bernasnews – Sebuah langkah besar lahir dari ruang audiensi di Balai Kota. Selasa, 20 Agustus 2025, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Yogyakarta memutuskan menggandeng Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta dan TNI Angkatan Udara untuk menggelorakan pendidikan karakter di sekolah-sekolah Muhammadiyah.
Keputusan itu langsung disampaikan Kepala Satpol PP Kota Yogyakarta, Octo Noor Arafat, di hadapan Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, dengan penuh keyakinan.
Octo menegaskan, kolaborasi ini bukan sekadar program biasa, melainkan tindak lanjut dari nota kesepahaman antara Gubernur DIY dan Mabes TNI. Ia menyebut program ini dengan nama Satpol PP Bergerak Bersama Sekolah atau disingkat Satpol PP Berkah.
Melalui program tersebut, Satpol PP bersama TNI AU akan mendampingi sekolah-sekolah Muhammadiyah dalam pembinaan kepemimpinan, kedisiplinan, serta penguatan karakter positif siswa.
“Harapannya anak-anak yang tergabung dalam Jatayu bisa menjadi teladan dan menginspirasi teman-temannya. Ini sama sekali bukan kegiatan militeristik, melainkan pembentukan karakter positif seperti disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian,” ujar Octo.
Program Satpol PP Berkah Diperluas ke Sekolah Muhammadiyah
Program Satpol PP Berkah sebelumnya telah berjalan di SD Muhammadiyah Kleco, Kotagede. Di sekolah itu, siswa diajak membiasakan diri dengan lima tertib: tertib bangunan, tertib lingkungan, tertib sosial, tertib lalu lintas, dan tertib usaha. Dari kebiasaan sederhana itu, lahir bibit-bibit disiplin yang mulai mengakar.
Kini, Satpol PP bertekad memperluas model serupa ke sekolah Muhammadiyah lain. Mereka menambahkan isu-isu aktual seperti gerakan anti rokok, pemilahan sampah rumah tangga, hingga ketahanan pangan melalui budidaya pisang Cavendish.
Anak-anak tidak hanya dididik untuk patuh, tetapi juga dilatih agar menjadi pionir perubahan nyata di lingkungannya.
Octo bahkan menyampaikan rencana penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Pemkot Yogyakarta dan PDM Kota Yogyakarta pada 24 Agustus mendatang.
MoU itu menyasar Kompleks Perguruan Muhammadiyah Purwodiningratan, mulai dari SD Muhammadiyah Purwodiningratan, SMP Muhammadiyah 1, hingga SMA Muhammadiyah 5.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyambut hangat inisiatif ini. Ia menilai program pendidikan karakter tidak boleh berhenti sebagai seremonial, tetapi harus menghasilkan perubahan perilaku yang nyata.
“Dengan MoU langsung antara Pemkot dan PDM, semua kegiatan bisa masuk dan tinggal diterjemahkan ke perjanjian teknis. Itu akan memudahkan dan memperlancar kolaborasi,” kata Hasto.
Pentingnya Indikator dan Kesadaran Moral
Namun Hasto mengingatkan pentingnya indikator spesifik. Menurutnya, keberhasilan program hanya bisa diukur jika siswa benar-benar menunjukkan perubahan perilaku.
Ia mencontohkan, siswa harus berani berkomitmen tidak merokok atau tampil sebagai duta pemilahan sampah di rumah masing-masing.
“Kalau indikatornya spesifik dan deskriptif, perubahan perilaku itu bisa diukur. Misalnya anak-anak yang ikut program bisa menjadi duta sampah di rumah, atau benar-benar punya kesadaran untuk tidak merokok. Itu lebih nyata dampaknya,” tegas Hasto.
Hasto juga menekankan bahwa pendidikan karakter harus menyentuh aspek moral, bukan sekadar aturan hukum. Menurutnya jika hanya hukum, orang bisa taat karena takut aturan.
“Tapi kalau ada kesadaran moral, perilaku itu akan tertanam lebih kuat,” jelasnya.
Ketua Badan Kerja Sama Perguruan Muhammadiyah Purwodiningratan, Gintoro, mengapresiasi program ini. Ia melihat keterlibatan Satpol PP dan TNI AU sebagai langkah strategis untuk mencetak generasi yang tangguh.
“Pelatihan yang diberikan sejak awal, terutama dengan keterlibatan TNI AU, sangat memberikan bekal dasar. Anak-anak dipersiapkan tidak hanya secara mental, tetapi juga dalam kepemimpinan. Harapannya mereka siap menjadi agen perubahan yang mampu menginspirasi lingkungan sekitarnya,” ungkap Gintoro penuh optimisme.
Kolaborasi Pemkot Yogyakarta, Satpol PP, Muhammadiyah, dan TNI AU ini seolah menjadi jawaban atas tantangan zaman. Pendidikan karakter yang dipadukan dengan kedisiplinan hukum dan kesadaran moral diyakini mampu mencetak generasi emas Kota Yogyakarta.
Sekolah Muhammadiyah pun siap menjadi laboratorium perubahan. Dari ruang kelas sederhana, akan lahir kader-kader bangsa yang berdisiplin tinggi, berjiwa kepemimpinan, dan memiliki kepedulian sosial.












