bernasnews – Puasa sunnah memiliki banyak keutamaan, mulai dari menghapus dosa hingga meningkatkan ketakwaan.
Namun, bagaimana hukumnya jika Puasa Senin-Kamis digabung dengan Puasa Daud? Ustadz Adi Hidayat dan Buya Yahya memberikan penjelasan lengkapnya di sini.
Bagi seorang muslim yang ingin meningkatkan kualitas ibadah, puasa sunnah menjadi pilihan yang tepat. Di antara yang paling populer adalah Puasa Senin-Kamis dan Puasa Daud.
Keduanya memiliki keutamaan luar biasa, namun muncul pertanyaan yang sering dilontarkan: apakah kedua jenis puasa ini bisa dikerjakan secara bersamaan?
Pertanyaan ini bukan sekadar teori, sebab banyak umat Islam yang ingin memaksimalkan amalan sunnah tanpa melanggar tuntunan syariat.
Jawaban atas hal ini pernah dijelaskan oleh dua ulama terkemuka, Ustadz Adi Hidayat (UAH) dan Buya Yahya.
Puasa Senin-Kamis adalah ibadah sunnah yang dilakukan setiap hari Senin dan Kamis. Rasulullah SAW memilih kedua hari tersebut karena pada hari Senin beliau dilahirkan dan amal manusia diangkat ke langit pada hari Senin dan Kamis.
Berpuasa di hari-hari itu menjadi momen spesial agar amal dihadapkan kepada Allah dalam keadaan berpuasa.
Keutamaan puasa ini tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan tubuh, seperti mengatur pola makan, memberi waktu istirahat bagi organ pencernaan, dan meningkatkan konsentrasi.
Mengenal Puasa Daud
Puasa Daud adalah puasa selang-seling, yakni sehari berpuasa dan sehari berikutnya tidak. Pola ini mengikuti amalan Nabi Daud AS yang dikenal sebagai bentuk puasa sunnah paling utama. Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada puasa yang lebih utama dari Puasa Daud. Ia berpuasa sehari dan berbuka sehari.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Keutamaan puasa ini bukan hanya pada pahalanya yang besar, tetapi juga mengajarkan keseimbangan antara ibadah dan menjaga hak tubuh untuk beristirahat.
Pendapat Ustadz Adi Hidayat: Urutannya Penting
Dalam salah satu ceramahnya yang diunggah di kanal YouTube @mqislam, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa bagi yang belum terbiasa, sebaiknya memulai dari puasa yang ringan.
Beliau menyarankan untuk memulai dengan Puasa Senin, lalu dilanjutkan Puasa Kamis, dan setelah itu menambahkan Puasa Ayyamul Bidh (tiga hari di pertengahan bulan hijriah). Setelah konsisten, barulah naik ke tingkat yang lebih tinggi, yakni Puasa Daud.
Menggabungkan Puasa Daud dan Puasa Senin-Kamis
UAH menegaskan bahwa Puasa Daud tidak bertentangan dengan Puasa Senin-Kamis. Jika jadwal keduanya bertepatan, pahala keduanya tetap akan diperoleh.
Misalnya, jika hari Kamis dalam siklus Puasa Daud bertepatan dengan hari berpuasa, maka pahala Puasa Senin-Kamis ikut tercatat.
Namun, jika pola Puasa Daud mengharuskan berbuka di hari Senin atau Kamis, tidak perlu memaksakan diri untuk tetap puasa hanya demi mengejar Senin-Kamis, sebab niat awal Puasa Daud sudah mencakup amalan sunnah tersebut.
Pandangan Buya Yahya: Tidak Ada Larangan
Buya Yahya menambahkan bahwa Puasa Daud boleh digabung dengan puasa sunnah lainnya, termasuk Senin-Kamis. Menurut beliau, Nabi Muhammad SAW tidak pernah melarangnya dan hukumnya tetap sunnah.
Beliau juga menekankan agar umat Islam tidak mempersulit diri dalam perkara sunnah. Jika belum mampu konsisten atau merasa berat, boleh berhenti sementara tanpa dosa. Yang penting adalah niat tulus untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menjalani ibadah sesuai kemampuan.
Panduan Praktis untuk Pemula
- Mulailah dari yang ringan – Senin-Kamis lebih mudah dijalani sebagai tahap awal.
- Naikkan level secara bertahap – Tambahkan Ayyamul Bidh setelah konsisten.
- Masuk ke Puasa Daud – Setelah tubuh dan mental terbiasa, baru terapkan pola selang-seling ini.
- Gabungkan dengan bijak – Jika jadwal bertepatan, niatkan keduanya sekaligus; jika tidak, ikuti pola utama yang dijalankan.
- Fokus pada niat – Semua puasa sunnah dilakukan semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar formalitas.
Menggabungkan Puasa Senin-Kamis dengan Puasa Daud boleh dan tidak dilarang. Kedua jenis puasa ini sama-sama mulia dan bisa saling melengkapi.
Ustadz Adi Hidayat menyarankan menjalankannya secara bertahap agar konsisten, sementara Buya Yahya menegaskan bahwa tidak ada larangan syar’i dalam menggabungkannya.
Selama niatnya benar dan dilakukan sesuai kemampuan, ibadah puasa sunnah ini akan menjadi amalan yang mendekatkan seorang muslim kepada Allah SWT, sekaligus melatih fisik dan mental untuk istiqamah dalam kebaikan.
***












