Apa Amalan Rebo Wekasan Menurut Pandangan Islam? Ini Doa yang Dibaca

Ilustrasi amalan Rabu Wekasan menurut pandangan Islam. (Freepik.com)

bernasnews – Setiap tahun, umat Islam mengenal sebuah hari yang disebut Rebo Wekasan. Hari ini jatuh pada Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Hijriah. Di berbagai daerah, terutama di Jawa dan Sumatra, Rebo Wekasan diperingati dengan amalan-amalan ibadah tertentu.

Namun, apa sebenarnya makna hari ini? Bagaimana pandangan Islam tentang Rebo Wekasan, dan doa apa saja yang dianjurkan untuk dibaca.

Secara harfiah, Rebo Wekasan berarti Rabu terakhir. Hari ini diyakini sebagian masyarakat sebagai waktu turunnya berbagai musibah, penyakit, hingga kesialan. Oleh karena itu, sebagian umat Muslim menjadikannya momen untuk memperbanyak doa, zikir, dan ibadah sunnah.

Namun, penting dicatat bahwa dalam ajaran Islam tidak ada konsep hari atau bulan yang secara mutlak membawa sial. Rasulullah SAW menegaskan dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim:

“Tidak ada wabah yang menyebar dengan sendirinya tanpa izin Allah, tidak ada ramalan sial, tidak ada burung hantu sebagai pembawa musibah, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar. Jauhilah penyakit kusta sebagaimana engkau menghindar dari singa.”

Artinya, keyakinan bahwa bulan Safar penuh petaka hanyalah mitos. Meski begitu, memperbanyak doa dan amal kebaikan di hari Rebo Wekasan tetap dianjurkan sebagai bentuk permohonan perlindungan kepada Allah SWT.

Sejarah Rebo Wekasan di Nusantara

Tradisi memperingati Rebo Wekasan sudah ada sejak abad ke-17 Masehi di Indonesia. Catatan sejarah menunjukkan bahwa kebiasaan ini berkembang di Jawa dan Sumatra, bahkan dikaitkan dengan ajaran Wali Songo.

Beberapa literatur klasik Islam, seperti kitab Al-Jawahir Al-Khams karya Syeikh Muhammad bin Khathiruddin Al-‘Atthar, menyebutkan bahwa pada Rabu terakhir di bulan Safar Allah SWT menurunkan ratusan ribu bala.

Ada juga riwayat yang mengatakan lebih dari 500 jenis penyakit tersebar pada hari itu. Inilah sebabnya umat Muslim terdorong untuk memperbanyak amalan ibadah agar terhindar dari keburukan.

Karena itu, Rebo Wekasan juga disebut sebagai Rabu Pamungkas, yaitu penutup bulan Safar yang dianggap berat oleh sebagian kalangan.

Amalan Rebo Wekasan Menurut Ulama

Para ulama, khususnya dari Nahdlatul Ulama (NU), memberikan panduan mengenai amalan yang dapat dilakukan pada Rebo Wekasan. Tujuan utamanya adalah memohon keselamatan, kesehatan, serta perlindungan dari bencana. Berikut beberapa amalan yang dianjurkan:

– Sholat Sunnah Hajat dengan Niat Sholat Mutlak

– Dilaksanakan sebanyak 4 rakaat dengan 2 kali salam.

– Pada setiap rakaat dianjurkan membaca:

  • Surat Al-Fatihah 1 kali,
  • Surat Al-Kautsar 17 kali,
  • Surat Al-Ikhlas 5 kali,
  • Surat Al-Falaq 1 kali,
  • Surat An-Nas 1 kali.

Penting diketahui bahwa sholat khusus dengan niat “sholat Rebo Wekasan” diharamkan berdasarkan keputusan musyawarah NU Jawa Tengah tahun 1978 di Magelang. Karena itu, niatnya cukup sholat sunnah mutlak atau sholat hajat.

– Memperbanyak Zikir dan Sholawat

Setelah sholat, umat Muslim dianjurkan memperbanyak bacaan zikir dan sholawat Nabi. Amalan ini diniatkan sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus memohon penjagaan dari segala bahaya.

– Sedekah

Bersedekah di hari Rebo Wekasan diyakini dapat menolak bala dan mendatangkan keberkahan. Meski begitu, sedekah tentu bukan hanya baik dilakukan pada hari ini saja, melainkan setiap waktu.

Doa yang Dibaca di Hari Rebo Wekasan

Selain sholat, umat Muslim biasanya membaca doa khusus yang isinya permohonan perlindungan dari segala macam penyakit dan musibah. Doa tersebut umumnya dilanjutkan dengan memperbanyak istighfar serta memohon ampunan atas segala dosa.

Dengan demikian, doa-doa yang dibaca di hari Rebo Wekasan sejatinya sama dengan doa sehari-hari, yaitu berisi harapan agar Allah SWT melindungi, memberi kesehatan, dan menjauhkan diri dari keburukan.

Salah satunya doa tolak bala berikut ini:

اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً، وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

Latin: Allāhumma idfa‘ ‘annāl-balā-a wal-wabā-a waz-zalāzila wal-miḥana wa sū-al-fitana mā ẓahara minhā wa mā baṭana, ‘an baladinā hādzā khāṣṣatan, wa ‘an sā-iri bilādil-muslimīna ‘āmmah, innaka ‘alā kulli syai-in qadīr.

Artinya: “Ya Allah, jauhkanlah dari kami segala bala, wabah penyakit, gempa bumi, ujian yang berat, serta fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi. Lindungilah negeri kami khususnya, dan seluruh negeri kaum Muslimin pada umumnya. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Safar adalah Hari yang Baik

Islam menolak keyakinan bahwa bulan Safar penuh dengan kesialan. Justru Rasulullah SAW menegaskan bahwa setiap hari adalah baik, termasuk Rabu terakhir di bulan Safar. Bahkan dalam hadis riwayat Imam Muslim, disebutkan bahwa hari Rabu adalah waktu Allah SWT menciptakan cahaya bagi seluruh alam semesta.

Oleh karena itu, alih-alih menganggap Rebo Wekasan sebagai hari petaka, umat Islam diajak untuk menjadikannya momen memperbanyak amal ibadah, doa, dan kebaikan. Dengan begitu, hari ini akan dipenuhi keberkahan, bukan kesialan.

Rebo Wekasan adalah tradisi yang hidup di tengah masyarakat Muslim, khususnya di Indonesia. Meski ada anggapan bahwa hari ini penuh musibah, Islam menegaskan bahwa tidak ada hari atau bulan yang membawa sial.

Amalan Rebo Wekasan yang disarankan para ulama antara lain sholat sunnah hajat dengan niat mutlak, memperbanyak zikir serta sholawat, dan bersedekah. Semua amalan ini bertujuan untuk memohon perlindungan dari Allah SWT agar terhindar dari bencana dan penyakit.

Dengan pemahaman yang benar, Rebo Wekasan bukanlah hari menakutkan, melainkan kesempatan bagi umat Islam untuk memperbanyak doa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

***