bernasnews – Suara gamelan bertalu-talu mengiringi kemunculan tokoh Bimo di atas panggung. Malam itu, Sabtu, 9 Agustus 2025, Lapangan Paseban Bantul berubah menjadi pusat perhatian ribuan pasang mata.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul menggelar Transmigrasi Fest & Culture 2025 dengan kemasan yang tak biasa: pagelaran wayang kulit semalam suntuk.
Dua dalang kondang, Ki Geter Pramuji dan Ki Gadhing Pawukir, memimpin lakon “Bimo Labuh” yang sarat pesan perjuangan, keberanian, dan pengabdian. Di balik irama sinden dan lengkingan rebab, terselip misi penting: menggugah minat masyarakat Bantul untuk ikut program transmigrasi.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih berdiri di tengah panggung sebelum pentas dimulai. Dengan suara lantang, ia menegaskan komitmen daerahnya dalam mengirimkan sumber daya manusia (SDM) terampil untuk mengisi wilayah-wilayah transmigrasi di Indonesia.
“Bantul selalu aktif mengirimkan warga terbaiknya untuk menjadi tenaga terampil di daerah transmigrasi. Melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, kami memberi pelatihan dan pembekalan agar warga siap lahir batin,” tegas Abdul Halim.
Tak berhenti pada pelatihan, Pemkab Bantul juga memberi stimulus uang saku Rp 15 juta untuk setiap kepala keluarga yang berani melangkah menuju tanah baru.
Abdul Halim menyebut langkah ini sebagai bentuk nyata dukungan pemerintah daerah terhadap warganya yang ingin mengubah nasib.
5 Program Unggulan Transmigrasi Era Baru
Di tengah acara, Dirjen Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Transmigrasi Kementerian Transmigrasi RI, Sigit Mustofa Nurudin, naik ke podium. Ia mengumumkan gebrakan nasional berupa lima program unggulan transmigrasi atau 5T.
Program tersebut meliputi:
- Transmigrasi Tuntas – memastikan seluruh proses dari keberangkatan hingga penempatan berjalan optimal.
- Transmigrasi Lokal – memindahkan warga ke wilayah baru di provinsi yang sama.
- Transmigrasi Patriot – mengirim SDM unggul ke daerah perbatasan atau strategis.
- Transmigrasi Karya Nusa – mengembangkan kawasan transmigrasi sebagai pusat ekonomi baru.
- Transmigrasi Gotong Royong – membangun desa bersama antara transmigran dan warga setempat.
“Transmigrasi baru adalah transformasi dengan slogan kesejahteraan untuk semua. Artinya, transmigran sejahtera, masyarakat setempat pun ikut sejahtera,” ujar Sigit.
Wayang Kulit Jadi Media Sosialisasi Efektif
Pemkab Bantul memilih wayang kulit bukan tanpa alasan. Seni tradisional ini merangkul semua lapisan masyarakat, dari petani hingga pedagang, dari anak muda hingga orang tua.
Melalui kisah Bimo yang rela berkorban demi kebenaran, penonton mendapatkan pesan tersirat tentang keberanian meninggalkan kampung halaman demi masa depan lebih baik.
Lampu blencong berpendar hangat, bayangan tokoh-tokoh pewayangan menari di kelir putih. Setiap sabetan dan cempala mengiringi pesan bahwa transmigrasi bukan sekadar pindah tempat, tetapi perjalanan menuju kemandirian dan kesejahteraan.
Dengan strategi sosialisasi berbasis budaya ini, Pemkab Bantul berharap jumlah pendaftar program transmigrasi meningkat signifikan pada tahun 2025.
Targetnya, semakin banyak warga Bantul berani mengambil peluang di wilayah-wilayah baru yang menjanjikan kehidupan lebih sejahtera.
“Melalui pendekatan budaya, kami ingin warga Bantul merasa dekat dengan program ini. Harapannya, mereka bukan hanya tertarik, tapi juga siap mental dan keterampilan,” tutup Abdul Halim.












