penyerahan secara nasional bertempat di Hotel Yusro, Jombang, dilakukan oleh Sang Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Syekh Mohammad Muchtarulohil Mujtaba Mu’thi. Selain itu dilakukan zoom meeting dengan seluruh penerima rumah syukur bersama Ketua Umum DHIBRA, Ibu Nyai Shofwatul Ummah.
“Tujuan dan harapan pembangunan Rumah Syukur (RSKILHS) dapat memberikan kegembiraan kepada warga negara yang belum memiliki rumah layak huni. Selain itu warga Shiddiqiyyah ingin ikut serta mewujudkan tujuan berdirinya NKRI yaitu diantaranya memajukan kesejahteraan umum. Kini total Rumah Syukur se Indonesia yang telah dibangun selama 24 tahun berjumlah 2.232 unit,” ungkap Ketua Umum DHIBRA, Ibu Nyai Shofwatul Ummah dalam sambutan tertulis yang dibacakan Ketua Dhibra Bantul, Saefudin.
Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah (RSKILHS) adalah program yang diinisiasi sebagai bentuk syukur terhadap Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan berdirinya NKRI yang ke-80 tahun ini.
Program ini menyebar di 19 provinsi dan 111 kota/kabupaten di Indonesia, dengan rata-rata ukuran rumah tipe 36. Biaya sepenuhnya dari iuran sukarela warga Shiddiqiyyah, dengan biaya sekitar Rp80–100 juta per unit.
Sejak pertama kali diluncurkan, sudah membangun rumah santunan RSKILH total 1.935 unit rumah syukur dengan nilai dana Rp97 miliar lebih.

Tiap Hari Sumpah Pemuda juga diadakan santunan berupa pembangunan Rumah Syukur Sumpah Pemuda Layak Huni Shiddiqiyyah untuk Mensyukuri Hari Sumpah Pemuda dan lahirnya lagu Kebangsaan Indomesia Raya 28 Oktober.
“Sejak tahun 2010 sampai saat ini sudah membangun 298 unit rumah. Total RSKILHS dan Rumah Syukur Sumpah Pemuda yang telah dibangun mencapai 2.232 unit,” kata Nyai Shofwatul Ummah.
Nyai Shofwatul Ummah menjelaskan, pembangunan rumah ini bukan sekadar bantuan fisik, tetapi juga wujud nyata cinta tanah air.
“Kami ingin berbagi kebahagiaan dengan rakyat kecil, sekaligus ikut mewujudkan tujuan berdirinya NKRI, yaitu memajukan kesejahteraan umum,” ungkapnya.
Sebanyak 140 unit Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah (RSKILHS) 2025 resmi diserahkan kepada kaum duafa. Program sosial Rumah layak huni diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu yang telah lolos survei oleh organisasi DHIBRA. Pembangunan rumah syukur dimulai serentak 22 Juni, dan selesai diserahkan serentak 21 Agustus 2025.
Korwil 11 Dhibra Syahruddin Nugroho mengatakan, selain di Bantul, Dhibra juga membangun rumah syukur di Kota Yogyakarta, Gunungkidul, Sleman, dan Kabupaten Kulon Progo. Penerima rumah gratis di Kota Yogya Suparman Dwijo Karsono (71 tahun), warga Purbayan Kotagede.
“Selanjutnya Sunyoto (52 tahun) warga dusun Pragak, Semanu, Gunungkidul. Wajirah (53 tahun) warga Dusun Kuton, Tegaltirto, Berbah, Sleman. Sumanto (43 tahun), warga Mutihan, Wates, Kulonprogo,” kata Syahruddin. (ted/ Roso)











