News  

Pidato Presiden Timor-Leste J. Ramos-Horta di UGM: Pendidikan, Kewirausahaan Sosial, dan Perdamaian Jadi Pilar Perubahan

J. Ramos-Horta, Presiden Timor-Leste sekaligus penerima Nobel Perdamaian, berbicara di depan mahasiswa dan civitas akademika Universitas Gadjah Mada dalam kunjungan resminya ke Yogyakarta, Rabu (31/7/2025). (Dok UGM)

bernasnews – Presiden Timor-Leste sekaligus peraih Nobel Perdamaian, J. Ramos-Horta, menyampaikan pidato penuh semangat dan inspirasi di hadapan pimpinan dan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu, 31 Juli 2025.

Ia menegaskan pentingnya pendidikan, kewirausahaan sosial, dan perdamaian sebagai fondasi perubahan sosial global.

Dalam kunjungannya yang keempat ke Yogyakarta dan kedua ke UGM, Ramos-Horta menghidupkan semangat pemberdayaan masyarakat melalui pidato reflektif dan membumi, yang ia sebut sebagai “catatan”.

Ramos-Horta membuka pidatonya dengan ucapan terima kasih kepada Dato Sri Prof. Tahir, Prof. Dr. Todung Mulya Lubis, dan Prof. Dr. Ova Emilia. Ia memuji UGM sebagai kampus kerakyatan yang telah menjadi rumah intelektual bagi ribuan warga Timor-Leste.

“UGM telah membentuk banyak generasi bangsa saya. Saya merasa terhormat kembali berdiri di kampus ini, di tengah semangat intelektual dan pengabdian yang nyata,” tegas Ramos-Horta dengan suara penuh wibawa.

Ia kemudian menyoroti program KKN-PPM (Kuliah Kerja Nyata – Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat) yang menurutnya merupakan model luar biasa integrasi akademik dan sosial yang patut direplikasi secara global.

Ia menyebut program ini sebagai inspirasi perubahan nyata dari ruang kuliah ke tengah masyarakat.

Menempatkan Rakyat sebagai Pusat Kebijakan

Dalam catatannya, Ramos-Horta menggambarkan perjalanan panjang hidupnya yang dipenuhi badai perjuangan dan momen-momen penuh rahmat.

Ia menekankan bahwa rakyat harus menjadi pusat semua perhatian dan kebijakan. Tanpa inklusivitas dan perlindungan terhadap semua warga negara, tidak akan pernah tercipta perdamaian yang sejati.

“Kita tidak bisa bicara perdamaian tanpa keadilan sosial. Kita tidak bisa bicara kemajuan tanpa mendengar suara mereka yang paling lemah,” ujarnya lantang.

Ia menyuarakan pentingnya perlindungan konstitusional, penghargaan terhadap keberagaman, dan keadilan dalam distribusi sumber daya. Ramos-Horta memperingatkan bahwa hilangnya bahasa lokal sama artinya dengan kehilangan roh leluhur yang tak tergantikan.

Kepemimpinan dan Masa Depan ASEAN

Dengan nada penuh kehangatan, Ramos-Horta membedah esensi kepemimpinan inspiratif. Ia menegaskan bahwa pemimpin sejati bukan hanya pemilik jabatan, melainkan sosok yang mampu menggerakkan hati, membangkitkan semangat, dan mengarahkan komunitas menuju masa depan yang adil dan damai.

Ia menekankan bahwa kepemimpinan sejati berakar pada empati, ketekunan, dan integritas. Menurutnya, seorang pemimpin harus memiliki visi yang realistis namun penuh harapan, serta mampu mendengarkan dan menghargai kearifan lokal.

“Pemimpin sejati hadir di tengah masyarakat, bukan di atasnya. Ia tidak memaksakan solusi, tapi menyemai kepercayaan,” tegasnya.

Ramos-Horta kemudian mengangkat kisah kebangkitan negaranya. Ia menceritakan bagaimana Timor-Leste bangkit dari reruntuhan konflik berdarah dan perlahan membangun kembali kehidupan masyarakat.

Ia memaparkan berbagai program kesehatan keliling, akses air bersih, hingga pendidikan vokasional sebagai contoh nyata dari perubahan sosial berbasis komunitas.

“Kami tidak memaksakan perubahan. Kami membangun perubahan itu bersama rakyat,” katanya penuh keyakinan.

Ia mengusulkan agar ASEAN mengadopsi model kepemimpinan komunitas seperti Tara Bandu—sebuah tradisi rekonsiliasi masyarakat di Timor-Leste—sebagai alat penyelesaian konflik dan transformasi sosial di kawasan Asia Tenggara.

Pendidikan, kewirausahaan sosial, dan perdamaian menjadi tiga gagasan utama dalam pidato tersebut. Ramos-Horta menyebut bahwa satu piring makanan bisa menentukan masa depan pendidikan seorang anak. Ia mendorong program makan di sekolah dan pembentukan Jaringan Universitas ASEAN untuk Transformasi Sosial.

Ia juga mengajukan pendirian Program Pemuda ASEAN untuk Kepemimpinan Transformasional yang berbasis magang komunitas, pertukaran budaya, dan laboratorium inovasi lokal.

“Perdamaian bukan sekadar ketiadaan konflik, tetapi kehadiran keadilan,” tegasnya. Ia mengusulkan pembentukan Pusat Studi Perdamaian dan Rekonsiliasi Komunitas di ASEAN.

Di bagian akhir, ia menyampaikan pesan khusus kepada mahasiswa agar menjadi pemimpin yang tidak hanya bertindak, tetapi juga mendengar.

“Setiap tindakan Anda bisa menciptakan perubahan abadi. Jangan remehkan langkah kecil di tengah masyarakat. Di sanalah perubahan besar berawal,” katanya.

Ramos-Horta menutup pidatonya dengan keyakinan akan masa depan bersama yang dibangun atas dasar mimpi, kerja keras, dan solidaritas lintas komunitas. (Eln)