bernasnews – Masyarakat Muslim di berbagai daerah di Indonesia memiliki sejumlah tradisi keagamaan yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu yang masih dikenal hingga sekarang adalah Rebo Wekasan, sebuah istilah yang merujuk pada hari Rabu terakhir di bulan Safar, bulan kedua dalam kalender Hijriah.
Bagi sebagian umat Islam, hari ini dipandang memiliki makna khusus sebagai momentum untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT agar terhindar dari mara bahaya. Tradisi ini masih dijalankan di wilayah Jawa, Sunda, Madura, bahkan hingga pesisir Sumatera.
Asal Usul dan Makna Rebo Wekasan
Dalam buku Warisan Ulama Nusantara karya Ainun Lathifah, disebutkan bahwa Rebo Wekasan di kalangan masyarakat Jawa dipahami sebagai ritual tolak bala. Maksudnya, umat Islam memanjatkan doa-doa dan mengamalkan ibadah sunnah dengan harapan dijauhkan dari musibah.
Namun, perlu dipahami bahwa Islam sejatinya tidak mengenal adanya hari sial atau bulan yang membawa kesialan. Semua hari adalah ciptaan Allah SWT, dan tidak ada satu pun yang ditetapkan sebagai pembawa celaka. Hal ini ditegaskan dalam sabda Rasulullah SAW:
“Tidak ada penularan (penyakit dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (takhayul kesialan karena sesuatu), tidak ada hamah (burung hantu sebagai tanda celaka), dan tidak ada shafar (bulan sial).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari hadits tersebut, jelas bahwa umat Islam tidak diperintahkan untuk mempercayai kesialan bulan atau hari tertentu. Meski demikian, berdoa kepada Allah SWT untuk keselamatan tetap dianjurkan karena doa adalah senjata orang beriman.
Amalan Doa Tolak Bala pada Rebo Wekasan
Seiring berkembangnya tradisi, umat Islam di Nusantara tetap menghidupkan amalan doa pada malam maupun hari Rebo Wekasan. Doa-doa ini dimaksudkan sebagai permohonan kepada Allah SWT agar diberi perlindungan dari bencana, penyakit, atau segala macam marabahaya.
Berikut beberapa kumpulan doa tolak bala yang bisa diamalkan:
1. Doa Tolak Bala Versi Pertama
مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Latin: Maa syaa-allaahu laa quwwata illa billaahi.
Artinya: “Segalanya atas kehendak Allah, tiada kekuatan selain milik Allah.” (HR Ibnu Sinni dari Anas RA)
2. Doa Tolak Bala Versi Kedua
بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Latin: Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai-un fil ardhi wa laa fissamaa-i, wa huwas samii’ul ‘aliim.
Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang dengan sebab nama-Nya tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang dapat membahayakan (mendatangkan mudharat). Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)
3. Doa Tolak Bala Versi Ketiga
اللّٰهُمَّ بِحَقِّ الْفَاتِحَةِ وَسِرِّ الْفَاتِحَةِ يَا فَارِجَ الْهَمِّ وَيَاكَاشِفَ الْغَمِّ، يَامَنْ لِعِبَادِهِ يَغْفِرُوَيَرْحَمُ، يَادَافِعَ الْبَلَاءِ يَا اَللّٰهُ وَيَادَافِعَ الْبَلَاءِ يَارَحْمٰنُ وَيَادَافِعَ الْبَلَاءِ يَارَحِيْمُ
Latin: Allahumma bihaqqil faatihah wasirril faatihah yaa faarijal hammi wa yaa kaasyifal ghammi, yaa man li ‘ibaadihi yaghfiru wa yarham, yaa daafi’al bala-i yaa Allah, wa yaa daafi’al bala-i ya rahmaan, wa yaa daafi’al bala-i yaa rahiim.
Artinya: “Ya Allah, dengan kebenaran Al-Fatihah, dan rahasia Al-Fatihah, lepaskan kami dari pekerjaan yang menyusahkan, hindarkan dari duka cita. Wahai Yang Maha Pengampun dan Pengasih terhadap hamba-Mu. Wahai yang menolak bala, ya Allah. Wahai yang menolak bala, Wahai Yang Pengasih. Wahai yang menolak bala, Wahai Yang Penyayang.”
Rebo Wekasan telah menjadi bagian dari tradisi keagamaan masyarakat Muslim di Nusantara. Meski ajaran Islam menolak adanya kepercayaan terhadap hari sial, doa-doa yang diamalkan pada momentum ini dimaksudkan sebagai bentuk ikhtiar spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Melalui doa tolak bala, umat Islam berharap selalu diberikan perlindungan, kesehatan, serta keselamatan hidup. Pada akhirnya, yang terpenting adalah keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi semata-mata atas kehendak Allah SWT, dan hanya kepada-Nya lah manusia memohon pertolongan.
***












