News  

Gunungkidul Siap Bangun Kampung Nelayan Merah Putih Pertama di DIY

bernasnews – Gunungkidul bersiap mencatat sejarah baru dengan rencana pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Kalurahan Songbanyu, Kapanewon Girisubo.

Jika proyek ini terwujud, kawasan tersebut akan menjadi kampung nelayan pertama di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang mengusung konsep modern dengan semangat nasionalisme.

Langkah ini tidak hanya menghadirkan pembangunan fisik semata, tetapi juga ditujukan sebagai upaya memperkuat kemandirian nelayan, menciptakan pusat pengolahan hasil laut, serta menghadirkan destinasi wisata bahari baru.

Dengan demikian, Gunungkidul diharapkan semakin kokoh sebagai gerbang utama ekonomi maritim DIY.

Kunjungan Pejabat KKP dan Persiapan di Songbanyu

Momentum penting terjadi pada 18 Agustus 2025, ketika Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Ekonomi, Sosial, dan Budaya, Trian Yunanda, bersama Direktur Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan KKP, Mahrus, meninjau langsung kesiapan lahan dan sumber daya manusia di Songbanyu.

Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunungkidul, Wakhid Supriyadi, menjelaskan bahwa berbagai persiapan sudah dilakukan, termasuk menyiapkan kelembagaan pengelola. Koperasi Desa Merah Putih Songbanyu ditunjuk sebagai pengelola utama.

“Kami juga mulai menyusun rencana bisnis agar program ini tidak hanya berhenti di awal, melainkan berjalan berkelanjutan,” tegas Wakhid, Rabu, 20 Agustus 2025 seperti dikutip dari kabarjawa.com.

Fasilitas Satu Kawasan untuk Nelayan

Pemerintah menyiapkan lahan seluas satu hektare di Songbanyu yang akan dilengkapi beragam fasilitas penting. Rencananya, di kawasan ini akan berdiri pabrik es, kios perbekalan, toilet umum, balai nelayan sekaligus kantor pengelola, hingga unit pengolah ikan.

Wakhid menambahkan, seluruh fasilitas tersebut akan dihibahkan langsung oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kepada koperasi.

Dengan skema hibah, aset dapat dikelola sepenuhnya oleh nelayan melalui koperasi, sehingga menjadi modal kerja yang benar-benar dimiliki masyarakat setempat.

“Ke depan, kami berharap koperasi ini dapat bekerja sama dengan koperasi nelayan lain maupun pihak swasta. Dengan begitu, ekosistem ekonomi nelayan bisa terbentuk lebih kokoh,” jelasnya.

Di hari yang sama, tim gabungan dari DPTR DIY, Panitikismo, dan Biro Hukum Setda DIY juga meninjau lokasi. Mereka menggelar rapat intensif terkait proses perizinan gubernur atas pemanfaatan tanah kas desa yang akan digunakan untuk pembangunan kampung nelayan.

Meski demikian, proyek ini masih menunggu kepastian berupa Surat Keputusan (SK) dari Menteri Kelautan dan Perikanan mengenai penetapan calon penerima dan lokasi.

Setelah SK terbit, tahap berikutnya adalah proses pengadaan barang dan jasa. Harapannya, tahap tersebut segera berjalan sehingga masyarakat nelayan di Songbanyu bisa merasakan manfaat nyata.

Integrasi dengan Fishing Port Tourism

Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih tidak berdiri sendiri. Pemerintah merancang kawasan ini agar terintegrasi dengan Pelabuhan Perikanan Pantai Sadeng.

Konsep fishing port tourism menjadi arah pengembangan, di mana aktivitas nelayan tidak hanya berhenti pada penjualan hasil tangkapan, tetapi juga dikemas sebagai atraksi wisata.

Melalui konsep ini, wisatawan diharapkan dapat menikmati pengalaman berkunjung ke pasar ikan segar, menyantap olahan seafood, menyaksikan atraksi nelayan, hingga memperoleh edukasi tentang dunia maritim.

Pemerintah optimistis konsep tersebut mampu menambah daya tarik pariwisata Gunungkidul sekaligus mendukung peningkatan kesejahteraan nelayan.

Nama “Merah Putih” pada kampung nelayan ini juga memiliki makna simbolis. Selain mencerminkan kebanggaan dan nasionalisme, penyematan nama tersebut merupakan pesan bahwa nelayan merupakan garda terdepan dalam menjaga kedaulatan laut Indonesia serta berperan penting dalam ketahanan pangan nasional.

Dengan pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Songbanyu, Gunungkidul tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga menyiapkan model ekonomi pesisir berbasis komunitas yang modern, mandiri, dan berorientasi pada masa depan. (Eln)