bernasnews – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, kembali menegaskan komitmen kuat terhadap kemandirian pangan berbasis lokal.
Dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Pembangunan Daerah (Rakordal) Triwulan II Tahun 2025, ia meluncurkan gagasan besar. Lumbung Mataraman akan menjadi konsep transformasi ketahanan pangan berbasis budaya dan komunitas.
Bertempat di Gedhong Pracimasana, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Rakordal kali ini menjadi panggung strategis untuk membangun ketahanan dari akar rumput.
Pilar Ketahanan Pangan
Melansir dari tugujogja.id, Sri Sultan menyampaikan bahwa dunia tengah menuju krisis pangan global. Tekanan urbanisasi, alih fungsi lahan, serta perubahan iklim membuat pendekatan baru dalam ketahanan pangan menjadi mendesak.
“Pada 2050, penduduk dunia bisa mencapai 9,6 miliar. Sementara lahan produktif terus tergerus. Kita tak bisa hanya bergantung pada sistem pangan besar. Harus ada transformasi dari bawah, dari masyarakat sendiri,” tegas Sri Sultan.
Lumbung Mataraman, kata Sultan, bukan sekadar gudang pangan. Ini adalah sistem kehidupan yang mengintegrasikan pertanian, peternakan, perikanan, dan budaya lokal dalam satu ekosistem rumah tangga dan komunitas.
Prinsipnya adalah nandur opo sing dipangan, mangan opo sing ditandur (menanam apa yang dimakan, makan apa yang ditanam.
“Kita bukan cuma bicara swasembada, tapi kedaulatan pangan. Ketahanan harus tumbuh dari desa, dari budaya, dari keluarga,” imbuhnya.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap capaian DIY. Ia menyebut Yogyakarta sebagai salah satu provinsi yang kontribusinya paling nyata terhadap sektor pangan nasional.
“DIY berhasil meningkatkan ketersediaan pangan dan menyumbang lebih dari 14% terhadap PDB daerah. Angka ini jauh di atas rata-rata nasional,” ujar Menteri Amran.
Ia menilai Rakordal sebagai praktik baik yang layak menjadi contoh daerah lain, karena mampu menjadi cermin perkembangan ekonomi lintas sektor.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah daerah, petani, dan masyarakat menjadi kunci dalam mengantisipasi krisis dan menjaga kesinambungan produksi pangan.
Lumbung Mataraman
Rakordal kali ini mengangkat tema besar: Penguatan Ketahanan Pangan DIY melalui Transformasi dan Optimalisasi Lumbung Mataraman, yang juga sejalan dengan Rencana Pangan Nasional 2025–2029.
Sri Sultan menyebut DIY masih menghadapi tantangan serius, mulai dari rendahnya diversifikasi pangan bergizi, tingginya food loss, ancaman konversi lahan pertanian, hingga minimnya regenerasi petani muda.
Sebagai solusi, Pemda DIY mulai mengembangkan Lumbung Mataraman di tingkat kalurahan dan kelurahan. Program ini mendorong integrasi komoditas unggulan seperti padi, jagung, hortikultura, perikanan, dan peternakan ke dalam sistem komunitas yang tangguh secara sosial dan ekonomi.
Sri Sultan juga meminta para pemenang Lomba Kalurahan dan Kelurahan DIY 2025 untuk menjadi pelopor perubahan. Mereka akan memimpin transformasi pangan lokal demi menurunkan angka stunting dan menekan kemiskinan secara langsung dari desa.
“Saya ingin perubahan ini dipimpin dari bawah. Desa adalah titik tolak ketahanan, bukan gedung-gedung besar,” tegas Sri Sultan.***(Eln)












