News  

Warga Pati Demo Apa? Heboh Ada Keranda Mayat-Truk Tronton, Ini Penyebabnya

bernasnews – Banyak yang bertanya warga Pati demo apa? Pasalnya, pada pagi Rabu, 13 Agustus 2025, Alun-Alun Pati berubah jadi panggung protes raksasa. 

Ribuan orang dari berbagai penjuru desa berdatangan membawa spanduk, poster, dan simbol yang tak biasa—sebuah keranda mayat serta truk tronton yang terparkir tepat di depan Kantor Bupati. 

Aksi ini digelar oleh kelompok bernama Aliansi Masyarakat Pati Bersatu sebagai bentuk perlawanan terbuka kepada Bupati Pati, Sudewo, yang mereka minta segera meninggalkan jabatannya.

Simbol yang Mengguncang

Keranda mayat di tengah kerumunan tentu bukan pemandangan sehari-hari di pusat kota. Simbol itu dipilih untuk menyampaikan pesan keras: rakyat merasa “kematian” demokrasi terjadi di daerah mereka. 

Truk tronton dijadikan panggung orasi, di mana para perwakilan massa bergantian menyampaikan unek-unek. Suara massa memuncak saat koordinator aksi, Husein, berorasi. 

Ia menegaskan bahwa tuntutan utama hari itu sederhana tapi tegas—Bupati harus turun. Kata-katanya menggema di udara, disambut tepuk tangan dan teriakan setuju.

Latar Belakang Kemarahan

Protes besar ini tidak muncul dalam semalam. Ketidakpuasan sudah terakumulasi sejak lama, dipicu sejumlah kebijakan yang dinilai memberatkan warga.

Pertama, pemutusan hubungan kerja ratusan tenaga honorer di RSUD RAA Soewondo Pati tanpa pesangon yang layak. 

Banyak dari mereka sudah mengabdi bertahun-tahun, bahkan ada yang puluhan tahun, namun harus angkat kaki begitu saja.

Kedua, lonjakan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang mencapai ratusan persen. Bagi sebagian warga, tagihan pajak yang tiba-tiba membengkak membuat ekonomi rumah tangga goyah.

Ketiga, kebijakan regrouping sekolah serta sistem lima hari belajar yang membuat sebagian guru honorer kehilangan jam mengajar. 

Dampaknya bukan hanya pada pengajar, tapi juga pada siswa dan orang tua yang harus menyesuaikan pola aktivitas.

Bagi banyak warga, rangkaian kebijakan ini seperti “serangan bertubi-tubi” dari pemerintah daerah. Maka, ketika kesempatan untuk bersuara bersama terbuka, mereka tidak ragu turun ke jalan.

Aksi Memanas di Alun-Alun

Sejak pagi, suasana di sekitar kantor bupati dipadati ribuan orang. Poster-poster dengan tulisan pedas membentang, mulai dari “Lengserkan Sekarang” hingga “Pemimpin Arogan, Rakyat Bangkit”. 

Beberapa orator memanfaatkan media sosial untuk menyiarkan langsung jalannya aksi, membuat topik ini cepat meroket di jagat maya.

Menjelang siang, tensi mulai naik. Dorongan massa ke arah pagar kantor bupati memicu bentrokan kecil. 

Aparat yang berjaga mencoba mengendalikan situasi, namun lemparan botol plastik dan batu mulai berterbangan. 

Untuk mencegah kericuhan meluas, gas air mata dilepaskan. Aroma menyengat memenuhi udara, membuat sebagian peserta berlari menjauh.

Dukungan dari Luar Kota

Di tengah panasnya suasana, bantuan mengalir dari berbagai arah. Warga luar Pati mengirim logistik, nasi bungkus, air mineral, dan obat-obatan ringan sebagai bentuk solidaritas. 

Di media sosial, tagar #PatiBersuara dan #SadewoMundur menjadi trending, memicu diskusi nasional soal hubungan rakyat dan pemimpin daerah.

Bagi sebagian pengamat politik, momen ini menjadi tanda bahwa kesadaran masyarakat terhadap haknya makin kuat. 

Bukan hanya di Pati, tapi potensi gelombang serupa bisa terjadi di daerah lain ketika publik merasa dipinggirkan.***