Apa Itu Rebo Wekasan yang Jatuh pada Hari Rabu Terakhir Safar?

Ilustrasi apa itu Rebo Wekasan dan apa yang harus dilakukan? (Pixabay.com)

bernasnews – Di tengah masyarakat Jawa, terutama di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, terdapat sebuah tradisi yang masih dipertahankan hingga kini, yaitu Rebo Wekasan.

Hari ini dianggap memiliki makna khusus karena dipercaya sebagai saat turunnya bala atau musibah, sehingga banyak orang berusaha memperbanyak doa serta ibadah untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT.

Sejarah dan Makna Rebo Wekasan

Rebo Wekasan, atau yang sering disebut juga Rabu Wekasan, adalah sebutan untuk hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam penanggalan Hijriah. Bulan Safar sendiri dalam tradisi Islam Jawa memiliki konotasi tertentu yang dianggap berat atau penuh ujian. Dari sinilah muncul keyakinan bahwa Rabu terakhir Safar menjadi hari rawan datangnya bencana.

Keyakinan ini salah satunya dijelaskan dalam kitab Kanz an-Najah wa al-Surur, karya KH Abdul Hamid, seorang ulama asal Makkah (ada pula riwayat yang menyebut beliau berasal dari Hadramaut). KH Abdul Hamid pernah menetap di Semarang dan Kudus, Jawa Tengah, sehingga ajaran beliau turut memengaruhi perkembangan tradisi keislaman masyarakat Jawa.

Dalam kitab tersebut disebutkan bahwa pada hari Rabu terakhir Safar, Allah SWT menurunkan bala dan musibah ke bumi. Karena itu, umat dianjurkan untuk memperbanyak doa serta amalan kebaikan agar terhindar dari marabahaya.

Kapan Rebo Wekasan 2025?

Untuk tahun 2025, umat Islam sedang berada dalam hitungan bulan Safar 1447 Hijriah. Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2025 yang diterbitkan oleh Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI, Rebo Wekasan jatuh pada 20 Agustus 2025.

Pada tanggal inilah sebagian umat Islam di Jawa biasanya melakukan doa bersama, sholat sunnah, maupun membaca ayat-ayat Al-Qur’an tertentu sebagai bentuk ikhtiar spiritual. Biasanya melakukan tradisi atau selamaten pada malam Rebo Wekasan.

Amalan yang Dikerjakan pada Hari Rebo Wekasan

Lalu, apa yang biasanya dilakukan saat datangnya Rebo Wekasan? Secara umum, masyarakat menjalankan berbagai amalan ibadah dengan tujuan memohon keselamatan. Beberapa praktik yang lazim ditemui antara lain:

Membaca Doa Tolak Bala

Doa ini dipanjatkan dengan harapan agar Allah SWT memberikan perlindungan dan menjauhkan dari segala macam bencana.

Membaca Surat-Surat Tertentu dari Al-Qur’an

Beberapa surat yang biasa diamalkan di antaranya Surat Yasin, Surat Al-Fatihah, Surat Al-Ikhlas, Surat Al-Falaq, dan Surat An-Nas. Masyarakat percaya bahwa bacaan ini mampu menjadi perisai dari musibah.

Sholat Sunnah

Sebagian umat menunaikan sholat sunnah dua rakaat maupun empat rakaat dengan niat memohon keselamatan. Setelah sholat, biasanya dilanjutkan dengan doa bersama.

Sedekah dan Amal Sosial

Selain ibadah ritual, ada pula tradisi berbagi kepada sesama, seperti membagikan makanan, memberikan santunan, atau mengadakan kenduri. Hal ini dimaknai sebagai bentuk tolak bala melalui kebaikan.

Rebo Wekasan dalam Perspektif Kehidupan Modern

Meski tradisi ini kuat dalam budaya Jawa, tidak semua umat Islam meyakininya. Sebagian kalangan menganggap bahwa bala atau musibah datang kapan saja sesuai dengan ketetapan Allah SWT, bukan hanya pada Rabu terakhir Safar.

Namun demikian, Rebo Wekasan tetap dilihat sebagai momentum untuk memperbanyak doa, instropeksi diri, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

Di era modern, tradisi ini juga mengalami penyesuaian. Ada yang melaksanakannya secara sederhana di rumah bersama keluarga, ada pula yang tetap menggelar doa bersama di masjid atau mushola. Intinya, amalan yang dikerjakan pada hari ini lebih menekankan pada nilai spiritual dan sosial, yaitu memperkuat keimanan serta mempererat kebersamaan antarwarga.

Rebo Wekasan adalah bagian dari khazanah budaya Islam Jawa yang masih dilestarikan hingga sekarang.

Hari Rabu terakhir bulan Safar ini dipandang istimewa karena dipercaya sebagai waktu turunnya bala, sehingga umat berusaha memohon perlindungan Allah SWT dengan memperbanyak doa, membaca surat-surat Al-Qur’an, sholat sunnah, hingga bersedekah.

Pada tahun 2025, Rebo Wekasan bertepatan dengan tanggal 20 Agustus, dan menjadi momen bagi sebagian umat Islam untuk kembali mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Terlepas dari perbedaan pandangan, semangat utama dari Rebo Wekasan adalah memperkuat iman, menumbuhkan rasa syukur, serta memohon keselamatan hidup di dunia maupun akhirat.

***